Lolita (1997); Film Perjalanan Hidup Pelaku Paedofil yang Manis

Lolita (1997); Film Perjalanan Hidup Pelaku Paedofil yang Manis
Lolita (1997). Sumber gambar: IMDB

Lolita, film adaptasi novel fenomenal karya Vladimir Nabokov ini kabarnya membuat Jeremy Irons mengkhawatirkan masa depan kariernya di dunia film hingga harus terlebih dahulu memastikan bayaran yang akan diterimanya mampu menghidupinya kelak, beberapa tahun mendatang, jika produser film ogah mengajaknya kerja sama gara-gara peran yang kemungkinan menjadi bahan celaan orang. Padahal, ia hanya memerankan seorang ayah tiri yang menjalin hubungan cinta dengan anak tirinya sendiri. Tapi syukurlah, wajah tampannya masih muncul di sejumlah film dan FTV semisal The Man in the Iron Mask dan yang tahun depan akan rilis tahun 2016, Batman v Superman: Dawn of Justice.

Percintaan antara Humbert Humbert, profesor dengan gadis belasan tahun, bagi sejumlah kritikus sastra—yang membedah novel Lolita—memandang bahwa di balik kisah tak bermoral dua manusia ini—ada sebuah keinginan Vladimir Nabokov untuk menggambarkan terampasnya kebahagiaan masa kecilnya dahulu.

Kebahagiaan Lolita—panggilan sayang sang ayah kepada Dolores Haze—sebenarnya sih tidak benar-benar terampas—secara paksa. Lihat saja bagaimana semenjak awal pertama bertemu, tingkah laku Dolores benar-benar menggoda iman seorang pria baik-baik yang membayar satu kamar di rumah keluarga Haze untuk keperluan mengajar. Dolores adalah gadis periang dan selalu mencari-cari perhatian Humbert, seakan itu sesuatu yang wajar. Ibu Dolores pun menganggap tidak ada yang salah dengan kegenitan anaknya di depan seorang pria yang baru dikenal.

Humbert di dalam film Lolita digambarkan sebagai pria yang santun dan penyayang. Tidak ada keanehan sedikit pun selain selalu merasa canggung berada di dekat Dolores. Jika keduanya kemudian menjalin hubungan, itu karena keduanya memang sama-sama saling mencintai. Cinta antara manusia beda usia sangat jauh. Jika usia Dolores sudah di atas 18 tahun—atau berapalah usia seorang perempuan dianggap dewasa di Amerika Serikat sana—tentulah Lolita tidak akan menjadi sebuah film kontroversial yang penayangannya di bioskop sangat terbatas. Humbert pun tidak akan dicemooh sebagai seorang predator anak atau paedofil yang di masa sekarang kembali meresahkan orang tua yang memiliki anak di bawah umur.

Namun, lagi-lagi, inilah cerita yang dihadirkan seorang penulis berdarah Rusia dan kemudian menetap di Amerika Serikat. Meski film Lolita dianggap tidak begitu sukses, namun novel Lolita yang merupakan hasil imajinasi Vladimir Nabokov selama melakukan perjalanan menyusuri bagian barat Amerika Serikat dan hampir dibakarnya jika tidak segera dicegah oleh sang istri yang senantiasa setia menemani ke mana pun dia pergi. Novel yang ditulis selama lima tahun ini berada di no.4 setelah Ulysses karya James Joyce, The Great Gatsby karya F. Scott Fitzgerald, dan A Portrait of the Artist as a Young Man karya James Joyce sebagai Best English-Language Novels of the 20th Century versi Modern Library.

Trailer Lolita (1997):

Jogja 23 Oktober 2015

Leave a Response