Maria Tsabat (DIVA, 2012); Novel Tentang Perempuan Biola

Maria Tsabat (DIVA, 2012); Novel Tentang Perempuan Biola
Maria Tsabat (DIVA, 2012). Sumber gambar: divapress-online

Maria Tsabat adalah sosok berpredikat elegan dan memiliki sensualitas tinggi yang menjadi “orbit” cerita dalam novel terbaru karya herlinatiens ini. Sosoknya berhubungan dengan tokoh-tokoh lain yang kemudian juga berperan sebagai “orbit-orbit kecil” cerita tersendiri.

Maria mewakili karakter seorang perempuan dengan watak tegas, kritis, dan liberal dengan segenap pemikiran yang tidak jauh-jauh melenceng dari dunia politik. Sisi karakter lainnya adalah perempuan yang begitu lembut, tercermin dari kecintaannya terhadap musik dan juga perhatian pada sang putri semata wayang, Maia Diatri atau Jeng.

Novel ini diawali dengan penceritaan dari sudut pandang Canang, seorang fotografer muda yang tertarik untuk membuat pameran foto untuk Maria Tsabat. Itu adalah alasan ia pakai untuk mendekati Jeng—seorang penari asal kota Yogya yang sama sekali tidak tahu bahwa dirinya adalah putri sang violinis tersebut. Dari sini tergambar dengan cukup jelas alur yang akan dipakai si pengarang di sepanjang cerita.

Penceritaan selanjutnya kemudian beralih ke sudut pandang Maria, tanpa adanya transisi bab yang signifikan. Di sini, pembaca tidak akan menemukan judul-judul bab sebagaimana sebuah novel pada umumnya.

Maria menguraikan perasaan kecewanya pada sosok Romo:

Saya akan menangis setelah mengatakan betapa saya membencinya. Saya akan mengutuk hari di mana saya bertemu dia untuk yang pertama kalinya. Saya akan meminta pada Tuhan untuk mengembalikan hari-hari saya yang hancur karena dia. (hlm. 17).

Romo, Haidhar, dan John kemudian turut menjadi pencerita di dalam buku setebal 386 halaman ini secara bergantian bak potongan-potongan mozaik yang kemudian membentuk sebuah gambar cantik di dalam bangunan kuno.

Di pembacaan pertama, novel ini terkesan terlalu sulit untuk dipahami, terlebih ada sejumlah bagian di mana transisi tokoh dibuat sebegitu halus, tanpa penanda sehingga pembaca mau tidak mau kembali ke awal dan membaca sekali lagi. “Tekstur-tekstur” kompleks di dalam novel ini memang patut diacungkan jempol. Tidak hanya itu, gaya bahasa, puisi, serta, pilihan kata yang rumit pun menjadi penyempurnanya. Novel yang mengambil setting dominan di Pulau Bali dan sarat dengan sorotan budaya lokal ini memang dipersiapkan pengarang begitu matang sebagai come back-nya ke dalam dunia sastra Indonesia setelah vakum berkarya hampir enam tahun.

Judul: Maria Tsabat
Penulis: herlinatiens
Penerbit: DIVA Press
Tebal: 386 halaman
Terbit: November 2012

Leave a Response