Malioboro KulineRUN 2017; Kuliner di Tengah Ajang Lomba Lari

in Olahraga by
Malioboro KulineRUN 2017; Kuliner di Tengah Ajang Lomba Lari
Malioboro KulineRUN 2017. Sumber gambar: visitingjogja.com

Belum sepenuhnya kembali ke stamina sesungguhnya setelah ikut Borobudur Marathon 2017, saya ikut lagi lomba lari 10K di event Malioboro KulineRUN 2017. Agak nekat memang, karena waktu recovery kurang dari seminggu, dan di pertengahan minggu saya mencoba freeletics dan membuat bawah bawah tubuh saya sakit semua. Lower body ya maksud saya, bukan area yang itu. Freeletics memang kelihatannya latihan yang sederhana, tanpa melibatkan alat berat, murni mengandalkan berat tubuh. Tapi, latihan pertama akan membuat otot terkejut, terlebih saya mencoba cukup banyak gerakan yang mengutamakan penguatan tubuh bagian bawah. Beberapa hari naik dan turun tangga menjadi siksaan. Kosan dan kantor saya semuanya di lantai 2. Belum lagi ketika shalat. Lima kali sehari adalah siksaan selanjutnya. Ketika hari Sabtu, siksaan itu memang mereda, tapi belum pulih. Sementara sakit di lutut masih sesekali terasa dan saya nggak tahu itu sebenarnya apa. Mungkin dalam beberapa minggu saya akan stop lari dulu.

Kembali ke Malioboro KulineRUN. Acara ini dilangsungkan hari Minggu 26 November 2017 di Inna Garuda, Jalan Malioboro pastinya. Pendaftarannya sudah sekitar sebulan lalu. Saya beli yang pas hari Sumpah Pemuda, alias diskonan. Awalnya kalau tidak salah 175.000 menjadi 110.000 atau sekitar segitulah. Pendaftaran offline, pengambilan race pack, hingga pelaksanaan acara di hotel itu. Awalnya saya agak mikir, dengan bentuk hotel seperti itu, bagaimana pengaturan  semuanya.

Rupanya tempat parkir akhirnya dikosongkan. Saya nggak tahu mobil-mobil tamu akhirnya dialihkan ke mana. Untuk pengendara motor diharuskan parkir ke Abu Bakar Ali alias di utara hotel. Saya akhirnya menjajal tempat parkir bertingkat itu yang kelihatan dari jauh sangatlah keren, ternyata biasa saja. Tidak ada tiket parkir, harga parkirnya pun 3.000. Mahal ya. Untuk tarif flat.

Dalam race pack, sudah ada rundown acara yang sangat mudah dipahami, kapan start dimulai.

Nah, ini adalah event lomba lari yang pertama kalinya menghancurkan mood saya sedari awal.

Kenapa?

Saya kasih detail rundown-nya Malioboro KulineRUN 2017 dulu.

05.30-06.00 Runners gather at gate

06.30.-6.45 Warming up

06.45-06.69 Opening, race briefing, singing Indonesia Raya

07.00 Race start 10K

07.15. Race start 5K

07.30. Race start 2,5K

08.00 Stage performance, door prize, singer, dancer, bazaar makanan, winner announcement

 

Ketika saya memarkirkan kendaraan di Abu Bakar Ali, saya mendengar lagu Infonesia Raya. Jam tangan saya menunjukkan waktu sekitar 06.30. Dalam hati saya bertanya-tanya, kok jam segitu sudah lagu kebangsaan? Saya hafal luar kepala rundown itu ketimbang rute lari saya nanti. Saya pun melihat masih banyak peserta yang berkeliaran di sekitar area parkir. Setelah mampir toilet, saya pun menyeberang ke Inna. Ada WhatApp masuk tapi tidak saya baca karena saya makin merasa ada yang tidak beres bahkan ketika mendengar MC di panggung mengatakan, “Berikan tempat buat yang 10K.”

