Life Traveler (Gagas Media, 2011); Buku Traveling yang Tidak Hambar Bahkan Berfilosofi

Life Traveler (Gagas Media, 2011); Buku Traveling yang Tidak Hambar Bahkan Berfilosofi
Life Traveler (Gagas Media, 2011)

Membaca Life Traveler karya Windy yang satu ini memang sejak awal akan membuat kita paham bahwa meski ini adalah sebuah traveling book, tapi isinya “berbeda” dengan guide book pada umumnya. Ya, dalam buku ini, kita nggak dicecoki dengan angka-angka tarif tiket masuk, biaya ini itu, hotel, dan sebagainya. Karena perjalanan yang dilakukan oleh mantan Pimpinan Redaksi Gagasmedia ini tidak semua atas biaya pribadi, melainkan ada yang merupakan business trip di mana di waktu senggang dimanfaatkannya untuk berjalan-jalan mengeksplorasi sebuah tempat, dan terpisah dari rombongan. Ia bisa mendapatkan banyak pengetahuan baru dari hal-hal kecil yang ditemuinya. Inilah yang membedakan turis dengan traveler sejati.

Di dalam buku Life Traveler setebal 375 halaman, Windy membawa pembaca ke beberapa negara di Asia, Eropa, dan Amerika dan menuturkannya secara rapi dan sesekali mengaitkan sebuah spot wisata di satu negara dengan negara lainnya, misalnya ketika ia melihat-lihat kawasan prostitusi Red Light District di Belanda dengan pertunjukan erotis di Thailand yang sama-sama merupakan “industri legal” yang menjanjikan pemasukan ke kas pemerintah yang berlimpah.

Terbit pada tahun 2011, dan baru gue baca sekarang, dua minggu setelah membelinya dari sebuah toko buku online.

Okey, gue akan bahas seputar Life Traveler setelah “memaksakan” diri untuk menandai beberapa bagian yang gue anggap paling penting di antara begitu banyak kalimat kontemplasi dan dalem ala Windy Ariestanty.

Windy adalah sosok wanita karier ibu kota yang punya hobi jalan-jalan dan menemukan banyak hal baru selama perjalanan. Gue nggak akan membanding-bandingkan dengan sosok Trinity atau traveler mana pun, karena gue rasa itu nggak ada untungnya.

Di halaman awal Life Traveler, gue menemukan 2 endorsements. Pertama dari Dewi “Dee” Lestari dan Valiant Budi. Gue rasa apa yang mereka berdua tuliskan cukup bisa menjelaskan apa yang sebenarnya ingin dihadirkan Windy dalam buku yang di kovernya ada gambar daun maple ini. Entah sepertinya dia menyukai daun maple dan dia bilang, jika dia menemukan daun maple yang masih utuh, dia akan memfungsikannya sebagai pembatas buku.

Dari daftar isi, kita bisa memilih akan membaca bagian mana terlebih dahulu. Windy menguraikan keseruan jalan-jalannya ke Vietnam, Amerika Serikat, Jerman, Ceko (meski ini tidak direncanakan), Prancis, dan Thailand. Gue rasa, membaca buku ini tidak harus runtut from A to Z.

Pada bagian awal, gue dibuat terhenyak dengan kalimat dia ini: The slower we move, the faster we die (hlm. 10). Gue rasa kata-kata ini nggak berlaku hanya bagi traveler untuk nggak membuang-buang waktu dalam perjalanan. Tapi secara spesifik, dalam konteks ini, Windy menggunakannya sebagai strategi agar jangan mengisi penuh tas ransel saat akan perjalanan. Windy beralasan bahwa, membawa tas yang penuh tentu akan menghambat gerak, terutama jika traveling tidak dengan pesawat terbang atau kendaraan pribadi, melainkan harus naik-turun bis bahkan mengejar-ngejar bis. Di samping itu, ruang kosong dalam tas bisa digunakan untuk menyimpan sejumlah brosur dan tentu saja oleh-oleh untuk teman atau pun saudara. Gue setuju dengan pemikirannya ini meski pada praktiknya gue suka bepergian dengan tas yang padat.

Selain itu tadi, Windy juga menyajikan beberapa tips seputar benda-benda yang harus ada dalam ransel untuk seorang backpacker (hlm. 12). Bagi seorang amateur traveler, banyak poin yang bermanfaat di sini, beberapa juga disampaikan dengan sedikit berbeda oleh Trinity. Ya, gue rasa backpacking basic knowledge hanya akan berputar pada titik yang sama. Windy kembali menambahkan 4 trik saat traveling (hlm. 73) yang beberapa juga disarankan oleh Agustinus Wibowo.

Lalu, mengapa seorang wanita supersibuk macam Windy ini memperhitungkan traveling dalam agendanya? Dia menjawab, “For some stories” (hlm. 75). Ya, mustahil seseorang yang melakukan perjalanan (meski mungkin hanya 1–2 jam) tidak punya sesuatu yang diceritakan. Apalagi ini sampai berhari-hari bahkan lebih dari seminggu. Dan mencari cerita untuk ditulis, itu dilakukan oleh para penulis jika ingin memperkaya horizon pemikirannya. Gue rasa di sini, Windy bukan dalam konteks “harus mendapat cerita” layaknya seorang jurnalis spesialis jalan-jalan. Itu ia lakukan untuk kontemplasi, bukan bergalau. Membaca tulisan Windy membuat gue bisa menyimpulkan (entah tepat seratus persen atau tidak) bahwa dia tipe perempuan independent.

