Mata Ketiga (Loka Media, 2017); Kisah Tentang si Ayah Psiko-Homofobia

Mata Ketiga (Loka Media, 2017); Kisah Tentang Si Ayah Psiko-Homofobia
Mata Ketiga (Loka Media, 2017). Sumber gambar: tapakrantau.com.

Di blog saya ini sebenarnya ada kategori review buku, tapi berhubung saya terlalu sibuk berlatih lari dan menciptakan imej sebagai pencinta film abangan, tidak pernah lagi saya menuliskannya, secara membaca buku sampai selesai saja tidak pernah. Tapi saya membaca. Catat itu baik-baik.

Mata Ketiga bukanlah sebuah kisah bertema iluminati, simbol Horus, atau konspirasi Yahudi yang bertujuan untuk menciptakan tatanan dunia baru. Mata Ketiga di sini adalah persaksian sebuah…sebentuk…se… oke apa sebutan yang tepat untuk tato? Dia tidak termasuk golongan buah-buahan lho. Mata Ketiga merupakan sebuah novelet karya Muhajjah Saratini yang dalam biodatanya tertulis sebagai editor fiksi di Penerbit DIVA Press. Anehnya, saya tidak melihat orang ini di kantor. Boleh jadi buku ini sudah naik cetak ketika dia sudah mengundurkan diri dari tempatnya bekerja. Hahaha oke, dia dulu adalah salah satu rekan kerja saya dan duduk tepat di sebelah saya.

Novelet ini ditulisnya untuk diikutkan pada lomba… ya Tuhan… kenapa tulisan pada sampulnya kecil sekali sih sampai sulit terbaca? Ya, sebuah lomba, katakanlah seperti begitu. Mata ketiga ini dipilih sebagai juara pertama untuk kategori dewasa. Asal usul mengenai pemilihan tema silakan dilihat pada bagian Pengantar Penerbit, pujian mengenai karya ini ada pada endorsement, dan ucapan terima kasih penulis.

Teman-teman kantor saya sudah pada heboh ketika naskah ini dinyatakan menang. Mereka memang supportive. Saya juga, tapi dalam hati. Maksud saya, oke, you can do more than this. I know that you can. Mereka juga langsung memesan begitu program PO-nya keluar.

Ketika membaca ulasan dari seorang teman yang memang hobinya baca buku, saya pun merasa perlu membacanya. Kenapa? Ih situ kepo. Karena novel ini membahas tentang homoseksualitas-homoseksualisme-terserahlah mana yang tepat. Saya sudah banyak membaca “penyikapan” penulis lain tentang percintaan yang melibatkan sesama kelamin, gay, lesbian, straight dengan straight. Hey, jangan pikir semua orang yang pernah terlihat dengan hubungan sejenis pasti gay. Dunia tidak sesempit itu.

Penyikapan boleh jadi tidak sama dengan apa yang kemudian mereka tuliskan dalam karya. Seorang pro-LGBT boleh jadi menulis sesuatu yang justru berlawanan. Atau demikian pula seorang anti-LGBT haruskah juga menuliskan hal yang sama di karyanya, dengan “menyiksa” tokohnya misalnya?

Muhajjah dalam novel ini memperlihatkan dua penyikapan. Memaklumi terhadap adanya hubungan sejenis, di sisi lain dia menampilkan tokoh antagonis lewat Ayah. Apakah novel ini ber-ending bahagia? Kok situ enak ya tinggal nanya ending nggak mau baca sendiri?

Mata Ketiga dibagi ke dalam dua bagian: Kehidupan Pertama dan Kehidupan Kedua. Dalam cerita 66 halaman (tebalnya memang 81 halaman, tapi kan tapi kan…), di Kehidupan Pertama, pembaca dihadirkan tentang si Aku yang merupakan tato di tengkuk seorang perempuan muda bernama Gadis. Dari si “mata Ketiga” inilah kita mulai dibawa masuk pada kehidupan gadis dengan kehidupannya sebagai seorang anak dari pria yang segar bugar karena rajin lari (kok ya suka lari ya?), sebagai kekasih seorang DJ bernama Ari yang jam manggungnya sampai ke luar kota, dan seorang perempuan yang memendam rasa muak dengan ketidakberdayaan dirinya.

Ketidakberdayaan seperti apa? Untuk lepas dari sang kekasih yang ringan tangan. Ringan tangan dalam arti dia sangat mudah memukul pacar jika merasa tersinggung, cemburu, cemburu, dan cemburu.

