Makkah dan Madinah; Dua Kota Muslim di Arab Saudi

Makkah dan Madinah; Dua Kota Muslim di Arab Saudi
Makkah dan Madinah. Sumber gambar: dok. TapakRantau

Makkah dan Madinah. Madinah biasanya menjadi salah satu kota tujuan utama saat umrah, kota lainnya tentu saja Makkah. Dari kota Madinah menuju Makkah, perjalanannya mencapai 6 jam, cukup lama dan melelahkan ditambah lagi, tidak banyak pemandangan yang bisa dinikmati. Salah satu miqot yang digunakan saat umrah adalah Bir Ali, pernah digunakan oleh Rasulullah SAW sekian ribu tahun lalu. Satu-satunya miqot yang jaraknya paling jauh dari kota Makkah.

Masjid Nabawi

Me in Madinah
Sumber gambar: TapakRantau

Di Madinah, terdapat Masjid Nabawi, yang identik dengan jejeran payung-payung raksasa penahan panas di siang hari. Payung-payung itu akan menutup di subuh hari dan hanya orang-orang yang stay untuk ibadah di sepertiga malam yang bisa melihatnya. Sementara kubah masjid juga bisa terbuka dengan cara bergeser hingga membiarkan sinar matahari masuk dan menggantikan udara.

Sang arsitektur masjid memang turut memikirkan seputar aliran udara yang sehat di dalam masjid ini, sebab AC ruangan yang membuat seluruh bagian dalam mesjid menjadi sejuk, tidak sehat jika selalu dihirup manusia. Terbukanya kubah-kubah masjid ini juga membuat burung-burung merpati bisa leluasa keluar masuk ke dalam mesjid. Saya bahkan menikmati ketika suatu kali shalat Dhuha dan satu dua burung merpati terbang wira-wiri di depan saja. Dan tidak hanya masuk ke dalam mesjid, burung-burung ini pun tinggal di lampu langit-langit masjid. Lihat saja ekor-ekor mereka di sana. Entah bagaimana awalnya mereka memilih untuk membuat sarang di tempat yang tidak lazim.

Me in Madinah
Sumber gambar: TapakRantau

Bicara soal Masjid Nabawi, tidak mungkin lepas dari Rasulullah Saw. yang dimakamkan di sana, demikian pula dengan beberapa sahabat. Di sana terdapat Raudhah, dan di sanalah umat Islam memanjatkan doa, meski harus berjejalan.

Raudhah

Saya dua kali berada di Raudhah. Raudhah untuk kaum perempuan, dibuka pada jam-jam terterntu sehari dua kali, pagi dan malam. Karena itu, wajar jika ketika di sana tidak seleluasa berdoa dibandingkan kaum laki-laki yang terbuka 24 jam. Begitu masuk, para askar perempuan bercadar hitam (semua askar pakaiannya memang serba hitam) langsung menyuruh para peziarah untuk shalat dua rakaat, tanpa peduli tempat sangat tidak memungkinkan. Tiap orang harus egois untuk mendapatkan karpet hijau yang memang tempat mustajab untuk berdoa. Dua kali saya berada di sini dan titipan doa teman-teman saya memang tidak mungkin dapat tersampaikan semuanya. Semua doa titipan saya ketik di HP dan membacakan satu per satu memang butuh sekian menit. Mudah-mudahan saja yang sempat saya doakan berkenan untuk dikabulkan Allah Swt.

Al-Qur’an

Di Baitullah ini, yang namanya al-Qur’an jumlahnya ratusan dengan bentuk dan ukuran yang sama. Katanya sih keluaran Madinah. Sampulnya warna hijau keemasan atau biru keemasan. Banyak orang yang sengaja mewaqafkan al-Qur’an sebagai bentuk sedekah. Coba bayangkan, jika al-Qur’an yang kita sedekahkan itu lalu dibaca orang lain. Amalannya kan bakal terus-menerus masuk ke kita. Kalau buat koleksi pribadi, bisa juga sih, dengan catatan, rutin membacanya. Harga al-Qur’an original (biasanya di halaman paling belakang, belakang kalau dibuka dari kanan kan berarti paling kiri, ada cap pemerintah Saudi) berkisar 30-50 SAR (1 riyal-3200 rupiah). Bisa dibeli di toko kitab, di dekat Masjid Nabawi ada. Kalau bisa sih, sedekahinnya untuk Masjid Nabawi dan Masjidil Haram. Nggak buat koleksi pribadi semata. Nggak ada pahalanya ngoleksi al-Qur’an.

