Mencicipi Latihan Half Marathon Menjelang Jogja Marathon 2018

in Olahraga by
Mencicipi Latihan Half Marathon Menjelang Jogja Marathon 2018
Mencicipi Latihan Half Marathon. Sumber gambar: intraining.com.au

Hanya punya 10 kesempatan latihan half marathon membuat saya harus banget komitmen dengan jadwal latihan yang sudah saya buat. Saya tahu, ini bukan tipe latihan yang sehat karena saya lagi-lagi harus potong jalan dengan tidak berlatih secara bertahap. Tidak ada namanya 13K, 15K, dan seterusnya. Dari 10K, saya melompat ke 21K. Sebuah lompatan besar dan untunglah tubuh saya tidak begitu kaget karena latihan-latihan jarak pendek dan bodyweight saya akui sangatlah membantu stamina untuk tidak drop sampai 0%.

Latihan half marathon kali ini bagi saya tidak lebih dari trial and error ketimbang mengukur sebatas mana kekuatan tubuh. Kalaupun memang di latihan ini saya belum sanggup menyelesaikannya, apa boleh buat.

Sebelum memulai lari, saya sarapan pada pukul 03.00. Rasanya memang seperti sahur, tapi minum secukupnya saja. Makan nasi 3 warna (merah-cokelat-hitam) dan 2 butir telur ceplok. Plus pisang untuk nambah-nambah energi. Ini sekaligus skenario untuk Jogja Marathon di mana start-nya pukul 05.15. Sarapan yang berlebihan itu sama buruknya dengan tidak makan sama sekali untuk lari sejauh itu.

Selain tidur yang cukup, saya pun memutuskan untuk membawa Aqua 330ml yang saya selipkan bluff yang melilit di tangan kanan dan saya membungkus beberapa butir kurma, in case sampai di tahap terlalu lapar, yang saya selipkan ke dalam kaus kaki. Nggak perlu saya perjelas kalau kurmanya saya masukin dalam plastik baru diselipin ke dalam kaus kaki, kan?

Pukul 05.33, saya start dari kosan setelah stretching secukupnya. Langit masih gelap, tapi rute yang saya lewati adalah jalanan ramai. Saya tidak punya pilihan rute lain, selain menyusuri Jalan Wonosari dan Jalan Piyungan-Prambanan.

Kekhawatiran saya akan rasa haus memang akhirnya merepotkan saya sendiri. Meski botol yang bawa kecil, tapi itu cukup mengganggu ayunan tangan. Efeknya adalah kecepatan saya bahkan di kilometer pertama jadi menurun dari seharusnya. Padahal, biasanya saya kok tahan tidak minum sampai kilometer kelima. Rute yang saya lewati pun terdapat sejumlah minimarket yang buka 24 jam.

Antisipasi membagi tenaga agar kuat hingga akhir juga membuat saya ragu untuk menaikkan kecepatan, padahal semakin saya memperlambat laju, itu semakin menyiksa kaki dan rasa lelahnya juga lebih cepat datang. Saya sudah mulai menyelingi lari dengan jalan sejak kilometer keenam. Keinginan untuk minum, berhubung bawa, ya juga lebih sering meskipun hanya sedikit-sedikit.

Di kilometer 14, jalan saya semakin panjang durasinya. Saya mungkin hanya lari 100 meter lalu jalan lagi, terus berulang seperti itu. Telapak kaki mulai terasa tidak nyaman ketika berlari namun tidak masalah untuk jalan. Saya hampir ingin berhenti dua kilometer setelahnya dan menganggap biarlah minggu depan saja digenapin 21K. Tapi kemudian saya teringat lagi, yakin minggu depan pikiran seperti ini tidak akan muncul bahkan mungkin lebih awal? Biarlah saya menyelesaikannya dengan jalan, memangnya apa yang salah dengan itu? Di Borobudur Marathon toh orang belum juga satu kilometer setelah start sudah jalan.

COT untuk half marathon kalau tidak salah sih 4 atau 5 jam. Latihan saya yang supersantai kali ini ternyata masih menyisakan 30 menit dari COT. Tapi bukan berarti saya tidak ada niat untuk memperbaiki angka itu. Dan tentu saja tidak mau ketika race nanti saya sampai jalan kecuali untuk keperluan hidrasi.

Begitu menyelesaikan 21K, dan berhenti sejenak, barulah rasa pegal di pinggang mulai merayap sampai ke telapak kaki. Sebelum memanggil Go-Jek untuk mengantarkan pulang, saya melakukan pendinginan khususnya untuk otot kaki yang sudah bekerja keras demi memenuhi obsesi saya hahaha. Cuaca belum terlalu panas, tapi jalanan lagi-lagi sudah ramai kendaraan.

Setelah sampai di rumah, setelah memastikan tubuh saya bisa terkena air untuk menghapus semua keringat, makan adalah hal berikutnya yang tidak boleh dipandang sebelah mata. Memang sih rasanya tidak sebegitu lapar, tapi ketika melihat di STRAVA 1.400 kalori sudah terbakar dan harus digantikan dengan segera.

Minggu depan, saya harus jauh lebih baik saat latihan half marathon yang kedua. Oh ya, pace saya sudah pasti sangat memalukan 10:03/KM.

Jogja, 3 Februari 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*