Komedi-Tragedi; Kisah Sekoloni Bakteri yang Diduga Telah Merusak Otak dan Hati Manusia

Komedi-Tragedi; Kisah Sekoloni Bakteri yang Diduga Telah Merusak Otak dan Hati Manusia
Komedi-Tragedi. Sumber gambar: pixabay.com

Salah satu cerpen yang menghadirkan transisi realisme dan absurdisme ada pada karya Farrahnanda berjudul Komedi-Tragedi. Bahasa penceritaan sepanjang cerita ini bernuansa komedi dan akan membuat kita tersenyum-senyum dengan tingkat sekoloni bakteri dari luar angkasa.

Spesies ribuan koloni bakteri itu nggak ada di bumi, tapi spesies yang satu genus dengan bakteri Guvbznetnevgn[1] eksogalaksiensis ini, ada di Namibia—barangkali mereka memang saudara jauh yang terpisah planet. Ukuran mereka sekitar 500 sampai 700 mikron.

Ada piring terbang jatuh di halaman belakang Istana Mahardika pada suatu malam, pada tanggal tak tercatat karena tak ada yang tahu menyoal piring terbang ini kecuali Tuhan. Ukurannya sungguhan sebesar piring. Itu, piring yang biasa kau pakai buat makan.

Konon, piring terbang itu jatuh di istana yang dihuni sang Prisiden bersama keluarganya dan para stafnya yang setia hingga 31 tahun lamanya. Jika satu bakteri berukuran 500 sampai 700 mikron (dan pastinya hanya bisa dilihat menggunakan mikroskop) pesawat koloni yang sebesar piring tentunya sangat raksasa. Di dalamnya termuat jutaan bakteri penyebab rasa gatal pada inang yang mereka sentuh. Berhubung bakteri ini masih baru, kalaupun telah terdeteksi manusia sebab satu genus dengan bakteri asal Namibia Guvbznetnevgn eksogalaksiensis, belum ada formula untuk menolak bakteri yang hanya numpang lewat tersebut. Maka kedatangan mereka menjadi sebuah bencana kecil di dalam istana, pada awalnya, kemudian mereka berpindah pada rakyat kebanyakan.

Bakteri-bakteri itu berduyun-duyun turun. Mereka mengamati sekitar. Ini bukan destinasi wisata kita, protes satu dari sekian disusul Wuu! Wuu! Wuu! yang lain. Kapten bakteri menenangkan amukan massa bakteri, “Kalian main-main sejenak, biar aku dan para teknisi memperbaiki pesawat. Nanti habis matahari terbenam kalian kembali ke sini, kita lanjut perjalanan.”

Jadi begitulah; bakteri-bakteri itu jalan, lari, sprint, maraton, salto, kayang, lempar cakram, aerobik, salsa, samba, tiptoe, dan mengembara. Mereka menikmati tempat yang sebetulnya menurut mereka jelek—tapi yah daripada mati bosan.

Berhubung ini adalah bakteri, bukan godaan setan terkutuk dan bisa ditepis oleh kekuatan iman, maka dampak kegatelan dari bakteri yang iseng-iseng mengisi waktu agar tidak mati bosan menunggu pesawat angkasa mereka selesai dibereskan dan bisa melanjutkan perjalanan ke tempat tujuan wisata sebenarnya, tak mampu ditolak mentah-mentah. Mereka merayap cepat dari kaki, ke atas, terus ke atas, menciumi bagian tubuh manusia yang bau, sampai ke bagian paling vital, otak.

Ribuan koloni bakteri Guvbznetnevgn eksogalaksiensis makin membabi buta. The city is at war // playtime for the young and rich. Mereka berhamburan ke jalan, mengincar raksasa-raksasa untuk dijadikan inang. Mereka meloncat hup! memanjat celana, merayap ke baju, naik ke bahu, masuk ke kuping, menduduki otak raksasa.

Manusia yang telah disusupi bakteri asing ini berubah menjadi monster jahat yang kehilangan akal sehatnya. Kejahatan yang tak pernah terpikirkan, mereka lakukan dengan sadar. Di bawah kendali si bakteri yang sudah pergi jauh namun masih menyisakan rasa gatal. Kebencian pada etnis tertentu, kecemburuan ekonomi, penjarahan, pembunuhan, pemerkosaan massal tumbuh secara masif tak tercegah. Dalam waktu kurang dari sehari, aura negativisme merajalela.