Askar

Baik di Masjid Nabawi maupun Masjidil Haram, pasti ada yang namanya askar. Mereka ini penjaga masjid. Di Masjid Nabawi saya jarang melihat askar laki-laki, sementara di Masjidil Haram selalu terlihat menjaga pintu. Saya tidak tahu, askar ini berasal dari bangsa apa saja, yang pasti tidak semuanya Arab, karena badan saya lebih besar dari mereka. Askar perempuan ini konon katanya memang sangat galak/tegas. Tugas mereka itu antara lain:

Memeriksa isi tas para jamaah perempuan. Biasanya untuk memastikan tidak membawa kamera. Padahal, zaman sekarang kamera itu kan sudah menyatu dengan ponsel. Dan percaya atau tidak, jemaah yang mendapat pemeriksaan ketat hanyalah yang berasal dari Indonesia dan negara-negara tetangga. Yang memakai baju-baju hitam dan jelas-jelas berbangsa Arab mana pernah isi tasnya digrepe-grepe. Maka dari itu, kalau mau ke Masjid Nabawi, pakailah baju-baju hitam seperti orang Arab atau Iran. Para askar ini nggak bakal rewel. Tapi memang, ada kalanya mereka begitu longgar. Sekali saya bisa lolos, berhasil melewati pemeriksaan. Itu kondisi sedang begitu ramai. Satu pintu biasanya dijaga askar. Ada kalanya juga saya bertemu dengan askar yang ramah, yang menyapa saya dengan, “Welcome, Sister” dan saya yakin dia tersenyum pada saya meski wajahnya tertutup cadar.

Mengatur shaf. Saya akui, shaf jamaah di Masjid Nabawi lebih teratur ketimbang di Masjidil Haram. Para askar ini juga memang turut berjasa memastikan tidak ada barisan-barisan yang kosong. Begitu semuanya penuh, maka pembatas shaf akan dilepas sehingga shaf sisi kiri dan kanan akan terisi dengan otomatis.

Mengatur para peziarah Raudhah. Sepengamatan saya, peziarah Raudhah punya pengelompokan tesendiri, mulai dari Iran (biasanya mereka diberi kesempatan masuk lebih dulu karena shalat mereka 20 rakaat), lalu ada India, Pakistan, Indonesia dan Malaysia. Jangan harap bisa menyusup ke barisan negara lain karena orang-orang Indonesia punya ciri berpakaian sendiri. Wajahnya pun juga sangat mudah dikenali. Para askar ini sangat hafal dengan para peziarah. Kalau sudah sekian menit, mereka tanpa segan akan mengusir ke pintu keluar.

Menegur jamaah yang berpakaian seksi. Saya tidak tahu apakah hal ini dialami jamaah yang lain atau tidak. Saya dua kali ditegur oleh askar karena kemeja saya tergolong pendek. Belum menutupi bagian bokong. Pertama kali saya ditegur ketika keluar dari Raudhah, selain karena saya kedapatan memotret bagian dalam masjid. Yang kedua, ketika saya ke masjid sekitar pukul sepuluh malam. Karena cuaca dingin, saya juga mengenakan jaket. Di pintu sih saya tidak ditegur, tetapi ketika masuk ke dalam masjid (dan rupanya saya salah masuk, ruangan itu difungsikan sebagai ruang tunggu masuh Raudhah). Seorang askar langsung mendekati saya dan menanyakan busana saya yang seperti itu, dia menunjuk-nunjuk pakaian saya lalu saya balas dengan menunjuk-nunjuk tas, mukena saya ada di dalam tas, maksud saya gitu. Lalu entah dia bicara apa lagi dan beristighfar, saya pun cepat-cepat mengenakan mukena dan keluar dari sana dan mencari tempat lain yang bukan untuk para peziarah.

Para pedagang

Para pedagang rupanya juga punya prinsip nyari rezeki sejak pagi hari biar nggak dipatok ayam. Ya, setelah shalat Subuh, para pedagang pun mulai menggelar lapak-lapaknya di depan area Masjid Nabawi. Banyak sekali yang mereka jual, mulai dari gamis, pernak-pernik, sepatu, pasmina, dan sebagainya. Tentu saja pelanggan mereka memang banyak. Jadilah orang sibuk dengan transaksi dagang. Harga barang di sini memang terbilang murah dan bisa ditawar. Untuk gamis dijual dengan harga 30 riyal, pashmina 10 riyal. Buah-buahan pun murah ketimbang kita membeli di Indonesia. Rata-rata para penjual di sana memang ramah, tetapi saya kurang begitu suka dengan penjual wanita yang berkulit hitam, karena barangnya susah ditawar dan barangnya tidak bisa sesukanya dibuka-buka.Hati-hati jika Anda seorang perempuan yang senang jalan-jalan sendiri. Para pria Arab berbeda dengan para pria Indonesia.

