Kebuh Teh Tritis Kulonprogo Tawarkan Hawa Sejuk Sepanjang Hari

Kebuh Teh Tritis Kulonprogo Tawarkan Hawa Sejuk Sepanjang Hari |

Kebuh Teh Tritis Tawarkan Hawa Sejuk Sepanjang Hari
Sumber gambar: TapakRantau

Setelah mendapatkan arah menuju Kebun Teh Tritis, kami pun melanjutkan perjalanan. Jalan yang kami lewati merupakan jalanan alternatif dari Puncak Suralaya, aspalnya masih terlihat baru dengan warna lebih gelap dan tekturnya kasar. Sepertinya untuk menutupi bagian yang banyak lubangnya. Si pemilik warung sudah mangatakan sejak awal, jarak yang kami tempuh cukup jauh, sekitar 15 menit. Kenyataannya kami 30 menit baru sampai tujuan. Jika masih belum puas menjajal aspal sempit dengan jurang-jurang yang siap melahap pengendara yang lalai, cobalah rute yang kami lewati ini. Godaan pemandangan membuat saya kami sesekali melambatkan laju kendaraan. Indah, namun kami enggan berhenti untuk mengambil gambar.

Kampas rem motor saya sepertinya banyak habis untuk perjalanan ini. Beberapa titik, aspalnya bergelombang dan rasanya motor seperti hampir mau jatuh namun dapat dikendalikan. Saya menyiagakan 2 kaki di saat lubang-lubang menanti di depan sana. Mas Adi pun juga sering menurunkan kaki untuk menjaga keseimbangan.

Apakah saya deg-degan dengan rute ini? Banget. terlebih dari lawan arah kami sering berpapasan dengan mobil sehingga harus menepi sementara terlalu ke tepi juga membuat saya menahan napas. Ada kalanya saya harus memakai gigi 1 karena gigi 2 tidak kuat menarik mesin. Mas Adi karena memakai motor matic, mana ambil pusing.

Begitu tiba, kami shalat Zhuhur barulah naik ke Kebuh Teh Tritis yang dikelola oleh Kelompok Usaha Bersama (KUB) Menoreh Jaya. Kami diberikan ruang untuk shalat di kantor sekretariat yang dijaga seorang ibu yang tidak bisa berbahasa Indonesia. Untungnya Mas Ada dan Mas Parno adalah orang Jawa sehingga bisa bercakap-cakap dengannya.

Kebuh Teh Tritis Tawarkan Hawa Sejuk Sepanjang Hari
Sumber gambar: TapakRantau

Kebun Teh Tritis tidaklah seluas kebun teh di Ungaran. Kami pun tidak perlu menempuh perjalanan jauh untuk sampai ke sana. Selain kami ada satu rombongan lain. Sebuah gapura bertuliskan Pintu Masuk Puncak Kemadon kami lewati. Anak-anak tangga yang landai bersemen mengantarkan perjalanan kami yang tidak begitu panjang. Segar betul udaranya. Saya melepas jaket, sebab baju saja sudah basah keringat sedari Puncak Suralaya.

Kami berada di sana pukul 1 siang, tapi sejuknya udara seakan masih pagi hari. Jalan setapak kami ikuti hingga berakhir di gazebo paling ujung. Ada satu gardu pandang terbuat dari bambu, tapi saya tidak berani menaikinya karena kesan rapuh. Tidak jauh dari kami ada 2 tandon air besar, untuk kebutuhan air minum. Air di sini juga sangat dingin.

Sayangnya, di tempat semenyenangkan ini, tidak ada penjual minuman atau makanan. Kami harus membawa bekal sendiri atau memesan di sikretarian, jika tidak mau kelaparan dan kehausan. Berbeda halnya jika mengunjungi Kebun Teh Nglinggo, masih di Samigaluh juga, di sana karena pengunjung sangat banyak, mudah menemukan penjual makanan dan minuman.

Kebuh Teh Tritis Tawarkan Hawa Sejuk Sepanjang Hari
Sumber gambar: TapakRantau

Bagi para muda mudi, jangan sampai ketinggalan berpoto dengan papan-papan yang disediakan di gazebo terujung. Ada yang bertuliskan Demi Kami, Restuilah Kami, hingga Aku Wis Move on Seko Koe. Tapi papannya jangan sampai dibawa pulang ya.

Untuk harga tiket masuk Kebuh Teh Tritis, cukup membayar 2.000 yang difungsikan sebagai biaya merawat kebun teh ini.

Baca juga perjalanan saya ke Gunung Kendil.

 

Jogja, 22 Januari 2017

Leave a Response