Mainstream; Menjadi Aneh Adalah Sebuah Kehebatan

Mainstream; Menjadi Aneh Adalah Sebuah Kehebatan  |
Beberapa hari ini gue lumayan sering denger kata “mainstream” diucapin orang, pingin keluar dari mainstream, biar ga kayak mainstream, pokoknya anti mainstream. Apaan sih bo’ artinya mainstream? Gue nyoba nyari di aplikasi kamus Inggris-Indo BB gue, ternyata kata itu ga terdaftar. Apakah itu bahasa slang atau nidji? (tuweweng! bukan itu woy!)

Akhirnya seorang teman memberi penjelasan bahwa mainstream adalah blablabla (bo’, kok malah maen isilah titik-titik?) Mainstream secara mata per kata adalah jalan utama. Jadi elo harus get out dari yang namanya jalan utama, boleh lewat jalan kampung atau bahu jalan (ngaco)

Banyak orang yang merasa mainstream adalah aib, makanya berlomba-lombalah melakukan hal yang luar biasa meski nggak dapet pengakuan orang lain. Dari sudut pandangnya hebat tapi di mata orang biasa. Begitulah.

Mainstream; Menjadi Aneh Adalah Sebuah Kehebatan
Sumber gambar: glogster.com

Gue sendiri bukan tipe yang terobsesi sama dengan orang-orang itu. Jadi yang biasa-biasa akan lebih nyaman buat gue. Karena bagi gue, tanpa memaksakan diri, kita pun luar biasa. Misal gini, gue di kantor dianggap di luar mainstream. Iyalah, gue itu udah kayak seorang cross-dress (sederhananya, cross dress itu pake baju ga sesuai ama gender tapi gue badan ke bawah). Setiap gue beli baju, pasti milihnya di bagian baju cowok, beli celana, jaket, ampe sepatu juga nggak pernah ke area cewek. Kenapa? Apakah gue orientasi menyimpang? Nggak jugalah. Maksud gue, menyimpangnya itu yang seperti apa. Simpel alasan gue, ga ada size yang sesuai dengan badan gue.

Tau sendiri kan baju cewek itu bentuknya gimana. Lengannya selalu kecil meski ukuran badannya yang gede. Nggak cukup, men. Lengan gue gede karena dulu gue gedein di fitness center (sayangnya begitu gue ga fitness, lengan gue tetep gede, sial!) Paha juga gitu, kaki apalagi. So, busana cowok itu lebih masuk ke gue. Dan gue pun nyaman, perkara di akhirat gue dilaknat Tuhan, udah deh pasrah aja gue. Apa perlu gue operasi biar badan gue lebih cewek (operasi biar dada lebih montok boleh juga) kayaknya nggak banget deh. Ngubah hasil kreasi Tuhan kan dosanya juga besar tuh (silakan lihat surat sekian ayat sekian) Nah itu. So apakah gue out of mainstream, gue sih nggak mikir sampe ke situ. Dan semakin ke sini, yang namanya cross dress itu udah jadi sebuah kelaziman. Apalagi elo pergi ke Thailand sono, udah deh gampang banget nemunya.

Sampai tahap ini, gue pun berpendapat bahwa manusia sebenarnya punya nilai out of mainstream yang kalau dia beruntung maka akan terlihat orang lain dengan mudah. Sementara kalau enggak, ya berbesar hatilah untuk menerima. Lagi pula, selain mendapat reaksi kekaguman orang, apa sih untungnya bersusah payah keluar dari mainstream? Dan apa salahnya berdiri di jalur utama kalau memang di depan nggak ada kemacetan dan traffic light nggak mati?

XXI Cafe, Yogyakarta, 2 Maret 2013 22:13

Leave a Response