Windy dalam Life Traveler coba menghadirkan definisi sebuah kenikmatan traveling tanpa bermaksud memprovokasi para pembaca untuk melakukan traveling sebagai hobi baru. Dengan hobi berjalan-jalan inilah, maka seorang traveler takkan pernah merasa terasing. Itu bukan statement dari Windy, melainkan dari seorang wanita yang dipanggilnya Aunty Fran (hlm. 152). Windy memang membenarkan hal itu, menganggap bahwa traveler memiliki banyak rumah, bukan semata-mata satu rumah. Konsep rumah yang ada dalam pikirannya kurang lebih sama dengan pemilik restoran Cina di bandara Chicago saat ia ketinggalan pesawat menuju Tokyo. Wanita itu mengatakan, “Home is a place where you feel more comfortable. Home is a place where you can be and find yourself.” (hlm. 349). Ini mungkin definisi rumah bagi para perantau ya biar betah dan nggak homesick mulu.

Berjalan-jalan keluar negeri dan membeli souvenir juga dilakukan Windy, tapi ada hal lain yang membuat gue mengerutkan dahi saat membacanya. Ketika berada di depan sebuah toko yang memajang kartu pos di Heidelberg, Jerman, dia menulis: “…Saya tergoda membeli dan mengirimkannya (kartu pos maksud dia) untuk diri saya sendiri dan keponakan saya.” (hlm. 228). Gue lalu teringat dengan seorang teman yang juga senang mengirimkan kartu pos untuk diri sendiri. Mungkin, ini bisa dikategorikan sebagai oleh-oleh jika dikirimkan kepada orang lain. Tapi kalau buat diri sendiri buat apa coba? Gue ngebayangin nulis kartu pos. Pengirim: Nis, alamat: bla bla bla, Praha. Penerima: Rina, alamat: palsu, Indonesia. Gosh! Gue nggak habis pikir. Dan kartu pos itu baru sampai setelah seminggu gue balik. (Btw, mudah-mudahan orang yang gue maksud nggak murka baca bagian ini).

Sebagai seorang traveler, punya destinasi favorit itu wajar. Dan Windy ternyata suka dengan Praha, ibu kota Ceko. Dia membahasnya pada bab 10 yang berjudul Sweet Escape to Prague (hlm. 195–222). Dia sangat senang ketika rombongan diajak melintasi perbatasan Jerman memasuki Republik Ceko dengan waktu tempuh 5 jam naik bis. Praha dikenal sebagai Jantung Eropa dan pernah pernah jaya di masa lalu. Wajar jika kota ini punya daya magnetis luar biasa. Dan gue juga fall in love with Praha (seharusnya Prague, ya, penulisan yang benar dalam bahasa Inggris.) Windy mengeksplorasi Praha dalam waktu yang memang serbaterbatas, tapi sepertinya itu cukup membuatnya makin cinta sama kota tersebut. Lucky you!!

Selain itu, gue lagi-lagi dibuat terkesan dengan cerita Windy ketika ia berada di Heidelberg dan ingin membeli tas, tapi oleh sang penjual yang sudah kakek-kakek, tidak dikasih karena ada nodanya (hlm. 231). Ini sontak mengingatkan gue dengan sosok Nabi Muhammad. Salah satu kejujuran yang membuatnya bergelar Al-Amin (dapat dipercaya) adalah ketika berjualan ia tidak menutupi jika ada kerusakan pada barang dagangannya. Mungkin hanya kerusakan kecil, tapi dia membangun trust dengan cara seperti itu. Dan harga sebuah trust tentu jauh lebih mahal ketimbang barang yang dijual kan? Ya, dan itu membuat Windy yang pada awalnya menyimpulkan si penjual “kurang ramah” karena tidak tersenyum, menggantinya jadi “efisien”. Gue rasa membandingkan personality orang Indonesia yang murah senyum dengan bangsa lain tidaklah tepat. Itu belum ke Rusia lho di mana konon katanya orang-orang di sana sikapnya sedingin suhu di penghujung tahun.

Nah, berpindah ke soal percintaan. Bagian ini yang gue kepo banget. Apakah Windy ini tipikal orang yang bisa menjalin cinta dengan orang yang ditemuinya selama perjalanan atau tidak. Sayangnya, hal itu tidak terjawab. Yang pasti, di tahun itu (sekitar tahun 2010), status dia dengan sang pacar sedang gantung. Putus nggak, tapi komunikasi stop. Nggak diceritakan secara detail penyebabnya, tapi adakalanya membuat sosok Windy terdiam sejenak saat berada di perjalanan dan mencoba mencari tahu makna dari cinta dan rindu. Namun akhirnya, Port Du Canal menjadi saksi saat Windy mengambil sikap atas hubungannya juga dengan sang kekasih yang tiba-tiba mengirim email dan menyapa seakan tidak terjadi apa-apa beberapa waktu belakangan (hlm. 263–275). Gue nggak berminat untuk berkomentar soal hubungan dia, dan gue rasa keputusan yang diambilnya pada 10-10-2010 itu satu-satunya jalan terbaik. Move on will be better.

Waw, nggak kerasa gue udah membahas buku ini begitu panjang saking exited-nya. Yup, Life Traveler memang bacaan ringan tapi penuh dengan makna. Bukan dengan seputar spot-spot wisata yang menjadikan Life Traveler menghipnotis gue sampai berjam-jam. Di halaman yang khusus membahas tempat-tempat wisata, gue justru membacanya sekilas. Sudah begitu sering gue baca ulasannya di artikel-artikel traveling. Windy bisa menawarkan “rasa baru” untuk sebuah buku ber-genre traveling, yaitu belajar tentang kehidupan dan makna sebuah “rumah”.

 

My room, Jogja, 27 April 2013, 18.23

Nisrina Lubis

Nisrina Lubis

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response