Hari 3: Seberapa Besar Kamu Pernah Kehilangan Sesuatu? #7DaysKF

Hari 3 Seberapa Besar Kamu Pernah Kehilangan Sesuatu
Kehilangan Sesuatu. Sumber gambar: pixabay.com

Tema hari ke-3 tantangan menulisnya adalah membicarakan sesuatu yang “besar”. Kenapa saya beri tanda kutip? Sebenarnya saya masih mencerna pertanyaannya terlebih dahulu. Jawaban seperti apa juga yang diharapkan si Momon dari tema absurdnya tersebut? Semisal, seberapa besar kamu pernah kehilangan sesuatu, apakah saya harus menyebutkan detail objeknya, atau lebih kepada seberapa besar reaksi yang saya berikan dari kehilangan tersebut? Demikian pula jika saya memilih kehilangan seseorang.

Maka saya memilih untuk kehilangan sesuatu untuk tantangan menulis kali ini. Objek kasatmata atau tak kasatmata? Saya pilih yang tak kasatmata. Kehilangan materi hanya akan membuat saya terkesan seseorang yang ceroboh terhadap barang-barang milik sendiri.

Pilihan saya jatuh pada rasa nyaman. Nah, saya yakin, situasi ini juga sering dialami banyak orang di luar sana. Pada satu titik, apa yang kita miliki menjadi tidak berarti ketika si rasa nyaman telah musnah. Tinggal dalam Istana Buckingham pun rasa-rasanya seperti di dalam tahanan. Dia adalah rasa yang tidak terdeteksi oleh pancaindra, parameter kenyamanan adalah hati. Dia melayang-layang di sekitar kita, menempel pada objek-objek kasatmata, pada teman, pada kekasih hati, pada lingkungan tetangga, bahkan pada buku yang kita sukai, setiap kali berinteraksi maupun bersentuhan dengannya.

Rasa nyaman juga merupakan pemicu seseorang untuk mengambil langkah-langkah dalam hidupnya. Sudah merasa nyaman dengan apa yang dimiliki sekarang? Masih kurang nyaman dengan apa yang ada di tangan? Sudah nyaman tapi ingin mencari yang jauh lebih nyaman? Atau, terlalu nyaman sehingga itu justru menjadi situasi yang tidak mengenakkan? Ketidakpuasan-ketidakpuasan bukanlah lagi sesuatu yang membatasi ruang gerak menuju sesuatu yang belum tergenggam di tangan sendiri. Hidup menjadi dinamis dengan hadirnya si rasa nyaman.

Rasa nyaman saya terusik ketika saya mengalami kesulitan tidur di malam hari. Tiba di fase itu, maka ketidaknyamanan akan merembet pada aspek-aspek lain, termasuk mood untuk menjalani keesokan harinya. Tidur merupakan rutinitas tubuh di mana aktivitas regenerasi sel harus dilakukan setelah seharian berada dalam posisi aktif. Kita bisa saja tidur di siang hari dan melek sepanjang malam, tapi proses pembaruan itu tidak akan berpindah jam. Kita tidak tidur siang, tidak akan menciptakan lingkaran hitam di sekitar mata, kan? Sudah tidur siang pun, serangan kantuk di malam hari juga tetap datang kan?

Ada fase dalam hidup di mana saya merasa diserang kepanikan kecil saat tidak bisa tidur meskipun telah menggunakan perangsang tidur. Jangan berpikir ke mana-mana dulu deh. Perangsang tidur saya bukan obat-obatan kok, tapi olahraga. Biasanya, seringan apa pun olahraga yang saya lakukan, itu akan berujung pada rasa ngantuk yang signifikan. Tapi itu tidak terjadi. Sehingga saya mengecek ponsel yang saya fungsikan khusus untuk melihat waktu. Semakin larut dan larut, otak saya tidak mampu membawa saya kepada fase deep sleep. Boro-boro deep sleep, mulai tidur saja belum.

Saya benci fase itu. Karena di hari berikutnya, rasa ngantuk memaksa saya untuk membayar utang jauh lebih banyak dari jatah tidur. Tidur normal saya hanya 5-6 jam, akhirnya bisa 10-12 jam. Itu pun rasanya ada sesuatu yang kurang. Setelah satu aktivitas kecil, rasanya cuma mau tidur lagi. Dan saya memantangkan diri untuk berolahraga di saat kurang tidur karena konsentrasi tidak berada pada level seharusnya, asam lambung juga berada pada kadar tinggi.

Tapi, mungkinkah kita bisa menghindari masalah demi selalu berada dalam rasa nyaman? Rasanya sulit sekali. Yang bisa dilakukan adalah menempatkan masalah pada porsi yang tepat. Suatu saat, badai pasti akan berlalu, kan?

Bagaimana dengan kamu?

 

Jogja, 13 Juni 2017

 

Leave a Response