Marguerite (2015); Film Tentang Sosialita dan Ambisi Penyanyi Opera

Marguerite (2015); Film Tentang Sosialita dan Ambisi Penyanyi Opera
Marguerite (2015). Sumber gambar: IMDB

Marguerite (2015) tergolong sukses di Prancis dengan membawa pulang begitu banyak penghargaan di 2 festival besar. Bagaimana tidak, 4 dari 11 kategori di César Awards diserahkan untuk kategori Best Costume Design, Best Actress, Best Production Design, Best Sound. Juga 1 dari 4 kategori di Lumiere Awards, yaitu Best Actress.

Tokoh Marguerite Dumont terinspirasi dari tokoh sosialita Amerika Florence Foster Jenkins (tidak lama berselang, diadaptasi ke layar lebar dengan bintang Meryl Streep dan Hugh Grant namun gagal meraih satu penghargaan pun di Academy Awards dan Golden Globes, saya belum nonton hingga tidak bisa berkomentar).

Marguerite Dumont (Catherine Frot) adalah seorang istri bangsawan sosialita yang punya hobi menyanyi opera. Dia tampil bersama sebuah band sewaan hanya untuk kalangan terbatas. Mengapa tidak tampil di depan publik yang lebih luas. Karena suaranya fals abis. Dia sama sekali tidak tahu nada, okelah melengking-lengking, tapi hanya membuat sakit telinga. Orang-orang tahu tapi mereka tidak berani mengkritik langsung. Terlebih, suami dan seisi rumah selalu bersikap pro kepadanya.

Untuk resital-resital yang diadakan di rumahnya, memang tidak hanya dia sendiri yang menyanyi. Setidaknya orang tidak dibuat merasa ingin mati saja jika diundang. Hazel (Christa Théret) adalah salah satu penyanyi muda bersuara sopran yang pernah ditawarkan untuk menyanyi di rumah Marguerite. Dia dikagetkan tidak hanya oleh bayaran yang terbilang besar bagi penyanyi baru sepertinya, juga ketika mendengar suara Marguerite. Mau ketawa tapi tidak enak. Tapi dari mimiknya, terlihat geli dengan kekonyolan itu.

Dalam resital itu juga, Hazel berkenalan dengan 2 pemuda miskin dari sebuah media cetak yang masuk dengan cara menyusup. Lucien Beaumont dan Kyrill Von Priest. Kyrill Von Priest memuji-muji penampilan Marguerite. Dia adalah seorang penyair yang sedang memperjuangkan eksistensialismenya. Kedua pemuda itu mendekati Marguerite tidak tanpa alasan. Lucien berharap lukisan-lukisannya dilirik oleh si sosialita yang tidak hanya senang menyanyi, tapi juga berfoto. Sisi narsistiknya tidak tanggung-tanggung. Madelbos adalah pelayan yang mendokumentasikan itu hingga jumlahnya sangat banyak. Loyalitasnya pada si majikan perempuan tidak diragukan. Ketika suami Marguerite pernah berencana menyabotase mobil agar Marguerite gagal menemui seorang penyanyi opera gay Atos Pezzini, Madelbos datang sebagai pahlawan.

Tujuan Marguerite menemui Atos Pezzini si penyanyi opera berskandal dan nyaris bangkrut adalah menawarinya sebagai guru menyanyi untuk konser perdana Marguerite di depan publik. Awalnya Pezzini menolak begitu mendengar kualitas suara yang benar-benar buruk. Tapi, skandalnya menjadi bumerang. Dia bersedia menjadi pelatih vokal bersama 3 rekannya.

Suara kalau sudah dari sananya fals yang tetap saja fals. Dilatih dengan metode bagaimana, tidak akan banyak mengubah. Marguerite terus memaksa diria agar bisa mengeluarkan suara emasnya, tapi gagal. Pezzini frustrasi dibuatnya. Jadwal konser semakin dekat dan tidak ada perubahan.

Film ini bernuansa komedi dan satire dari dialog-dialog tokohnya. Romance yang hanya setengah jalan dari Hazel yang tengah mengejar mimpinya menjadi penyanyi opera dengan Lucien yang miskin dan tidak percaya diri. Keindahan kostum-kostum dan cantiknya interior rumah Marguerite yang bersetting di tahun 1920-an, setelah era pahit Perang Dunia 1. Lalu ditutup dengan ending yang memilukan.

Terkadang mimpi bisa membuat kita melupakan realitas hidup.

Trailer Marguerite (2015):

Jogja, 3 April 2017

Nisrina Lubis

Nisrina Lubis

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response