Kisah keisengan para bakteri ini tercipta dalam kisah Jan yang sedang berkejaran dengan deadline untuk pengumpulan cerpen.

“Aku ingin menulis tentang sebuah UFO berisi satu batalion alien mabuk jatuh di dekat Stasiun Jatinegara pada Mei 1998; dan itulah penyebab kerusuhan yang bikin gempar. Tapi aku mengurungkan niat. Sebab aku tahu orang-orang Indonesia belakangan kehabisan imajinasi untuk bersenang-senang. Buntutnya pasti panjang, aku bakal kena tuduhan menistakan sejarah—tapi apa lagi yang bisa dituliskan bocah perempuan yang belum genap 22 tahun yang pada kerusuhan itu terjadi pakai kancut pun masih terbalik dan merengek dibikinkan susu dalam keadaan kancut terbalik itu tanpa mau posisi kancut diubah?”

Itulah adalah ide awal yang ingin dituliskan Jan sebelum akhirnya memilih bakteri penyebab gatal pada tubuh raksasa. Manusia terlihat sebagai raksasa di mata bakteri. Jika Jan memilih zombie, maka jadilah cerpen ini seperti The Walking Dead yang mengubah seluruh penduduk menjadi makhluk yang bangkit dari kematian. Jan sebagai seorang penulis rupanya menyadari bahwa Indonesia bukanlah penganut free country, di mana orang-orangnya masih sangat sensitif meski hanya pada sebuah kisah rekaan. Karya seni selalu menjadi objek yang dipandang sinis jika “melanggar moral”, termasuk tulisan.

“…Sebagai perempuan aku bisa berempati bagaimana seandainya aku diperkosa atau diperkosa bergilir. Aku mungkin tahu rasanya—tapi aku nggak akan benar-benar paham.”

Banyak mungkin orang di luar sana yang berpendapat sama seperti Jan bahwa segala cerita akan lebih hidup jika itu dialami sendiri. Padahal tentu saja banyak penulis besar yang tidak lain adalah pengamat yang jeli. Mereka bisa menulis kisah pembunuhan, tanpa harus membunuh. Mereka bisa mengangkat kisah seorang penguasa zhalim tanpa lebih dulu menikmati singgasana kekuasaan. Termasuk dengan kisah pemerkosaan. Boleh jadi, para penyintas kasus pelecehan seksual memilih untuk tidak menceritakan kisah pahitnya dan orang-orang lainlah yang menuliskannya, membahasakannya dengan taburan bumbu-bumbu fiktif. Lelaki pun juga bisa menuliskan kisah perkosaan dari sudut pandangnya. Tahap “benar-benar paham” seperti yang diharapkan Jan tentu saja sulit untuk diukur dengan parameter ilmiah. Perasaan tidak punya parameter, bukan?

Jan hidup bertetangga dengan pemabuk dan penjudi togel yang membuat konsentrasi menulisnya terusik.

Bel canto! Bel canto!” Jeritan dari rumah tetangga memecah konsentrasi Jan. “Gue bilang lihat baik-baik itu kertas ada guna, tahu!”

Rumah yang hanya dipisahkan gang selebar tiga meter sungguh tidak nyaman.

Keributan si tetangga sebelah membuyarkan konsentrasi menulis Jan yang asyik dengan para bakteri iseng. Saya jadi teringat dengan beberapa cerpen Seno Gumira Ajidarma, di mana si tokoh pun hidup bertetangga dan bisa mendengar setiap pertengkaran yang terjadi karena tembok rumah yang teramat berdekatan. Tidak hanya pertengkaran, suara-suara rang bercinta pun bisa dikupingi kalau kurang kerjaan.

Meski cukup terusik, Jan bisa menyelesaikan kisahnya dalam waktu hanya sekitar 3 jam. Sebuah kisah tentang tragedi 98 yang dibawa ke dalam alam absurdisme, menyalahkan bakteri sebagai penyebab terjadinya kerusuhan dan hilangnya tingkat kesadaran (kewarasan) kemanusiaan manusia.

Komedi-Tragedi menghadirkan cerita yang terbilang unik dan menghibur.

[1] Diambil dari nama bakteri Thiomargarita Namibiensis, menggunakan sandi sistem Caesar A = N.

 

Jogja, 18 April 2017

Leave a Response