La La Land (2016); Film Tentang Mimpi dan Cinta di Hollywood

La La Land (2016); Film Tentang Mimpi dan Cinta di Hollywood
La La Land (2016). Sumber gambar: moviepostershop.com

La La Land sengaja saya tonton paling terakhir. Saya memulai maraton 9 film nomine Best Motion Picture of the Year dari Arrival, Hidden Figures, Hell or High Water, Manchester by the Sea, Fences, Lion, Hacksaw Ridge, Moonlight, dan La La Land ini. Mendapat 14 kategori sekaligus, membawa kita mundur ke masa kejayaan film Titanic yang membawa pulang 11 Oscar sekaligus. Dalam arti, saya memiliki harapan inilah film yang bakal menjadi EPIC, setidaknya menurut pengamatan personal.

Tapi tidak. Sama sekali jauh dari ekspektasi saya bahwa segalanya akan sehebat pujian orang-orang. Jika perkara film musikal, saya rasa bukan itu penyebabnya. Saya suka banget dengan Raees, film terbarunya Shah Rukh Khan yang jelas musikal. Suka dengan sepaket lengkap yang dihadirkan kepada penonton. Kalau tidak percaya, tonton saja, semoga di bioskop masih diputar.

La La Land menawarkan 2 pemain papan atas dunia, Emma Stone dan Ryan Gosling. Apa kurangnya lagi? Hey, ini bukan perkara pemainnya siapa. Moonlight dan Lion pemainnya banyak yang asing lho. Tapi apakah membuat saya bosan; Kenyataannya tidak. Tidak ada yang salah dengan Ryan Gosling dan Emma Stone.

Opening film La La Land diparodikan dengan lebih wah oleh Jimmy Fallon pada ajang Golden Globes bulan lalu. Semuanya selebriti menyumbang suara lalu berakhir dengan dance mesra bersama Justin Timberlake yang saya nggak paham maksudnya mau gimana.

Sumber gambar: moviepostershop.com

Saya merasa, kemasan cerita yang dimiliki La La Land ada klise. Dalam satu kalimat cukup dituliskan begini: Seorang pria dan perempuan yang punya mimpi dan susah payah mewujudkannya. Mia Dolan dan Sebastian merepresentasikan mimpi idealis yang terbentur dengan Hollywood yang kata Sebastian, “They worship everything and they value nothing.”.

Sebastian adalah seorang pianis jazz. Dia berusaha mempertahankan kemurnian musiknya dan memandang rendah pada unsur-unsur musik yang mencampuri jazz. Tipe pria kaku yang sepertinya perlu melihat aksi Jamie Cullum yang digemari anak muda dan semua orang mengenali musik jazz meski dia menampilkannya dalam perspektif pop. Namun bagaimana bisa bertahan di dunia hiburan jika tak mau mengerti selera pasar? Sebastian ingin membuat klub jazz, tapi apa iya bisa seramai klub musik lainnya? Ketika dia merasa buntu, di saat itulah Mia Dolan masuk dalam hidupnya.

Bermula dari kemacetan, keduanya bertemu di momen lain yang tak direncanakan, berkencan, saling seolah bisa saling memahami satu sama lain. Awalnya seperti itu, hingga Sebastian memutuskan bergabung dengan sebuah band dengan kontrak album dan tur. Hari-harinya padat. Dia tidak bahagia, tapi orang-orang mengenalnya, sebagai anggota band itu, bukan sebagai dirinya. Mia justru menanggapi dengan berbeda.

Sikap Mia, memancing ego Sebastian naik ke ubun-ubun. Mereka mulai merasa banyak ketidakcocokan. Banyak yang menjadi dipaksakan dalam hubungan mereka. Klise ya kan? Saya berharap ada perubahan atau kejutan yang akan muncul, tapi tidak ada. Ending dari sebuah kisah hanya ada dua, bersama atau berpisah. Bersama tapi tidak bahagia, atau berpisah tapi saling merelakan.

Koreografi dari setiap adegan tari dalam La La Land dipegang sepenuhnya oleh Mandy Moore. Pasti familiar dengan nama itu. Tapi orang yang berbeda. Bukan yang penyanyi Walk Me Home di masa saya remaja.

Soal music score dalam film ini, saya acungkan jempol, meskipun agak jenuh dengan beberapa track repetisi. Barangkali biar penonton ingat. Masalahnya, sekali saja saya sudah ingat kok.

Beberapa goofs saya baca di IMDB tidak begitu signifikan. Kesembilan film nominee yang saya tonton pasti ada selip adegan. Santai saja.

Trailer La La Land (2016):

Jogja, 5 Februari 2017

Nisrina Lubis

Nisrina Lubis

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response