King Cobra (2016); Kisah Tragis di Balik Dunia Video Porno Gay

in Film/Film LGBT by
King Cobra (2016); Kisah Tragis di Balik Dunia Video Porno Gay
King Cobra (2016). Sumber gambar: IMDB.

King Cobra memenangkan kategori Best Directore di California Independent Film Festival 2016. Dirilis di Amerika Serikat pada 21 October 2016, film berdurasi 91 menit ini memang bukan santapan bagi kalangan luas. Hanya mereka yang tertarik dengan gay culture saja yang kemungkinan mau nonton, selain yang telanjur berharap ini adalah film tentang dunia ular berbisa lalu penasaran kenapa si ular berbisa tidak kunjung muncul.

King Cobra diangkat dari kisah nyata dari buku berjudul Cobra Killer: Gay Porn, Murder, and the Manhunt to Bring the Killers to Justice karangan Andrew E. Stoner dan Peter A. Conway.

Saya mendapatkan judul ini sebagai salah satu yang disarankan oleh IMDB berhubung saya mencari film-film gay terbaru. Dari sekian banyak judul, ini adalah salah satunya yang bajakannya sudah tersedia dalam bentuk torrent lengkap dengan subtitle berbahasa Inggris.

James Franco (Oz the Great and Powerful) yang memegang peran kecil, sebelumnya sudah banyak kali memainkan karakter gay, sebut saja Milk, Interior. Leather. Bar., Howl, dan I Am Michael. Terlepas apakah dia memang gay atau tipe yang menyukai tantangan peran. Kali ini dia berperan sebagai Joe, seorang produser video porno gay Viper-Boyz dan mengelola situs, yang dari sanalah dia dan Harlow mendulang kekayaan. Harlow selain menjadi ikon video porno gay yang berbadan bagus dan yang “di atas” juga kekasih Joe yang punya masa lalu buruk dengan ayah tirinya. Dia merupakan korban perkosaan sang ayah tiri.

Lalu, tokoh utama dipegang oleh Stephen (Christian Slater) produser dari King Cobra. Usianya tidak lagi muda, tapi video-video garapannya selalu mendulang keuntungan besar. Model-modelnya pria pilihannya memang tidak sembarangan. Termasuk Sean Paul Lockhart atau Brent Corrigan (Garrett Clayton-The Fosters). Sean adalah pemuda 18 tahun yang tanpa ragu menjual tubuhnya untuk dieksploitasi secara seksual oleh Stephen. Dengan memakai alasan magang film, dia selama beberapa waktu tinggal bersama Stephen. Kontrak kerja pun dia tanda tangani. Tentu saja ini kerja profesional.

Brent menjadi anak emas Stephen. Wajahnya yang imut lagi polos, tubuhnya yang menggoda, tatapan matanya yang genit, dan paling penting mudah diarahkan untuk berbagai adegan adalah satu paket lengkap. Video-video yang dibintanginya tidak ada yang sepi. Lawan mainnya adalah pemuda-pemuda yang beberapa tahun di atas Brent, salah satunya menjalin hubungan dengannya. Brent dan Stephen juga bercinta, tapi usia memang tidak bisa bohong. Permainan cinta Stephen tidak terlalu lama dan memuaskan, sebut saja begitu.

Lelah bekerja menjual diri tapi bayarannya tidak sebesar yang diharapkannya, bahkan Brent tahu bahan keuntungan yang dikantongi Stephen berkali-kali lipat hingga dia mampu membeli mobil baru, mendorong Brent untuk meninggalkan King Cobra. Sayangnya, dia tidak tahu jika nama Brent telah dipatenkan oleh Stephen. Artinya, Sean harus memulai dari awal dengan nama baru, dan tidak ada satu pun produser yang mau. Itu sama saja mengorbitkan artis baru. Joe pun berpendapat sama.

Kesal dengan sikap Stephen, Brent mengancam akan melapor ke polisi bahwa dirinya masih berusia 17 tahun, dan dia memalsukan umur. Stephen otomatis akan terancam terjerat kasus mempekerjakan anak di bawah umur. Nah, konflik pun memuncak. Meski masih belia, Brent punya keberanian untuk menghancurkan Stephen. Joe yang sudah patah arang pun mengambil jalan pintas dengan melenyapkan Stephen yang bersikeras tidak mau melepas Brent. Meski berklimaks dengan adegan berdarah-darah, film King Cobra ditutup dengan sebuah pesan tersirat: life must go on.

Trailer King Cobra:

Jogja , 3 Desember 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*