Manusia Kamar; Bahas Cerpen karya Seno Gumira Ajidarma

Bahas cerpen kali ini judulnya Manusia Kamar, karya Seno Gumira Ajidarma

Manusia Kamar; Bahas Cerpen karya Seno Gumira Ajidarma
Sumber gambar: bk.asia-city.com

Saya bukan peminum bir dan semua minuman beralkohol. Tapi rasa bir saya tahu dari cerita para peminum bir. Mereka mengatakan bir itu pahit tapi menghangatkan tubuh. Banyak penulis yang begitu getol memasukkan minuman beralkohol ke dalam cerita-cerita yang dibuatnya. Entah itu sebagai bagian penting, semisal si tokoh adalah peminum bir kelas berat, atau hanya sebagai “penambah rasa” yang tidak menjadi bagian signifikan.

Seno adalah tipe yang pertama. Membaca cerpen-cerpen Seno sedikit banyak membentuk perspektif dalam kepala saya, bahwa bir adalah minuman yang akrab dengan kehidupannya.

Bir adalah minuman beralkohol rendah dengan harga terjangkau, bisa dibeli sekaligus botolnya. Jika sering menonton film-film luar negeri, wine, sampanye, vodka, wiski, tequila dan sebagainya tidak dijual sebotol, tapi per sloki dan meminumnya disesap aseolah menikmati harganya yang begitu mahal.

Cerpen Manusia Kamar merupakan cerpen ketujuh, dimuat di Harian Kompas 12 April 1981, 1988, 2000, Tidak ada penjelasan mengapa media yang sama sampai membuat cerpen ini 3 kali berturut-turut. Lagi, Seno memperbarui cerpen Manusia Kamar di bulan September 2013. Berarti yang versi saya baca sudah banyak penyesuaian. Apa yang diubah pada versi aslinya, hanya Seno yang tahu persis penyebabnya.

Cerpen Manusia Kamar menampilkan tokoh seorang antisocial yang merasa bahwa pertumbuhan dunia tidaklah sehat. Pandangan idealisnya selalu berpendapat demikian. Pemikiran yang lahir dari buku-buku karangan orang pintar yang berbicara tentang dunia versi masing-masing. Mungkin buku filsafat. Pembaca buku filsafat identik dengan kegilaan, bukan. Kegilaan yang didapatkannya tak mampu diredam oleh pembacaannya terhadap kitab suci. Sebuah proses pencarian jati diri yang panjang.

Sambil menikmati kelanjutan si tokoh yang bosan pada realitas dunia, Seno memamerkan gaya baru dalam deskripsi latar dengan frase, kalimat pendek, kelompok kata. Tiba-tiba menyebut biru. Biru yang bisa diasosiasikan pada banyak hal. Langit yang cerah. Laut yang sehat. Seragam sekolah ABG, bekas memar di wajah.

Ketiba-tibaan Seno menyebut warna biru buat saya menjadi pertanyaan. Apa makna biru bagi Seno pribadi? Apa yang membuatnya memilih warna itu untuk menyamakan dengan sebuah dominasi yang begitu kuat.

Seno sejenak mengambil tokohnya dari peredaran. Menyembunyikannya di suatu tempat. Menjadikannya tokoh tak terlihat, sulit terlacak. Terdorong oleh bacaan-bacaannya, karena idealismenya yang terusik. Namun tokoh itu tetap ada, memastikan dirinya selalu ada. Dalam bentuk tulisan. Yang menjadi seorang pemenang, tapi enggan memunculkan diri. Rupanya si tokoh memang antisocial sejati.

Di saat seorang tokoh berhasil menemukan jejaknya, sama sekali tidak memecahkan berbagai misteri yang ada. Si tokoh antisocial memilih membatasi ruang geraknya meskipun secara tak kasatmata ia memilih pengaruh yang besar. Boleh jadi, sebenarnya dia adalah orang penting yang berada di balik pecahnya Perang Dunia.

 

Jogja, 13 Desember 2015/11 Mei 2016

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response