Lady Bird (2017); Film tentang Remaja dari Sacramento

in Film by
Lady Bird (2017); Film tentang Remaja dari Sacramento
Lady Bird (2017). Sumber gambar: IMDB.

Lady Bird (2017) mendapatkan 4 nominasi Golden Globes 2018 untuk kategori Best Motion Picture – Musical or Comedy, Best Screenplay – Motion Picture (Greta Gerwig), Best Performance by an Actress in a Supporting Role in a Motion Picture (Laurie Metcalf), dan Best Performance by an Actress in a Motion Picture – Musical or Comedy (Saoirse Ronan).

Saoirse Ronan akan memperebutkan gelar aktris terbaik untuk film musikal – komedi jika berhasil mengalahkan Judi Dench (Victoria & Abdul), Margot Robbie (I, Tonya), Emma Stone (Battle of the Sexes) dan Helen Mirren (The Leisure Seeker).

Nama Greta Gerwig masih asing di telinga dalam hal penyutradaraan. Ini adalah garapan solo pertama dia, setelah pernah berduet untuk film Nights and Weekends (2008) dengan Joe Swanberg. Sacramento adalah tempat kelahiran Greta, Christine, nama si tokoh utama diambil dari nama sang ibu kandungnya. Profesi ibu dari tokoh Christine dalam film sama dengan profesi ibu kandung Greta. Sebagai aktris, Greta sudah membintangi sejumlah judul, antara lain 20th Century Women, Jackie, dan Maggie’s Plan.

Pemilihan Saoirse Ronan sebagai  tokoh utama Christine “Lady Bird” McPherson rasanya tidak berlebih jika saya sebut sangat tepat. Usia tokoh dan pemerannya tidak terpaut terlalu jauh. Christine yang lebih suka dipanggil Lady Bird merupakan remaja 17 tahun yang protes dengan apa yang ada di hadapannya. Dia protes dengan sekolah yang dipilihkan orang tuanya, sekolah Katolik, sementara dia ingin sekolah negeri. Dia ingin kelak kuliah di New York sementara secara finansial, orang tuanya tidak sanggup bayar.

Kita tidak akan melihat sosok Saoirse Ronan bertingkah rebel seperti remaja-remaja naif lainnya yang menjadi nakal karena keinginannya tidak dituruti. Dia tetaplah manis selain wajahnya memang manis sebab aktris-aktris berdarah Irlandia-Amerika dianugerahi wajah menawan. Pemberontakan si Lady Bird dilakukan dengan cara yang lain. Di awal film, ketika dia dan ibunya berada di dalam mobil yang membawa mereka pulang ke rumah, Lady Bird tiba-tiba saja membuka pintu dan keluar dari mobil yang tengah melaju. Lalu tangannya pun digips dan dia tulisi “Fuck you, Mom”.

Lady Bird bersekolah di Immaculate Heart, di mana untuk sekolah murid lelaki adalah Xavier. Lady Bird tidak masuk asrama. Tiap hari dia diantar oleh ibu atau ayahnya, dan selalu minta turun beberapa meter sebelum pagar sekolah. Teman akrabnya adalah Julie Steffans yang bertubuh gemuk tapi suaranya bagus ketika menyanyi. Julie menyukai guru matematikanya yang tampan sayangnya sudah beristri.

Bergabung dengan klub teater bersama murid dari sekolah Xavier mempertemukannya dengan Danny O’Neill yang juga keturunan Amerika-Irlandia. Jatuh cinta dengan Danny membuatnya sampai menuliskan nama pemuda itu di dinding kamar. Sayangnya, karena suatu sebab, Lady Bird pindah ke pelukan Kyle Scheible yang notabene seorang anak band. Timothée Chalamet hanya memegang peran kecil tidak seperti perannya di film Call Me by Your Name sehingga tidak mendapatkan nominasi Golden Globes untuk kategori aktor pendukung.

Persahabatan Lady Bird dengan Julie merenggang setelah putus dari Danny, dan dia mendekat pada Jenna Walton murid yang tampak begitu sempurna. Hubungannya dengan sang ibu juga terus diwarnai konflik, terlebih di mata sang ibu, putri satu-satunya terlalu egois dan maunya menang sendiri. Belakangan, dia baru mengetahui jika di balik karakter ayahnya yang kalem, ada gangguan depresi yang selalu membayangi.

Saya suka dengan gaya penyutradaraan Greta, teknik sinematografinya juga menyegarkan mata. Saya tidak tahu apa istilahnya, tapi pengambilan gambar ketika tokohnya berjalan lalu rumah-rumah di belakangnya berganti-ganti saya suka banget. Bukan sesuatu yang baru sih. Tone yang dia pilih pun sudah cukup menjadi petunjuk tipe film seperti apa yang dia hadirkan.

Dia pun mampu menghadirkan sebuah film remaja yang berbobot, tidak terkesan hanya menjual tampang para pemain berusia belasan tahun yang sibuk dengan kehidupan seks bebas dan pesta-pesta. Dialog yang kadang sinis, kadang ironis, tapi tidak melupakan sisi humoris manusia. Sebuah film yang lengkap.

Trailer:

Jogja, 1 Januari 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

Latest from Film

Partners Section:

best thai dating appbest thai dating appbest thai dating appbest thai dating appbest thai dating appbest thai dating appbest thai dating appbest thai dating appfree iphone 8free iphone 8free iphone 8free iphone 8free iphone 8free iphone 8free iphone 8free iphone 8
error: All contents protected, please contact email below to copy
Go to Top

Powered by themekiller.com sewamobilbus.com caratercepat.com bemp3r.co