Marriage; Jika Pertanyaan Kapan Mau Nikah Selalu Ada

Umur gue itu udah menjelang 30, Januari besok. Buat temen-temen gue di kantor, gue belum menikah sampai sekarang itu jadi tanda tanya besar, kapan mo nikah? Gue juga sebenernya bertanya-tanya sama diri sendiri, bakal nikah nggak ya? Nggak cuma tanya soal kapan gue nikah, mereka bahkan mengolok-olok gue (I know it’s a joke), gue kalau besok hamil kayak gimana ya? Sama, gue juga bingung, gue bakal jadi cewek banget nggak ya?

Oke gue pingin ngobrolin soal a marriage, pernikahan dan perkawinan. Orang suka membedakan tuh antara nikah dan kawin. Nikah itu yang ijab kabul, kawin tuh yang tanpa hijab (heyahhh!!)

Gue kepikiran hal ini karena perbincangan tadi siang di kantor. Kebetulan tadi siang mati listrik seharian, itu artinya orang-orang akan mulai ngerumpi. Gue duduk di samping teman yang sedang hamil besar. Dia itu karena baru hamil pertama, jadi semangat banget cerita soal perkembangan si janin. Gue sebenernya lebih tertarik bertanya yang lain, yang agak tabu, soal seks. I have no idea about sex for marriage people karena biasanya kalau udah nikah, yang satu ini paling ogah dibahas. Sementara dari sudut pandang seorang lajang, sex is an important thing. Ya, gue berpikiran, orang nikah itu buat have sex yang bersih dan aman. Kalau sex before married itu (pasti) ada rasa guilty, terserah mau diakui atau tidak buat para pelakunya.

Yang gue tanyakan ke temen gue adalah, selama dia hamil dan melahirkan, apa dia dan suami masih melakukan hubungan seks atau mereka vakum dulu baru lanjut setelah anak udah pantes dikasih adik lagi. Ternyata masih, karena ya seorang cowok itu punya kebutuhan yang harus dikeluarkan secara periodik. Ini bukan perkara cowok alim atau bad boy, sama aja pada prinsipnya. Tapi memang, soal cara berhubungan itu harus dikomunikasikan karena keselamatan janin juga harus diutamakan. Secara medis, nggak ada doter yang melarang hubungan suami istri selama masa kehamilan, kecuali kandungan si ibu lemah dan berisiko tinggi keguguran.

Lalu gue bertanya, emang kalau udah hamil, cewek udah nggak mikirin seks lagi? Udah nggak butuh orgasme? Teman gue nih senyum-senyum dulu. Menurut dia, kalau buat cowok, orgasme itu penting karena itu pemicu endorfin. Udah tahu kan hormon ini fungsinya apa. Tapi cewek itu nggak gitu. Cewek itu untuk bisa mengeluarkan endorfin, nggak cuma dari orgasme hubungan seksual. Pelukan, ciuman, bahkan ketika bayi menyusu pun sudah menjadi sumber kenikmatan sendiri. Nah loh, sampai sini gue pun melihat begitu jelas bedanya cewek yang udah nikah dan belum. Alam pikiran gue udah mulai sulit memahami karena itu serba teori. Orang yang udah menikah itu sudah selangkah lebih jauh. Mereka sudah pernah menikmati masa lajang, dan sekarang menjalani kehidupan yang serba penuh pertimbangan. Nggak ada tuh yang namanya mikir diri sendiri doang kalau udah nikah. Kalau orang pacaran udah serba bersama, termasuk tinggal bersama, tetap aja bakal beda ketika udah nikah. Dan seks sudah bukan hal nomor satu yang jadi prioritas hidup.

Marriage; Jika Pertanyaan Kapan Mau Nikah Selalu Ada
Sumber gambar: wisperink.deviantart.com

Selesai dengan pembicaraan wanita dewasa, gue pun gabung dengan teman-teman gue yang cowok. Ada yang masih lajang ada yang nggak. Tapi gue nggak bahas soal yang sama, ya gue males aja, risih.

Di mata gue, cowok meski udah nikah, mungkin sifat kekanak-kanakannya nggak akan bisa hilang. Okelah dia menjadi seorang bapak tapi apa sih fungsi bapak dalam keluarga selain mencari nafkah? Jadi teman main anak kan? Ya intinya mengajarkan apa nggak yang diajarin ibu kepada anak. Ada pembagian tugas di situ. Ada semacam hukum tidak tertulis yang berlaku umum.

Oh ya, ketika gue berada di tengah-tengah cowok, gue merasa bahwa semembaur-baurnya gue dengan mereka, gue nggak akan bisa menjadi mereka. Cowok dan cewek itu punya dunia yang berbeda. Cewek yang udah semirip cowok apa pun, dia tetep akan menyadari, there’s a border that she can’t cross by. Gue nggak bahas soal kecerdasan dan logika macem-macem kok, soal sederhana aja. Soal esek-esek.

Cowok bicara vulgar itu biasa. Misal bahas soal cewek telanjang atau yang menyerempet soal seksualitas, mereka nggak sampe harus bisik-bisik karena malu. Ya, menurut gue, kenapa harus malu juga coba? Kan udah bukan anak SMA yang baru puber. Udah pada lewat seperempat abad loh, udah ngerti soal seks. Mereka mungkin bisa bebas bicara seperti itu di depan gue dengan santai karena mereka menganggap gue orangnya sangat cuek, punya kecenderungan suka dengan cewek, dan tidak anti dengan pornografi. Gue intinya lebih terbuka dan ga jaim. Be myself is better kan?

Oke gue tutup dulu obrolan malam ini di sini. Met beristirahat yang nyenyak….
Yogyakarta, 6 Desember 2012

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response