Kritik di Media Sosial: Semut Lebih Besar dari Gajah

Satu pertanyaan yang sempat terpikirkan oleh saya jika melihat komentar—yang terlontar oleh seseorang untuk sesuatu hal atau menanggapi komentar sebelumnya—bernada pedas atau dibuat seolah ceplas-ceplos tanpa dipertimbangkan terlebih dahulu baik buruknya: apakah untungnya? Seseorang bisa saja salah menuliskan sesuatu—hal kecil sebenarnya—lalu ditimpali dengan komentar yang sifatnya menjatuhkan, seolah kesalahan itu teramat besar dan orang yang melakukan kesalahan itu benar-benar punya kecerdasan di bawah rata-rata, kesalahan itu memalukan dan si pembuat kesalahan adalah blablabla.

 

Kritik di Media Sosial: Semut Lebih Besar dari Gajah
Sumber gambar: soulthinks.com

Apa susahnya meralat kesalahan itu dengan cara baik-baik? Bukanlah memuliakan orang lain itu sungguh disukai Tuhan? Jika Tuhan saja menganggap manusia adalah makhluk yang lebih baik ketimbang malaikat dan iblis, mengapa sesama manusia merasa lebih dari itu.

Media sosial adalah sebuah wadah komunikasi massa yang amat terbuka. Apa pun itu, facebook, twitter, google+, blogger, wordpress, kompasiana, dan sebagainya. Lebih mudah untuk berbagi informasi maupun opini. Ada media-media yang memang mengkhususkan dirinya sebagai ladang opini yang memberikan pandangan tentang politik, agama, keberagaman, sosial, sampai dunia hiburan. Di sinilah tempat bermunculannya mereka yang sesungguhnya peduli dengan kondisi negara, menelaah begitu banyak informasi, memberikan perbandingan, dan sampai pada kesimpulan.

Kritik di Media Sosial: Sebab Semut Lebih Besar dari Gajah
Sumber gambar sitimustiani.com

Sampai di sana, semuanya baik-baik saja, hingga ada kesalahan kecil terlambat disadari bagian penyunting hingga keburu diposting dan terbaca banyak orang. Kesalahan kecil itulah yang kemudian diungkit, lalu lupa dengan tema besar artikel yang dihadirkan. Lupa sama sekali.

Mari melihat ke lingkup yang lebih global. Protes—terlalu jauh dari standar jika disebut kritik—akan sebuah kekurangan ibarat mengamini peribahasa: gajah di pelupuk mata tidak kelihatan, semut di seberang lautan tampak jelas. Mungkin memang, si semut berukuran dinosaurus, sementara si gajah terlalu imut atau gajah sakti yang tak kasatmata.

Secara etimologis berasal dari bahasa Yunani κριτικός, kritikós – “yang membedakan”, kata ini sendiri diturunkan dari bahasa Yunani Kuna κριτής, krités, artinya “orang yang memberikan pendapat beralasan” atau “analisis”, “pertimbangan nilai”, “interpretasi”, atau “pengamatan”. Istilah ini biasa dipergunakan untuk menggambarkan seorang pengikut posisi yang berselisih dengan atau menentang objek kritikan.”

Kritik—bukan protes—adalah sesuatu yang ilmiah. Punya dasar. Tidak sama dengan protes yang asal bunyi, asal terlontar agar orang juga ikut memperhatikan kesalahan tidak penting lalu mengabaikan informasi yang sesungguhnya bermanfaat. Kritik pun tidak semena-mena. Ada tata caranya, landasan berpikir, lalu disampaikan dengan baik pula. Ada fokus yang digunakan, tidak membabi-buta.

Namun, begitulah, kebiasaan protes tidak penting menjadi suatu budaya, keasyikan yang sudah dihentikan, kecanduan yang sudah mengalir dalam darah. Masih banyak peribahasa dalam kultur kita yang merujuk pada orang yang senang asal berucap. Tong kosong nyaring bunyinya. Mulutmu harimaumu.

Berubahlah, remlah dirimu demi menjadi manusia yang lebih menghargai agar juga dihargai.

 

Jogja, 19 Oktober 2015

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response