Latihan Kedua Half Marathon, Belum Ada Perkembangan Signifikan

in Olahraga by
Latihan Kedua Half Marathon, Belum Ada Perkembangan Signifikan
Latihan Kedua Half Marathon. Sumber gambar: blog.runkeeper.com

Minggu 11 Februari adalah latihan kedua half marathon. Saya sudah memperkirakan akan menggeser dari jadwal yang seharusnya Sabtu karena di hari Jum’at ada perayaan ulang tahun kantor yang sampai malam. Ketimbang saya lari dengan membawa rasa lelah, maka saya putuskan untuk menukarnya dengan hari istirahat. Saya tahu, itu bukan sepenuhnya ide yang cemerlang. OCD yang ada di kepala saya tidak menyukai sesuatu yang tidak pada tempatnya.

Saya sempat berpikiran bahwa pada hari Minggu jalanan akan lebih lengang, untuk jalur utama, seperti Jalan Solo. Tidak berlaku untuk rute Jalan Wonosari, sama ramainya dengan seminggu sebelumnya, bahkan sedikit lebih padat.

Di latihan kedua half marathon kali ini, saya punya mainan baru, tempat botol yang ada tempat pegangannya, beli online harganya 160 ribu, itu sudah sama botolnya. Di toko lain lebih murah karena botolnya dijual terpisah. Banyak pelari yang saya lihat menggunakan benda ini saat latihan. Botolnya pun kecil, hanya 250ml sehingga tidak mengganggu tangan. Ada kantong untuk menyelipkan uang atau menyimpan kunci-kunci.

Sejak Sabtu malam saya sudah menyiapkan ini itu, termasuk masak nasi buat sarapan dini hari. Jam 9 sudah tidur nyenyak, terbangun ketika alarm berbunyi pukul 3 pagi. Saya agak sedikit malas untuk beranjak dari tempat tidur, tapi mengingat lagi waktu latihan yang tidak banyak, terpaksalah bergerak di saat orang masih tidur nyenyak.

Saya berangkat seperti biasa pukul 05.30 dengan rute biasa. Membawa botol yang lebih kecil ternyata tetap saja membuat pace saya sama dengan minggu lalu. Sepertinya minggu depan saya tidak membawa apa-apa sajalah kalau begitu. Toh saya bisa mengukur di titik mana saja akan berhenti untuk beli minum. Membawa air minum membuat saya malah bawaannya pengin minum terus.

Kali ini, sepuluh kilo pertama saya masih lari. Itu dari kosan sampai ke depan Indomaret di baratnya pertigaan Jalan Prambanan-Piyungan. Mampir untuk kedua kalinya dan mengganti isi botol yang air mineral menjadi Pocari Sweat dan rehat agak lama membuat otot kaki saya mengendur kembali. Rute saya ubah dengan berbalik arah, dengan catatan saya harus menambah 1 kilometer untuk menggenapkan 21 kilometer. Itu gampanglah. Sampai ke kilometer keenam belas, kedua betis mulai memberikan reaksi semacam nyeri-tegang. Bukan di telapak kaki namun membuat saya memilih berjalan. Setidaknya, saya sudah berlari jauh lebih banyak ketimbang minggu lalu.

Catatan waktu saya masih lebih minggu lalu, itu yang membuat saya kesal. Padahal setiap kali akan mampir, saya sudah menghentikan Strava agar tidak menghitung pergerakan yang tidak penting. Cuaca memang terasa lebih panas ketimbang minggu lalu, itu mungkin salah satu sebabnya stamina saya cepat menurun. Musuh besar saya. Pukul tujuh, saya sudah menantang matahari yang terbit, menyebalkan sekali. Baju saya basah kuyup luar biasa ketimbang minggu lalu.

Di sisi lain, saya memang harus merasakan ini karena di bulan April, kemungkinan besar akan jauh lebih panas. Tiga setengah jam barulah latihan kedua half marathon itu pun selesai. Rasa berdenyut-denyut naik dari betis ke kepala. Setelah memungkinkan untuk mandi, saya pun makan dan berharap sakit kepala itu hilang, dan tidak. Malahan sakit di kaki saya yang perlahan-lahan hilang. Ini dia hal yang paling saya benci. Semalaman dengan rasa sakit yang berpindah dari kepala bagian kiri ke kanan. Tidur miring ke kanan, sakitnya pindah ke sisi lainnya. Setelah makan saya bawa tidur dan itu tidak hilang. Bangun sebentar dan makan lagi, tidur lagi. Terakhir saya makan oatmeal dan dua butir telur pukul 11 malam barulah saya tidur sampai pagi.

Keesokan paginya, rasa sakit itu syukurlah mulai reda dan saya mengurungkan niat izin dari kantor. Sehabis lari jarak jauh, makan sebanyak-banyaknya bukankah sebuah kesalahan. Itu harus banget. Jangan hanya berfokus dengan mengganti cairan yang hilang. Meski saya sudah mengasup karbohidrat sebelum mulai lari, sepertinya itu semua menguap ketika setengah perjalanan. Di kilometer sepuluh, rasa lapar mulai mengganggu, rasa haus sepertinya juga tidak kunjung tertangani sehingga saya khawatir justru kebanyakan minum dan itu pun tidak baik untuk tubuh. Saya butuh strategi baru untuk minggu depan di latihan ketiga.

 

Jogja, 13 Februari 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*