Suatu pagi, saya dikirimi oleh seorang teman sesama movie goer, screen capture sebuah berita besar bagi saya—meski kolomnya kecil—dari Kompas tertanggal 19 Agustus 2015 dengan headline: Diblokir, 21 Situs Pembajak Film Nasional. Pesan yang terkirim lewat WA itu lalu saya telaah baik-baik, terutama list 21 situs nahas yang menjadi korbannya. Jika Anda seorang penikmat dan kolektor film bajakan—semacam saya—pencantuman situs Ganool memang bikin shock.

Ketika Ganool dan 20 Situs Pembajak Film Dibantai Pemerintah

Ketika Ganool dan 20 Situs Pembajak Film Dibantai Pemerintah

Asal muasal pemblokiran ini adalah adanya laporan terhadap 25 film kategori laris yang dibajak massal situs-situs tersebut, oleh para produser yang tergabung dalam Aprofi (Asosiasi Produser Film Indonesia). Dengan berbekal UU nomor 28 tahun 2014 Tentang Hak Cipta dan Peraturan Bersama Menkumham no. 14 Tahun 2015 dan Menkominfo No. 26 Tahun 2015 Tentang Pelaksanaan Penutupan Konten dan/atau Hak Akses Pengguna Pelanggaran Hal Cipta dan/atau Hak Terkait dalam Sistem Elektronik, maka eksekusi pun dilakukan serentak. Jika ingin membaca lebih lanjut silakan akses media yang bersangkutan.

Sebagai penikmat film di negara yang memiliki sistem sensor cukup keras, film bajakan adalah alternatif yang bisa dipakai untuk memuaskan hasrat menonton hasil karya sineas tanah air dunia. Bayangkan saja, ketika dunia dihebohkan oleh film 50 Shades of Grey, publik Indonesia cuma bisa manyun karena lembaga sensor semacam kelelahan memotong-motong adegan terlarang dua anak manusia yang jatuh cinta hingga mengharamkan pemutarannya di seluruh bioskop nasional. Tidak hanya itu. Noah dianggap menyimpang dari ajaran Injil. True Lies yang menggambarkan orang Arab sebagai teroris. Schindler List yang menyoroti kekejaman NAZI pada kaum Yahudi. The Year of Living Dangerously yang mengangkat peristiwa G 30 S. Balibo Five yang mengangkat kasus baku tembak dan menewaskan lima jurnalis di perbatasan Timur Leste.[1]

Jika di bioskop film-film “berbahaya” itu dilarang diputar, di mana lagi kalau bukan dari situs bajakan film sebagai substitusinya Mengapa sepertinya pemerintah begitu takut film-film tersebut dapat menjadi alat cuci otak sehingga dilarang edar? Padahal, saya rasa orang Indonesia sudah terbilang cerdas untuk memilih mana yang akan diikuti dan mana tidak.

Taylor Swift dan album 1989

Taylor Swift dan album 1989

Alasan pemblokiran Ganool dan kawan-kawannya adalah karena adanya laporan dari para produser yang merasa dirugikan oleh hadirnya film-film laris Indonesia-sekali lagi, film Indonesia aja lho, Masbro—di situs-situs tersebut. Lalu mengapa seluruh situsnya diblokir? Mengapa tidak 25 judul itu tadi yang linknya langsung dihapus demi menuruti komplain tadi? Kalau di luar negeri sana, yang saya tahu, kalau ingin melindungi hak cipta adalah dengan melakukan pemblokiran terhadap link untuk diunduh. Semisal, sewaktu saya mencari bocoran album 1989 Taylor Swift sebelum jadwal rilis resmi, susahnya minta ampun. Bahkan link yang baru 1 jam sudah langsung terdeteksi oleh pihak manajemen Swift. Yeah, berhubung saya orangnya pantang menyerah, tetep dapat juga sih versi bajakannya. Saran saya kepada para produser film, mohon jaga produknya baik-baik. Bocor ke internet pasti ada yang membocorkan. Dan kalau sudah bocor, ada dua pilihan, ikhlaskan atau ambil langkah proaktif.

Sebelum ini, pemerintah sudah pernah memblokir situs-situs yang dianggap radikal, tapi memang tidak berlaku rata, lagi-lagi hanya yang dianggap berbahaya, bernuansa agama. Masih banyak situs-situs lain yang berpotensi “bahaya” tapi masih dibiarkan. Situs-situs gosip—yang jelas-jelas tidak bermutu dan mengandung fitnah (ingat, fitnah lebih kejam dari pembunuhan)—masih dibiarkan bebas akses. Situs-situs porno juga tidak alangkah luar biasa banyaknya. Situs toko online yang isinya penipuan tidak diblokir saja ketimbang korban terus bertambah. Facebook tidak dilarang padahal para jomblo semacam mendapat angin segar memamerkan kegalauannya secara masif. Instagram tidak diblokir padahal di sanalah orang banyak memamerkan diri, baju, harta, makanan, tato, pacar, anak, suami, paman, bibi, dan sebagainya. Bahkan menurut seorang ustadz kondang, berselfie memicu kecenderungan TRU (takabur, riya, ujub).

Sejatinya, adil itu bukan hanya untuk para pria yang ingin berpoligami, tapi juga kebijakan pemerintah agar rakyat akhirnya bisa mempercayai negaranya sendiri dan tidak melulu mencari kebanggaan dari negara lain. Miris.  Udah 70 tahun seharusnya makin dewasa dalam bersikap dong.

 

Jogja, 20 Agustus 2015

[1] Wartainfo.com.