Lengsernya Paman Gober; Sindiran-Sindiran Getir dari Para Penduduk Kota Bebek pada Penguasa yang Memuakkan

Lengsernya Paman Gober; Sindiran-Sindiran Getir dari Para Penduduk Kota Bebek pada Penguasa yang Memuakkan
Lengsernya Paman Gober. Sumber gambar: pixabay.com

Alfanie Bican Mery menuliskan cerita pendeknya, Lengsernya Paman Gober, dengan mengambil tokoh-tokoh Walt Disney yang sangat terkenal, antara lain Donal Bebek, Desi Bebek, Paman Gober, Kwak-Kwik-Kwek, Untung, Gus Angsa, Gerombolan si Berat, sebagai representasi beberapa tokoh di Indonesia menjelang puncak tragedi 98.

Paman Gober diserahi peran sebagai penguasa yang terlalu lama berkuasa hingga penduduk Kota Bebek mengharapkan dia cepat mati dan tergantikan dengan orang lain. Donal adalah orang dekat Paman Gober yang di dalam hatinya juga jenuh dengan pemerintahan itu tapi tak bisa berbuat apa-apa. Di mata Paman Gober, dia terlalu lemah untuk menjadi seorang penguasa yang tegas. Gus Angsa merupakan representasi kaum minoritas yang memperjuangkan haknya. Kwak-Kwik-Kwek adalah representasi generasi muda idealis yang bermaksud menumbangkan kekuasaan yang telah berlangsung lama.

Saya menyukai ide dasar dari cerita ini. Sayangnya, banyaknya kesamaan antara hal-hal faktual sejarah Indonesia dan apa yang terjadi di Kota Bebek membuat alur ceritanya menjadi datar-datar saja. Saya beri beberapa contoh.

“Kenapa semua anggota Perkumpulan Unggas Kaya nggak cari ganti ketua aja sih? Nggak bosan apa mereka dengan bebek tua itu? Sudah tiga puluhan tahun dan selalu dia-dia melulu yang terpilih.”

Desas-desus mengatakan Paman Gober mendapatkan posisi sekarang melalui sebuah kudeta terencana. Banyak bebek terbang nyawanya waktu itu, beberapa mati dilempar ke sarang buaya. Sekitar tahun enam puluhan. Kabarnya, mantan ketua perkumpulan, yang saat itu masih resmi menjabat, harus dilengserkan secara tidak terhormat.

“Menduduki gedung belah tengah lagi? Kita lihat saja seberapa kuat mereka,” potong Paman Gober cepat, “Aku heran sebenarnya mengapa mereka ini menuntutku mundur? Padahal kita bisa merasakan swasembada beras. Aku juga membangun Taman Mini Kota Bebek Indah dan Taman Buah Mekar Asri demi kemajuan mereka. Bagaimana pendapatmu, Tung?”

“Benar, benar, Paman,” Untung Bebek geragapan, “Tidak salah paman mendapat gelar Paman Pembangunan. Program lima tahunan paman memang luar biasa.”

Secara etnis Gus adalah minoritas yang selalu dianggap kelas berbeda. Isu-isu feodal dan etnosentris yang diembuskan pihak perkumpulan membuat jurang di antara para unggas. Cap pribumi dan nonpribumi. Aneh sekali.

Beberapa bebek muda yang marah mulai mengumpulkan ban-ban bekas, menumpuknya menjadi satu dan membakarnya. Hei, ban, bensin dan juga bakar-bakaran tidak masuk dalam agenda. Tetapi kenapa barang-barang itu ada? Ini tentu bukan rencana membuat pesta barbekyu bukan?

Beberapa adegan fiktif tentu saja ada, tapi faktualitas pada teks pada akhirnya melunturkan kekuatan cerita yang sangat boleh untuk dieksplorasi lebih liar lagi. Tanpa terpaku atau terpaksa mengungkapkan perkara data ini itu. Sebuah cerpen sedapatnya bergerak lebih bebas, meski dalam rangka menyindir ketidakadilan yang ada dalam dunia nyata.

Dan saya baru tahu jika Seno Gumira Telah menulis cerpen metafora kepada sosok Soeharto berjudul Kematian Paman Gober (bisa baca di sini) yang termuat dalam antologi Iblis Tak Pernah Mati (Galang Press, 2001). Saya rasa kesamaan ide seperti ini bukan sebuah kebetulan belaka.

 

Jogja, 17 April 2017

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response