Manusia 100 Persen

Menjadi manusia 100 persen dalam banyak hal adalah impian semua orang . Dapat pula menjadi obsesi yang menggebu-gebu.

Dalam buku Master of Stupidity, Toba Beta mengatakan: Practice doesn’t make perfect. Practice reduces the imperfection. Yepp, satu dari sekian banyak kata bijak yang ingin menekankan bahwa manusia dengan berbagai kelebihan dibandingkan makhluk Tuhan di langit dan bumi, masih sangat jauh dari pencapaian di luar batas kemampuannya, tingkat sempurna 100 persen.

Dalam dunia blogging, tingkat kesempurnaan itu adalah 100 persen versi GT Metrix atau PageSpeed Insights milik Google Developers. Menjadi satu kepuasan tersendiri, jika seorang pengelola situs web bisa mendapatkan hasil yang ideal dengan bar hijau penuh untuk setiap poin parameternya. Berpayah-payah mengoptimasikan satu demi satu gambar yang terlalu besar hingga ukuran seperlunya, meringkas belasan script hingga tinggal beberapa saja, sampai menambah expires headers tanpa menambah penggunaan plugin baru. Perlu waktu khusus untuk melakukan berbagai penyesuaian itu hingga hasil pengukuran kecepatan loading-nya sempurna. Perfect A. 100 persen untuk Page Speed dan YSlow.

Jangan berharap situs web perfect A akan memiliki tampilan glamor, dengan slider cantik 3D fade in-fade out, 3-4 kolom, 4 footer, animasi penuh, thumbnail besar, dan berbagai fasilitas penuh gaya lainnya. Justru sangat identik dengan kesan “hambar”, serbaterbatas, tidak ada satu pun thumbnail meski hanya 100×100 pixel, 2 kolom, sidebar yang membosankan. Akui saja jika selera algoritma yang jauh dari pemenuhan sisi estetika manusia.

GT Metrix tidaklah populer di mata orang-orang bercita rasa seni tinggi sekelas fotografer brand lingerie Victoria’s Secret, Russell James. Situs web menjadi galeri untuk memamerkan hasil jepretan artistiknya kepada publik. Orang akan melihat jam terbangnya hanya dari angle pengambilan gambar yang berciri khas, detail-detail yang selalu terabadikan oleh lensa kamera harga puluhan juta rupiah, lalu sentuhan akhir dengan mengatur komposisi warna. Warna adalah kekuatan yang secara langsung mempengaruhi jiwa, begitu kata Wassily Kandinsky.

Analogi ini bisa diterapkan pada diri kita. Estetika adalah dunia, GT Metrix adalah akhirat. Estetika akan membuat manusia berlomba-lomba mencari lebih banyak warna dunia, mencicipi, lalu terhanyut di dalamnya. Jawaharlal Nehru mengatakan: kita tinggal di dunia yang luar biasa, yang penuh dengan keindahan, daya tarik, dan petualangan. Tidak ada ujung dari petualangan yang bisa kita dapatkan seandainya mencari dengan mata terbuka. Dunia adalah satu skenario, bukan satu-satunya dalam perjalanan manusia. Dunia hanyalah awal, ending-nya bukan di sana. Dunia hanyalah tempat menabung modal untuk memulai hidup baru di akhirat. Tidak ada ceritanya manusia melewati tahap hidup di dunia dan langsung masuk ke akhirat sana. Semua manusia pasti lahir di dunia, kecuali Adam dan Hawa.

Manusia punya pilihan akan bersenang-senang di mana. Di dunia, dengan menjadi bagian hedonisme yang memabukkan, harta yang sering kali dibuang percuma, jiwa yang mudah tergoda, arogansi yang tinggi, dan hawa nafsu yang merajalela.

Atau memilih berpuas-puas di akhirat kelak, hidup lurus-lurus saja, jauh dari nafsu pamer, menggigil saat akan berbuat dosa, dan mulutnya terlalu berat untuk berbicara kotor. Orientasi hidup akan menentukan setiap langkah yang dipilih masing-masing individu selama masih berada di dunia. Akhirat hanyalah lanjutan dari segala konsekuensi yang telah kita buat selama keberadaan beberapa puluh tahun bernaung di bumi.

Lagi-lagi hidup adalah absolut pilihan individu. Biarkan saja para polisi moral di luar sana yang merasa punya hak begitu besar untuk mengatur hidup manusia lain dengan dasar yang benar tapi sayang, aplikasinya salah jalan. Niat baik mereka akhirnya terkubur dengan persepsi-persepsi yang entah mereka dapatkan dari mana. Sikap beringas yang melupakan prinsip dasar pendekatan dengan lemah lembut. Penghakiman yang sangat luar biasa sok tahu, melangkahi otoritas Tuhan Yang Maha Tahu. Ah ya, mungkin mereka ini memang sudah lelah. Beristirahatlah dulu, Kawan.

Menjadi manusia 100 persen apakah begitu sulit?

 

Jogja, 29 Juni 2015

Tags:
Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com