Oh ya sebentar, saya beri sedikit keterangan tentang si tokoh utama. Dia adalah tato yang merupakan dua lingkaran dan empat garis—dua garis horizontal yang bergelombang, dan dua garis vertikal yang tegak lurus (hlm. 27). Awalnya saya tidak begitu bisa membayangkan bentuknya, namun ketika semakin ke belakang, ya saya bisa menebak-nebak. Di sini, penulis mungkin ingin menyampaikan pandangannya bahwa tato itu tidak hanya goresan dengan tinta di permukaan kulit, tapi bisa juga sebagai identitas, tepatnya identitas seksual. Ya tentu saja tidak semua kalangan LGBT merasa perlu “memamerkan” identitas entah itu simbol, cincin di kelingking, anting di salah satu telinga, sapu tangan di saku belakang, potongan rambut pendek, sampai ke pakaian. Kaum LGBT di Timur Tengah mana mau sepakat dengan “konsensus” ala Barat?

Identitas seksual yang akhirnya diabadikan Gadis di tengkuknya seolah menjadi salah satu ungkapan “coming out”-nya kepada dunia. Seolah tanpa itu, dia bukanlah dia. “Aku senang banget, Dis. Karena kamu sudah menemukan jati dirimu yang sebenarnya.” (hlm. 27). Meskipun, notabene, coming out itu tidak sekadar memakai identitas, melainkan membuka diri kepada keluarga dan orang-orang terdekat tentang orientasi seksual yang dipilihnya.

Hal itu terbentur dengan ketakutan Adis akan reaksi sang Ayah. Kenapa? Karena ini adalah negara Timur yang menentang adanya hubungan sejenis? Apakah ayahnya seorang homophobia yang bisa bertindak tak terkendali jika sampai tahu ada anggota keluarganya yang terlibat hubungan cinta minoritas? Itu akan terjawab nanti. Situ masih berharap saya bakal spoiler ya?

Pacar Gadis bernama Jadid. (Hlm. 40) Sampai di sini, saya sempat berhenti membaca. Lha, terus Ari itu siapa? Mengamati keintiman yang terjadi di antara Ari dan Gadis membuat saya menduga ada aroma perselingkuhan di sini. Sang tato semenjak awal menceritakan tentang Gadis dan Ari. Mungkin benar ada kekasih bernama Jadid yang setahun belakangan dikelabui sang pacar. Jadid ini pasti pria naif baik-baik yang bertemu dengan gadis gatal pemuja seks.

Novel ini memang menghadirkan banyak jebakan betmen sehingga membuat kekuatan irama keseruannya terjaga dengan baik, meski setting tempatnya dominan dalam kamar tidur dan adegan-adegannya tidak jauh-jauh dari adegan ranjang (yang tidak begitu detail ya sayangnya, karena penulis tidak pernah mengalaminya sendiri atau merasa tidaklah begitu penting untuk diumbar toh nanti kena sensor editornya), kekasaran Ari, percakapan antara Gadis dan ayahnya, dan memasuki Kehidupan Kedua, kita akan dibawa mengenal sosok Ayah yang tidak hanya seorang homofobik kamvret tapi juga psikopat laknat. Maafkan bahasa saya.

Saya tidak merasa perlu berpanjang-panjang perkara pandangan seputar asal usul homoseksualisme bla bla bla yang disampaikan penulis, entah itu pandangan dia sendiri atau hasil perdebatannya dengan entah siapa karena mau ditelusuri akarnya, toh tidak akan ketemu. Benarkah genetik, yang dimaknai sebagai diturunkan dan akan menjadi bibit baru yang siap tumbuh di tanah yang tepat? Masih banyak perdebatan seperti halnya bumi ini bentuknya datar apa segitiga. Cobalah survey ke sepuluh LGBT, maka jawaban mereka memilih orientasi seksual yang di luar heterosekualisme akan seberwarna bendera mereka. Dan apakah seseorang yang pernah menjadi hubungan dengan sesama pasti akan mencari jenis kelamin yang sama di kemudian hari? Atau apakah jika tidak, maka dia akan dilabeli sebagai biseksual? Belum tentu dia mau dilabeli seperti itu. Kecuali dia memang hanya ingin bereksperimen. Ini satu perkecualian.

Si homofobik kamvet bernama Ayah ini menjadi mengerikan karena kebenciannya yang beralasan diteruskan menjadi obsesi untuk melenyapkan semua lesbian yang dikenalnya. Penulis membuka sebuah fenomena yang tidak hanya fiktif karena kekerasan yang dialami kalangan LGBT, salah satunya berasal dari pihak keluarga, hingga bisa berujung pada kematian. Ironis. Tapi itu sebuah kenyataan yang seharusnya menjadi perhatian Komnas HAM.

Twist demi twist pada akhirnya membawa saya pada akhir pembacaan Mata Ketiga. Mata Ketiga itu terus menjadi saksi perbuatan kejam sang Ayah mencari korban-korban selanjutnya. Novelet ini sangat berpotensi untuk dikembangkan lagi menjadi sebuah novel thriller yang berdarah-darah. Saya tahu, Muhajjah sangat bisa melakukannya.

 

Jogja, 27 Oktober 2017

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response