Kesaksian Ia yang Direnggut dari Tuannya; Kisah si Jas Almamater yang Menjadi Saksi Bisu

Kesaksian Ia yang Direnggut dari Tuannya, pada Hari Itu, saat Langit Murung dan Jalanan Berwarna Merah; Kisah si Jas Almamater yang Menjadi Saksi Bisu
Kesaksian Ia yang Direnggut. Sumber gambar: pixabay.com

Kesaksian Ia yang Direnggut dari Tuannya, pada Hari Itu, saat Langit Murung dan Jalanan Berwarna Merah; Kisah si Jas Almamater yang Menjadi Saksi Bisu. Berhubung judulnya sangat panjang, saya singkat saja menjadi Kesaksian Ia yang Direnggut dari Tuannya. Ditulis oleh Fakhri Cahyono. Sebagai pembuka dari antologi bertema tragedi-tragedi kemanusiaan tahun 1998, cerpen ini menyasar beberapa 2 objek besar, yaitu militer yang merasa tidak puas dengan penguasa yang sudah terlalu lama berkuasa dan etnis Cina yang menjadi tumbal untuk mengegolkan tujuan penggulingan kekuasaan tersebut.

“Tidak bisa!” Genggaman tangan kanannya melayang-layang di udara, beberapa saat. “Orang tua itu sudah terlalu tua. Sudah pikun.”  Genggaman tangan mulai terbuka dan mendarat pelan di atas meja. “Sudah tidak bisa mengambil keputusan dengan baik.”

Terdengar bisik-bisik dari beberapa seragam hijau lain. Namun mereka bersegera diam karena rapat masih berjalan, meski bukan rapat formal. Di luar jendela, langit makin hitam dan angin yang sebelumnya tenang kini terasa gemetar.

Kudeta kekuasaan bukanlah perkara mudah untuk dilakukan. Butuh perencanaan panjang tentang pelaksanaan, target yang bisa dimanfaatkan untuk mempermudah kudeta, lalu siapa yang berkuasa setelah penguasa turun tahta.

“Ganti saja,” pungkas orang beralis tebal dan rahang tegas itu.

“Dengan cara?” tanya salah satu peserta rapat.

“Massa.”

“Kalau pakai massa, yang pertama dikejar itu si putih,” timpal yang lain.

Dari sudut pandang jas almamater yang amat mencintai si pemiliknya, mengalirkan sebuah cerita betapa kudeta yang telah direncanakan itu memicu demonstrasi besar-besaran para mahasiswa. Tentu saja, ini tidak terjadi begitu saja. Ada provokasi-provokasi, ketidakstablikan sosial-ekonomi yang berlanjut bertahun-tahun dan memuncak hingga tahap krisis moneter. Semua orang merasa gerah dengan kondisi yang tidak menyenangkan. Tentu saja menjadi tidak adil ketika dampak dari kecemburuan sosial kepada sekelompok orang melebar menjadi kebencian akan ras tertentu.

Si seragam berasal dari Universitas Tarumanegara. Dia menjadi saksi ketika demonstrasi dipecahkan oleh gas air mata yang membuyarkan kerumunan dari berbagai sejumlah perguruan tinggi terkemuka, tidak hanya di Jakarta, dari kota-kota lainnya pun berdatangan.

Penceritaan dibuat berselang-seling antara pergerakan militer yang melepaskan seragam-seragam identik mereka untuk memancing lebih banyak reaksi massa dan kecemasan yang mulai menghinggapi orang-orang di sekitar si gadis beretnis Cina. Bahwa menjadi mahasiswa dan beretnis Cina adalah dua hal pada waktu itu rentan dengan risiko kehilangan nyawa.

Si jas almamater terus menceritakan apa yang dilihatnya hingga klimaks dirinya dilepaskan secara paksa dari si pemilik yang selama ini dia lindungi. Jas yang menjadi identitas tiap kampus bernama baik, akhirnya ternoda oleh pihak-pihak yang terobsesi akan sebuah kekuasaan. Setelah tujuan itu tercapai lalu dicampakkan begitu saja. Si jas almamater adalah saksi hanya bisa membisu dan terus begitu.

Sial! Dua pasang tangan sudah mencengkeram lenganku dan gadisku. Gadisku meronta dan mulutnya sudah dibungkam. Aku berteriak sekeras mungkin. Detik selanjutnya aku menyadari kebodohanku.

Bangsat! Apa yang mereka lakukan? Siapa pun, hentikan mereka! Mereka merenggutku! Aku tak ingin berpisah dari gadisku! Sial! Gadisku masih meronta sekuat yang ia bisa dan aku tidak bisa apa-apa.
Manusia!

Jas almamater memang tidak bisa bicara dan memuntahkan kesaksiannya. Tapi banyak manusia yang menjadi saksi tragedi memilih untuk bungkam hingga bertahun-tahun. Sebab bicara butuh lebih dari sekadar keberanian.

 

Catatan:

Sebutan etnis Cina dalam beberapa cerpen di antologi ini memang tidak tepat mengingat banyak para korbannya adalah warga negara Indonesia.

 

Jogja, 8 April 2017

Nisrina Lubis

Nisrina Lubis

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response