Lesehan Sayidan Jogja; Tempat Makan dekat Sungai

Lesehan Sayidan Jogja. Sumber gambar: teamtouring.net

Awalnya saya hanya melirik, lalu jadi penasaran, googling, hingga akhirnya saya pun datang ke Lesehan Sayidan. Saya cukup sering melewati Jembatan Sayidan ketika akan hang out dengan seorang sahabat, tapi baru kesekian kalinya saya lebih dari sekadar melirik. Saya pikir, itu adalah warung pinggir jalan. Ada beberapa mobil dan berderet kendaraan bermotor di sana, tapi mengapa tidak ada orang kecuali tukang parkir? Ke mana para pemilik kendaraan itu sebenarnya?

Hingga pada suatu malam, saya sengaja melambatkan motor untuk melihat lebih jelas. Oh rupanya ada tangga turun. Dan ada tulisan Bukak 24 Jam. Hmm, menarik tempat ini. Malam itu saya tidak langsung ke sana karena sahabat saya mengajak saya ke tempat lain.

Selang beberapa hari, setelah googling seputar tempat makan itu, saya pun mengajak sahabat saya ke sana. Menurut beberapa artikel di internet, harga makanan dan minuman di sini masih terjangkau. Saya juga penasaran dengan meja yang di-setting di pinggir kali, Pasti seru di sana.

Kami berdua pun datang ke sana. Setelah memarkirkan motor jauh dari pintu masuk, kami pun menuruni tangga, mengambil daftar menu dan pulpen, lalu mulai mencari tempat yang nyaman untuk ngobrol.

Kami melewati bagian pertama, lesehan tapi sudah penuh. Kami menuruni tangga lagi dan melihat deretan meja di pinggir kali. Ukuran mejanya cukup kecil menurut saya, hanya untuk dua orang. Kami menyusuri deretan itu dan sebagian besar penuh, Kami akhirnya memutuskan ke area ketiga di dalam. Karena terus terang, kami mencium aroma tidak enak dari kali. Nggak kebayang gimana makan dengan kondisi demikian. Selain itu, pencahayaan pun kurang. Maaf, kami tidak begitu suka gelap-gelapan. Kesannya gimana gitu.

Di area ketiga, semuanya lesehan. ada lebih dari dua puluh meja persegi panjang dengan lantai beralaskan tikar. Kami memilih yang di dekat pintu masuk/keluar. Hanya ada 1 meja di sana.

Kami mulai melihat daftar menu. Ada beberapa menu yang pingin kami coba, seperti telur kopyok (semacam telur dadar tapi di dalamnya ada udang) lalu tahu tuna (tahu isi tuna maksudnya). Lainnya ada ikan, ayam, tempe, tahu.

Untuk minuman, bisa dibilang tidak banyak yang membuat penasaran, sebagian bersoda dan saya tidak menyukai minuman seperti itu, jadi hanya memesan coffeemix dan es kelapa muda.

Soal harga, memang sedikit lebih mahal dari warung-warung tenda di pinggir jalan, tapi hanya selisih 1.000-2.000.

 Untuk suasananya memang menyenangkan untuk yang mau makan rame-rame atau ngobrol berdua berjam-jam. Seperti yang tertulis di papan di pintu masuk, tempat ini nggak ada tutupnya.

Coba sendiri deh makan di tempat asyik yang satu ini.

 Rabu malam, Jogja, 2 Oktober 2013