Membanggakan Sesuatu Sementara Orang Lain Meremehkan #10DAYSKF

Membanggakan Sesuatu Sementara Orang Lain Meremehkan #10DAYSKF |

Membanggakan Sesuatu Sementara Orang Lain Meremehkan #10DAYSKF
Sumber gambar: businessinsider.co.id

Memasuki hari ke-6 #KampusFiksi 10 Days Writing Challenge semacam menandakan ada perubahan arah angin alias titik berat dari tantangan yang diajukan. Kalau kemarin-kemarin tidak membutuhkan jawaban yang serius, sekarang dan sampai hari ke-10, butuh berpikir agak lama.

Ini tentang membanggakan sesuatu sementara orang lain justru meremehkan. Bisa terjadi pada siapa pun tanpa melihat derajat maupun pangkat. Permasalahannya adalah konsep dari membanggakan diri itu yang seperti apa. Apakah semacam kebanggaan karena sesuatu yang dibawa sejak lahir, semacam kelebihan fisik. Misalnya, saya punya hidung mancung dan kulit yang putih hingga tak akan jadi korban iklan pemutih wajah. Atau kebanggaan karena melakukan sesuatu, semisal, saya bisa 30 detik menahan napas di dalam air. Membanggakan yang lewat lisan, atau membanggakan dari perilaku?

Bagaimana kalau membanggakan fisik dicoret saja. Saya pribadi sih tidak menyalahkan orang yang membanggakan wajah yang sempurna meskipun itu caranya dengan bantuan operasi plastik atau suntikan berbagai macam vitamin. Namanya juga ingin tampil memesona di depan orang lain.

Di masa sekolah adalah fase di mana nilai akademik menjadi sesuatu yang sensitif. Murid-murid cerdas konon adalah mereka yang punya nilai tinggi di beberapa bidang tertentu. Sementara, tidak semua murid punya kemampuan di sana. Jauhkan kata “bodoh” sebab manusia memang punya bakat di bidangnya masing-masing.

Di antara sekian banyak mata pelajaran, satu-satunya yang saya senangi adalah olahraga. Sebab tidak perlu hapalan rumus X dan Y di mana X bukan berarti mantan. Yang dibutuhkan dalam mata pelajaran adalah menguasai setiap teknik dengan baik dan benar. Nilai saya yang tidak pernah merah di rapor adalah olahraga. Agama juga sih, tapi nggak dikira saya religius nanti ujung-ujungnya intoleran. Saya selalu bersemangat jika sudah harinya olahraga. Teman-teman saya malah kalau bisa cari-cari alasan biar nggak keluar banyak keringat atau kulit terbakar matahari pagi, lebih ekstrem pakai alasan mens. Mereka lebih suka duduk, membuka buku pelajaran, mengerjakan soal, berdiskusi tentang pelajaran, lalu merancang masa depan. Mereka nggak berpikir, kalau nggak pernah olahraga badan mereka akan rusak sepuluh tahun lebih cepat.

Pendidikan di negara ini memang tidak adil. Pelajaran sekelas sains dan sosial itu dianggap jauh lebih bermartabat ketimbang olahraga. Kelulusan seorang murid apa pernah dipengaruhi sama nilai olahraganya? Orang-orang akan cemas setengah mati jika nilai matematika, kimia, akuntansinya rendah. Ujung-ujungnya nyari celah untuk kecurangan. Kalau pelajaran olahraga, mana bisa curang? Nggak bisa basket ya nggak bisa aja. Nggak bisa berenang yasalam.

Hingga sekarang, olahraga buat saya adalah salah satu parameter penting dalam kehidupan, di saat orang menganggap itu hanya kesenangan belaka yang buang-buang waktu dan buang-buang kalori. Orang pintar diukur nggak hanya dari aspek apakah dia minum Tolak Angin atau tidak. Bisa menyelesaikan soal X dan Y dengan benar atau tidak tanpa pengin ngajak mantan balikan. Orang sejenius Alan Turing saja memiliki waktu khusus untuk ikutan marathon sejagad Inggris sambil mainan koding komputer. Zuckerberg pun terlihat keren ketika joging di Beijing. Kamu? Beli burjo depan gang aja masih naik motor?

 

Jogja, 23 Januari 2017

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response