Lion (2016); Film si Bocah India yang Terbawa Kereta Api

Lion (2016); Film si Bocah India yang Terbawa Kereta Api
Lion (2016). Sumber gambar: moviepostershop.com

Lion meraih 6 nominasi Oscar tahun ini, yaitu untuk Best Motion Picture of the Year, Best Performance by an Actor in a Supporting Role, Best Performance by an Actress in a Supporting Role, Best Adapted Screenplay, Best Achievement in Cinematography, Best Achievement in Music Written for Motion Pictures.

Kaitan antara singa (lion) dengan si anak hilang baru akan terkuak di bagian penutup film. Lion menempatkan aktor pemenang Oscar Nicole Kidman (The Hours, Bewitched, The Others), juga Rooney Mara (The Secret Scripture, Carol, Una, Ain’t Them Bodies Saints, The Girl with the Dragon Tattoo) yang sangat selektif peran hanya sebagai pemain pendukung. Dev Patel (About Cherry, Slumdog Millionaire) yang memerankan si anak hilang 20 tahun kemudian, dinominasikan untuk kategori Best Performance by an Actor in a Supporting Role.

Si pemegang nyawa dari Lion adalah Saroo (diperankan oleh bocah yang pertama kalinya berakting di depan kamera Sunny Pawar). Kisah suramnya dimulai semenjak tertimpa musibah di suatu malam terbawa dalam kereta hingga bagian lain India. Daerah yang bagi seorang putra dari ibu yang mencari nafkah dari mengumpulkan batu sungai—sangat asing. Saroo hanyalah anak miskin yang belum mendapat akses sekolah. Maka itulah sebenarnya menjadi kunci mengapa dia begitu sulit menemukan jalan pulang. Saroo tidak tahu bagaimana penulisan namanya yang benar dan di mana sebenarnya dia tinggal.

Saroo terbawa hingga ke Kalkuta dari rumahnya. Sejauh 1.400 kilometer alias 26 jam perjalanan darat. Dalam perjalanan, dia berteriak-teriak meminta pertolongan dari jendela kereta, tapi tak ada seorang pun yang tergerak menolongnya. Semenjak lahir, Saroo hanya mengetahui bahasa India, sementara kereta itu membawanya ke Kalkuta di mana orang-orang berbicara dengan bahasa Bengali mengingat berbatasan dengan negara Bangladesh. Maka, ketika seorang perempuan mengajaknya berbicara bahasa India dan mengajaknya ke rumah, Saroo sangat senang. Tapi, perempuan itu punya maksud lain sehingga Saroo memilih melarikan diri.

Sebuah panti sosial kemudian menjadi perantara bertemunya si anak malang dengan orang tua asuhnya, pasangan suami istri Brierley asal Tasmania, Australia. Lagi-lagi, Saroo menempuh perjalanan panjang untuk memulai hidup baru. Perilaku Saroo berbeda dengan adik angkatnya Mantosh, yang mudah memukuli dirinya sendiri dan menjerit-jerit histeris. Hingga dewasa, Saroo selalu menjadi anak manis.

Sumber gambar: moviepostershop.com

Sekitar 20 tahun kemudian. Si anak hilang telah berubah menjadi pemuda gagah dan mapan. Tapi jiwanya tidak tenang. Ada bagian dari dirinya yang hilang dan ingin didapatkannya kembali. Kemapanan tidak memuat suara panggilan sang kakak, Guddu, hilang dari pikirannya. Juga teriakan-teriakannya untuk sang ibu. Ibu kandung yang dia tidak tahu siapa namanya. Dalam tidurnya, Saroo terus terusik. Hingga dimantapkannya untuk mencari dengan bantuan Google Earth.

Saroo memiliki seorang kekasih, Lucy namanya. Perempuan ini terus mendukungnya untuk menelusuri letak rumah Saroo di India. Kecanggihan teknologi rupanya tidak selamanya mampu membantu setiap pertanyaan manusia. Saroo tidak banyak ingat tentang rumahnya. Hanya kilasan-kilasan memori. Sungai tempat ibunya mengumpulkan batu, stasiun kereta api tempat dia dan kakaknya terakhir bersama, pasar di mana dia pernah terserempet kendaraan. Selama 2 tahun kenangan masa kecilnya ia paksa untuk datang kembali agar Google bisa memetakan lebih detail.

Lion adalah gambaran dari krisis yang terjadi di India. Anak-anak yang hilang jumlahnya belasan ribu. Apakah mereka diculik, sudah mati, ataukah bergabung dengan kelompok pemberontak. Tidak hanya di India, anak-anak yang telantar menjadi PR bagi bangsa ini. Mereka yang seharusnya dibentuk untuk menjaga negara di masa mendatang. Lion adalah tamparan bagi kita yang menutup mata terhadap anak-anak yang dibiarkan menggelandang tanpa nasib yang jelas.

Film ini dibuat secara bertahap. Untuk pengambilan gambar di untuk Saroo kecil dilakukan paling awal, kemudian lokasi berpindah ke Australia, yaitu Tasmania dan Melbourne. Sepenuhnya berdasar pada buku autobiografi A Long Way Home karya Saroo Brierley.

Trailer Lion (2016):

 

Jogja, 6 Februari 2017

Nisrina Lubis

Nisrina Lubis

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response