Matinya Seorang Penari Telanjang; Bahas Cerpen Seno Gumira Ajidarma

Cerpen Matinya Seorang Penari Telanjang

 

Matinya Seorang Penari Telanjang panjangnya mencapai 47 halaman, membuat dahi saya berkerut mengapa Seno Gumira Ajidarma menulis sebuah cerita pendek sedemikian panjang. Cerpen ini pertama kali dimuat di Harian Kompas 29 Agustus 1982 dan tahun 1988. Si penulis membubuhkan titimasa 14 Desember 1999. Pernah diangkat ke layar FTV berjudul Penari.

Seno Gumira menghadirkan 3 tema besarnya: kematian, perempuan, dan misteri yang menganga. Cerpen Matinya Seorang Penari Telanjang dimulai dengan seorang perempuan bernama Sila. Perempuan baik-baik, mahasiswi IKJ, dari keluarga menengah, memiliki bakat seni yang mengantarkannya menjadi seorang penari telanjang.

Stripper, baik itu laki-laki maupun perempuan, tidak semata-mata menjual tubuh dan keseronokan. Film Magic Mike yang dibintangi oleh Channing Tatum salah satu visualisasinya. Untuk bisa menarik perhatian hingga uang para penonton, mereka diharuskan memiliki kemampuan menari. Menari dengan sensual. Tidak asal goyang pinggang atau dada. Tapi menghidangkan tarian erotis yang berkelas. Tarian yang hanya berputar-putar di tiang, sampai yang memperlihatkan gerakan aduhai dengan pakaian yang mulai dilepas satu per satu. Ada yang sampai telanjang, ada yang menyisakan pakaian dalam. Jika penonton terkesan, maka lembaran-lembaran uang pun akan berpindah dari dompet ke cup bra atau karet celana dalam.

Seperti itulah kehidupan Sila. Keluarganya menyesali pilihan hidupnya. Kurang aib apa pekerjaan sebagai penari telanjang bagi orang beradat ketimuran? Sila memilih menjauh dari keluarga sebagai jalan terbaik. Percuma memaksa mereka mau menerima.

Sila bermain api yang menyebabkan dirinya terbakar sebagai akibatnya. Memiliki wajah cantik, bodi yang menggoda iman, kehebatan bermain di ranjang, membuat seorang lelaki beristri terobsesi padanya. Jatuh hati dan tergila-gila.

Judul cerpen ini sangatlah gamblang membawa tebakan pembaca pada konflik utama. Dan menyisakan misteri menganga perkara siapa si pelaku pembunuhan penari telanjang itu. Dalam cerita pendek berdurasi cukup panjang ini, Seno memainkan peranan besar menggiring berbagai dugaan siapa orang yang menyuruh 2 pembunuh bayaran untuk menghabisi Sila di suatu malam yang suram.

Ada banyak orang yang menginginkan kematian si penari telanjang. Orang pertama adalah orang yang paling dekat dengan korban. Si kekasih gelap. Modusnya ada. Cemburu karena Sila memiliki idaman lain, atau takut kehilangan Sila, maka lebih baik dibunuh saja.

Kedua, istri si pria kekasih Sila. Modus untuk menyingkirkan saingan sangat masuk akal sehingga membunuh adalah jalan terbaik. Mengotori tangan sendiri tentu berisiko. Lagi pula boleh jadi si istri tak punya nyali untuk berhadapan langsung dengan Sila.

Seno pun mengarahkan pembaca untuk mencurigai kawan Sila dengan adanya hubungan gelap di dalam hubungan gelap. Cinta segitiga picisan. Kenapa tidak? Dengan menyingkirkan Sila, bukankah kesempatan hidup mapan menjadi sebuah kepastian?

Di tengah-tengah ketegangan yang dibangun dengan perlahan, dijedai pula oleh plesetan kliping-kliping koran yang menjadikan kematian Sila sebagai tajuk utama.

Sila dibunuh di sebuah gang buntu. Tempat yang membuatnya terkurung dan tinggal menunggu kedua pembunuh itu menemukan persembunyiannya. Sila jelas mati. Tapi pembaca perlu tahu bagaimana Sila mati, siapa pelakunya, apa motifnya, dan siapa sebenarnya otak di balik kematian itu.

 

Jogja, 2 Juni 2016

 

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response