Mengapa aturan berhijab di Arab sangat ketat dibandingkan negara kita, karena memang pria Arab lebih “berbahaya”. Banyak cerita tidak mengenakkan yang dialami orang-orang Indonesia di Makkah maupun Madinah, mulai dari pelecehan hingga perkosaan. Konon, orang-orang Indonesia adalah sasaran empuk, karena sikap ramahnya.Pernah suatu malam, saya sengaja jalan-jalan sendirian ke toko suvenir yang tidak jauh dari hotel saya menginap. Saya mengenakan celana kain dan kemeja (oh ya pastinya selalu menutup kepala dan leher ya). Banyak toko berjajar menawarkan berbagai barang dengan harga murah.

Saya pun singgah di salah satu toko dan melihat ada gantungan kunci unta. Si penjaga toko, seorang pria Arab yang lumayan ganteng, kemudian mempersilakan saya melihat-lihat. Saya pun menawar gantungan kunci, lumayan murah. Lalu saya masuk ke dalam, Di dalam ada pria Arab yang badannya cukup tinggi besar, ngakunya sih ada darah Indonesianya, walaupun saya meragukan, secara dia tidak bisa berbahasa Indonesia sama sekali. Selain berdagang, pria ini suka merayu juga. Dan saya hanya menanggapi dengan senyuman. Maklum, rayuan dia cenderung jadul dan kurang memikat. Sorry, you’re not my type. Dan saya rasa, para pedagang ini selain senang merayu, juga mudah melamar perempuan yang baru saja dikenalnya. Ya, saran saya, khusus untuk di Arab ini, meski berada di zona tanah haram, jangan pergi sendirian ke mana-mana. Pastikan juga Anda mengenakan pakaian yang benar-benar tidak menarik perhatian bahkan sampai memperlihatkan lekuk tubuh. Demi keamanan Anda sendiri juga.

Sedekah

Saya mungkin bukan orang pertama yang heran mengapa di Masjid Nabawi dan Masjidil Haram tidak disediakan kotak amal seperti halnya di masjid-masjid di tanah air. Ya, karena bersedekah bisa langsung diberikan kepada yang memang berhak, seperti para tukang sapu di dalam dan luar masjid, pengemis, atau bahkan karyawan hotel. Berikan kapan dan di mana saja, insya Allah, akan diberikan balasan yang berlipat ganda.

Wi-fi

Ketika berada di Madinah, di hotel sama sekali tidak menyediakan fasilitas wi-fi, sementara di Makkah, saya bisa online di lobi hotel. Sebagai gantinya, jika Anda memang memerlukan jasa internet, bisa menggunakan kartu STC (provider Arab). Beberapa jamaah memang mengganti kartu SIM Indonesia ke STC, juga karena untuk menelepon pun lebih murah.

Jabal Magnet

Makkah dan Madinah
Makkah dan Madinah. Sumber gambar: TapakRantau
Makkah dan Madinah
Makkah dan Madinah
Makkah dan Madinah
Makkah dan Madinah

Salah satu tempat unik yang saya kunjungi di Madinah adalah Jabal Magnet. Di sini, kekuatan magnetnya memang luar biasa besar. Bus dengan kapasitas penumpang 40-an orang pun tidak berdaya melawannya. Bis terasa berat ketika arah pergi. Dan kendaraan lain pun demikian. Berbeda dengan saat pulang, dengan gigi netral pun, kendaraan bisa melaju hingga kecepatan 120 km/jam. Cukup berbahaya sehingga pernah terjadi kecelakaan yang cukup fatal beberapa waktu lalu.Di Jabal Magnet pun juga terdapat batu yang bertuliskan lafazh Allah.

Menghargai Perbedaan

Ketika berada di Makkah dan Madinah, kita memang dipaksa untuk membuka mata, melihat begitu banyak perbedaan dan tidak perlu mempersoalkannya terlalu berlebihan. Ada beragam orang dengan cara shalat yang berbeda beda. Rasanya tidak perlu kita menganggap cara mereka salah lalu kitalah yang paling benar. Karena bisa jadi, apa yang di mata kita salah, ternyata Allah menerima yang itu sementara Allah tidak menerima ibadah kita karena alasan lain. Dan jangan pula mengorbankan shalat sendiri dengan sibuk memperhatikan cara orang shalat di depan atau samping kita. Pikirkan saja diri sendiri dan biarkan orang lain dengan keyakinannya masing-masing.

 

Medan, 18 Mei 2014

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response