Keanehan Apa yang Kamu Punya dan Membuat Orang Lain Ilfeel

Keanehan Apa yang Kamu Punya dan Membuat Orang Lain Ilfeel
Keanehan yang Membuat Ilfeel. Sumber gambar: pixabay.com

7 Hari Tantangan Menulis Basabasi Store (LINE @zog5070k)

Lahir sebagai anak terakhir dalam keluarga, kata orang sih, biasanya punya “keanehan” yang sulit ditoleransi orang lain. Jika anak pertama maupun anak tengah biasanya dipuji karena kematangan berpikir dan kematangan finansialnya, maka anak bungsu sangatlah susah untuk sampai ke tahap itu karena ya, kita (iya, saya maksudnya) nggak dibebani tanggung jawab menjadi tulang punggung, menjadi panutan pada adik-adik, menjadi mandiri dan bertanggung jawab pada diri sendiri. Memang tidak semua begitu, ini kan saya, dan segelintir anak bungsu di luar sana yang terlalu menikmati hidup. Tuh, cara berpikirnya saja egois. Udah bawaan lahir haha.

Tapi tunggu, kata orang, anak bungsu itu adalah muara dari segala curahan kasih sayang orang. Di keluarga saya, nggak berlaku. Anak pertama adalah paling kesayangan ibu saya. Yang masa depannya paling dipedulikan adalah dia, sampai jurusan kuliah pun yang maksa-maksa ibu saya biar dia jadi dokter. Lah saya, mana mau disuruh nurut kuliah sesuai keinginan Ibu. Yah, walaupun mungkin sekarang saya sudah jadi miliarder kalau masuk kuliah ekonomi. Cih, matematika payah kok mau masuk ekonomi.

Orang tua saya sebenarnya pengin banget punya anak laki-laki. Dalam tradisi Maindailing, anak laki-laki itu adalah simbol penerus keluarga. Nama marga turunnya nggak bisa lewat anak perempuan. Tapi orang tua saya tidak mempermasalahkan ketika saya lahir ternyata ya ternyata bukanlah bayi dengan penis. Hanya saja, saya punya sifat maskulin agak tinggi kadarnya. Ditambah lagi, sejak kecil saya tidak dipaksakan menjadi feminin yang suka main boneka, suka main masak-masakan.

Saya sering dibelikan mobil-mobilan, mulai dari model sedan klasik yang harus diseret ke belakang biar bisa melaju sendiri ke depan, mobil big foot yang bisa jungkir balik, mobil remote control yang belum nirkabel. Belum lagi pistol-pistolan, mulai yang bikin dari kertas, pistol air, yang ada lampu-lampunya, sampe yang pistol plastik mirip punya polisi. Saya bahkan mengincar pistol mainan yang ada pelurunya tapi nggak kesampaian beli karena harganya mahal, dan nggak bakalan deh dibeliin meski mintanya pake meraung-raung.

Saya dengan pengondisian seperti itu hampir pernah mengira saya seorang transgender. Semakin dewasa, saya mulai berkenalan dengan pengetahuan-pengetahuan seputar seksualitas. Saya membaca buku tentang teori inversi Sigmund Freud. Semakin ke sini, semakin saya sadar, saya bukan transgender yang merasa penempatan jiwa dan tubuh tidak selaras. Transeksual apalagi yang kelak akan berurusan dengan terapi hormon, operasi kelamin, dan sebagainya seumur hidup. Tidak, saya tidak berada di sana.

Saya menyukai sisi maskulin dalam diri saya. Itu seharusnya tidak dianggap sebagai kutukan. Karena saya berpikir, Tuhan tidak akan menciptakan manusia tanpa banyak variasi. Saya adalah salah satu variasi itu. Saya bisa mudah memahami cara berpikir seorang laki-laki dengan “anugerah” itu. Di sisi yang lain, saya pun memahami dunia berpikir perempuan karena secara de facto, ya saya perempuan. Itu kemudian berkembang hingga ke cara saya berpakaian, bicara, bersikap. Semacam ada sakelar feminin dan maskulin yang kapan pun bisa saya on dan off kapan pun saya mau. Kamu nggak punya, kan?

Banyak orang yang sering menyuruh saya untuk mau mengubah gaya berpakaian saya yang terlalu kelelaki-lakian. Termasuk ibu saya. Katanya saya tidak dapat jodoh ya gara-gara saya faktor itu. Sebagian besar baju saya warnanya hitam. Tiap hari pakai celana jin. Mana ada laki-laki yang mau? Saya kasih tahu ya, alasan saya tidak dekat dengan laki-laki karena saya tidak menginginkan itu. Kenapa lelaki membutuhkan perempuan? Karena maskulin membutuhkan feminin. Lelaki maskulin membutuhkan lelaki feminin. Itu lho konsep dasar daya tarik di antara manusia. Sementara saya punya dua sisi itu sekaligus dan sama kuatnya. Sejauh ini, saya merasa sudah terlengkapi. Tidak ada yang kurang dengan diri saya. Imbasnya adalah sudah dapat jodoh blablabla.

Orang lain hanya melihat di permukaan tanpa merasa perlu tahu inti permasalahannya apa. Kalaupun tahu, mereka belum tentu benar-benar mengerti. Banyak hal di dunia ini yang mau kau sampai kuliah di Mars pun takkan mampu kau pahami. Let it be.

Mau ilfeel ya silakan deh, yang penting saya bisa menikmati hidup dan baik-baik saja. Kamu baik-baik saja, nggak?

 

Jogja, 27 Juli 2017

Nisrina Lubis

Nisrina Lubis

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response