Ketika menitipkan tas, saya panik ketika bilang peserta 10K sudah berangkat. Saya sekilas lihat jam. Masih 06.45. Begitu barang saya sudah dititipkan, saya pun langsung lari ke garis start yang penuh dengan peserta 2,5K dan peserta 5K sudah berangkat. Nomor BIB tidak sempat saya pegang, pemanasan sama sekali tidak sempat, STRAVA pun tidak merekam aktivitas saya. Lengkap sudah. Hancur sudah mood saya tapi saya merasa saya harus menyelesaikan apa yang saya mulai. Saya cemas karena tidak pemanasan. Saya takut terserang kram di tengah jalan. Tapi saya tetap berlari melewati peserta yang berjalan santai. Semakin kelihatanlah kalau saya peserta 10K paling belakang ketika di perempatan titik nol karena rute dengan 5K berbeda. Saya harus mengambil belokan ke kanan, 5K ke kiri.

Jarak saya dengan peserta 10K sudah sangat jauh. Kalau saya pantau dari rekaman peserta di STRAVA, start dimulai pukul 06.39. Berarti sekitar selisih 10 menitan. Asal tahu saja, itu artinya saya sudah ketinggalan sangat jauh. Kalau pun ada beberapa peserta yang saya salip, itu karena mereka berjalan.

Malioboro KulineRUN 2017; Kuliner di Tengah Ajang Lomba Lari 2
Foto: Desy Wijaya

Pertanyaan saya, kenapa panitia Malioboro KulineRUN 2017 mempercepat start begitu rupa? Saya tahu, tidak bisa membandingkan event ini dengan Borobudur Marathon yang benar-benar ontime mengingat status internasionalnya. Saya lebih suka jika start-nya molor ketimbang dipercepat tanpa alasan dan panitia seolah tidak ambil pusing. Hey, nggak bisa kayak gitu dong.

Ketika pertama kali membaca rundown, saya agak heran. Serius nih start pukul 07.00? Andaikan cerah, itu akan sangat panas. Mendung pun tidak banyak membantu, terlebih, rutenya adalah jalan besar di mana saya dan para peserta lainnya harus mengisap karbondioksida. Itu benar-benar makin membuat saya kesal. Saya nggak tahu pace saya berapa, berapa lama saya berlari. Satu-satunya yang membuat saya sedikit lebih baik adalah saya bukan yang paling belakang.

Untung saja salah satu teman kantor saya datang dan saya mau dia tahu kalau saya kesal, tapi saya nggak mau membuat dia juga bad mood. Saya ngomel ke dia tapi sambil ketawa. Dia paham. Dia sekalian mau meliput acara itu lalu saya temani mewawancarai dua teman saya yang suka lari dan dua pelari yang dapat podium di 5K dan 10K. Semuanya dari luar negeri.

Oh ya, juga tentang beberapa KEHARUSAN yang saya pertanyakan.

PERTAMA, harus sudah tiba 1 jam sebelum race. Di Borobudur Marathon, peserta 10K saja 30 menit menjelang start saja masih berdatangan lho. Dan berjalan sangat santai. Kok saya tahu? Lah saya kan nongkrong dekat toilet di pintu masuk. Dan jam panitia, persis sama jarum jamnya dengan jam saya. Detiknya doang yang beda.

KEDUA, peserta harus menggunakan jersey. Ini keanehan lainnya karena setiap pelari punya jersey kesayangan masing-masing. Saya juga. Saya malah pakai jersey sepeda. Akhirnya saya mendobel jersey saya dan jersey dari panitia. Tipis memang jersey dari panitia dan bahannya sama dengan jersey sepeda, tapi terasa panas juga lama-lama ketika dipakai lari. Kenyataan di lapangan, banyak yang tidak mengenakan jersey itu dan tidak kena teguran. Setelah finish, jersey dari panitia langsung saya lepas dan simpan di tas.

Ya, lagi-lagi kesempurnaan itu milik Tuhan, tapi perkara komitmen itu sepenuhnya otoritas manusia. Sayang sekali, Malioboro KulineRUN 2017 dengan begitu banyaknya sponsor tapi memunculkan komplain seperti ini. Semoga untuk event serupa berikutnya jauh lebih terorganisir lagi.

 

Jogja, 28 November 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*