Madre (Bentang Pustaka, 2011); Buku Antologi Cerpen Populer Hingga Filosofis Dee

Madre (Bentang Pustaka, 2011); Buku Antologi Cerpen Populer Hingga Filosofis Dee
Madre (Bentang Pustaka, 2011)

Madre. Gue bicara soal sebuah buku setebal 160 halaman karya Dewi “Dee”Lestari, karya kesekian penulis asal kota Bandung yang juga jago bikin lagu. Jika di halaman sampul tertulis Madre; Kumpulan Cerita, mungkin bisa diralat menjadi kumpulan karya. Ada sebuah novelet (tentu saja yang berjudul Madre), kemudian beberapa puisi dan cerita pendek di sini. Apa pun yang tertulis di sampul sebenarnya bukan hal penting. Tapi isinya itu yang bakal gue bahas.

 

Cerita-cerita dalam Madre bisa gue bilang campuran antara tema-tema cinta populer hingga meningkat ke tema filosofis. Tema-tema cinta ringan seperti di dalam novelet Madre yang menghadirkan perjuangan seorang pemuda berdarah campuran untuk menghidupkan kembali toko roti tua yang sudah tutup dan menjaga Madre alias ragi buatan tangan sang nenek yang bisa memberikan cita rasa tersendiri.

Lalu ada juga Guruji yang bercerita tentang dua orang manusia dengan bernama sama, yaitu Ari. Mereka ini seolah punya koneksi batin yang kuat. Keduanya terpisah lalu bertemu kembali meski si Ari pada waktu itu berada di balik sosok yang lain.

Lalu ada juga Menunggu Layang-Layang. Ini ceritanya cocok deh kalau diangkat ke layar lebar. Ceritanya seorang cewek yang bekerja sebagai desainer interior yang di mata si sahabatnya yang seorang arsitek bernama Christian—tapi dipanggil Che oleh Starla—sebagai layang-layang. Ya, Starla ini tidak pernah punya hubungan jangka panjang dengan cowok. Di mata Che, Starla tidak lebih memperlakukan para lelaki sebagai layang-layang. Seorang sahabat Che yang tinggal di London dan kebetulan pulang ke Indonesia pun jadi korban si Starla. Tapi Che selalu mau menjadi tempat curhatan Starla dan juga menjadi pelindung cewek itu ketika berada dalam bahaya.

Selain cerita-cerita itu, apa yang dihadirkan Dee adalah cerita dengan bahasa-bahasa berat yang gue sulit untuk memahami, begitu juga dengan puisi-puisi dia. Menurut gue, Dee ini termasuk penulis yang bisa masuk ke semua dimensi pembaca. Mau yang anak muda kayak gue, bisa. Mau memberikan bacaan buat yang sudah lebih tua dari gue juga bisa. Tinggal pilih aja.

Ini karya Dee yang kembali gue sentuh setelah dulu pernah membaca Ksatria, Putri & Bintang Jatuh kemudian Akar. Gue berhenti di Petir karena tingkat bahasa filosofinya semakin meningkat dan otak gue belum sanggup mengakomodir itu. Jadi wajar ketika Petir, Partikel, Perahu Kertas, Filosofi Kopi, hingga Rectoverso terbit dalam waktu yang berselang tidak lama, gue anteng-anteng aja.

 

My room, Jogja, 31 Maret 2013; 17.00 WIB

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response