Marajo (Sabil, 2012); Novel Tentang Putra Iskandar Zulkarnain

Marajo (Sabil, 2012); Novel Tentang Putra Iskandar Zulkarnain
Marajo (Sabil, 2012). Sumber gambar: divapress-online

Marajo, Dengan seluruh kemampuan mencerna isi tambo serta racikan imajinasi yang luwes, Amran S.N. mengajak pembaca terhanyut dalam kisah panjang.

Sedemikian melekatnya sastra lisan yang berasal dari Minangkabau dalam benak masyarakatnya hingga sampai saat ini masih saja terjaga. Tambo adalah sebutan bagi tradisi lisan di mana cerita dituturkan dengan nyanyian. Isinya tidak lain mengenai asal-usul nenek moyang masyarakat Minangkabau. Ini menjadi sangat menarik karena Iskandar Zulkarnain diyakini masih memiliki pertalian darah dengan nenek moyang masyarakat Minangkabau.

Iskandar Zulkarnain menikahi Putri Kandauxia yang kemudian lahirlah tiga putra yang di kemudian hari menjadi penguasa di tiga belahan dunia yang berbeda. Olif berhasil menjadi Kaisar Romawi, Difang bertahta di Cina, sedangkan Marajo akhirnya setelah melalui perjalanan panjang, sampailah di tanah Minang.

Dengan seluruh kemampuan mencerna isi tambo serta racikan imajinasi yang luwes, Amran S.N. mengajak pembaca terhanyut dalam kisah panjang yang tidak menjemukan. Cerita dimulai dengan huru-hara setelah kematian Iskandar Zulkarnain dan dorongan kudeta yang sedemikian ganas. Ini menyebabkan sang selir, Putri Kandauxia, membawa ketiga putranya yang masih kecil-kecil meninggalkan kerajaan yang sudah tidak lagi aman. Di belakang mereka, mengejar orang-orang yang begitu bernafsu menghabisi keturunan Iskandar Zulkarnain. Tapi nasib baik masih berada di pihak Putri Kandauxia. Mereka bisa lolos dari kejaran itu meskipun pada akhirnya mereka terpisah hingga bertahun-tahun.

Pengarang lalu dengan asyiknya menceritakan petualangan Difang dan Marajo melalui begitu banyak rintangan bahkan yang sampai mengancam keselamatan nyawa keduanya. Tapi, lagi-lagi nasib baik ada di pihak mereka karena berbagai bentuk pertolongan tidak henti-hentinya berada di dekat mereka. Marajo pun diceritakan memiliki kekuatan yang begitu dahsyat hingga tidak terkalahkan.

Fokus selanjutnya kemudian semakin menyempit kepada Marajo, di mana ia memutuskan untuk berpindah ke negeri Andalas setelah ia menyandang gelar maharaja di negeri Thay. Kedatangan Marajo disambut baik karena rupanya, orang-orang dari kerajaan terdahulu berada di sana. Mereka dengan tangan terbuka menyambut kedatangan sosok penuh karisma tersebut dan menjadikannya penguasa di tanah Minang hingga beranak cucu di sana. Sungguh sebuah novel yang sanggup membuat pembaca semakin penasaran kelanjutan ceritanya dan berdecak kagum dengan kuatnya alur di dalamnya.

Judul: Marajo
Penulis: Amran S.N.
Penerbit: Sabil
Terbit: September 2012

Leave a Response