Mengakui Orientasi Seksual yang Tidak Semudah Mengakui Agama

Berbicara soal orientasi seksual, gue dengan ucapan-ucapan gue yang sering melenceng dari jalur atau apa pun yang gue pernah tulis, membuat orang bertanya.

Gue sedang membayangkan rasanya berada urutan pertama sebagai orang terkaya di Indonesia, rasanya lho bukan berarti gue menginginkan berada di posisi itu. Atau menjadi orang terkaya di dunia, menjadi orang terpandai di bumi, menjadi orang ter-ter lainnya dalam hal yang positif. Itu butuh proses panjang dong pastinya.

Yang mau gue obrolin sebenernya bukan soal jadi yang nomor satu, tapi berada dalam suatu list atau daftar. Ehm, jujur ya kalau lagi kumat isengnya, gue suka nyari update-an seleb yang katanya gay. Itu salah satunya keisengan gue, dan banyak lagi lainnya tapi nggak gue bahas sekarang deh. Kenapa gue begitu curious dengan seleb yang (katanya) gay? Ya, karena gosip itu indah (eh?). Okelah, nggak perlu bahas siapa orang iseng yang pertama kali membuat daftar di mana begitu banyak nama penyanyi, aktor, musisi, sutradara, dll sampai akhirnya dimodifikasi sedemikian rupa hingga mungkin dulu dalam list itu cuma ada 10 nama, sekarang ada bisa puluhan plus nama pasangannya yang juga seleb. Sebagian ada yang memang masuk infotainment, sebagian masih dipertanyakan. Dan asal tahu aja, jika ternyata si seleb ini mengaku dia gay (atau orientasi seksual lainnya), ya udah selesai dah tuh gosip. Dan dia akan hilang begitu saja dari materi pergunjingan ini. Orang udah nggak akan peduli lagi sama kehidupan dia. Udah nggak ada keseruannya lagi.

Mengakui Orientasi Seksual yang Tidak Semudah Mengakui Agama
Sumber gambar: youtube.com

Di negara ini, berapa seleb sih yang berani mempertaruhkan karier demi kenyamanan pribadi? Maksud gue gini, seorang seleb yang belum bisa terbuka soal yang satu ini, pasti akan melakukan kamuflase. Berpacaran dengan lawan jenis salah satu contohnya. Di depan publik kelihatannya hepi banget, tapi faktanya kan nggak gitu. Dia nggak nyaman sementara udah punya pacar yang sesungguhnya. Oh ya, soal gay-celeb list, juga sampe lho ke seleb-seleb dunia, sori gue nggak bakal nyebut satu nama pun di sini daripada gue ntar dikira nyebarin gosip. Padahal, gue cuma seorang penikmat aja.

Di sisi lain, gue juga jadi mikir, andaikan ada 1 seleb aja yang masuk dalam list ini tapi ternyata nggak bener sama sekali bahwa dia gay, gimana ya rasanya? Orang udah telanjur melihat list itu akan menilai si X ini hmm… negatif? Sexual addicted? Drug user? (Dua hal yang gue italic ini bak anak kembar siam, saling nempel). Dan segudang imej yang jelek-jelek. Atau misal ketemu dengan si X di jalan, tiba-tiba memandang dia dengan aneh, atau takut diapa-apain. Risih nggak sih? Orang yang ngebuat daftar itu mikir sampe segitu jauh nggak? Kok gue jadi ikutan sewot ya?

And then, apa bedanya seorang “tertuduh gay” dengan orang yang di-black list bank karena sering bermasalah dengan kartu kredit? Atau orang yang baru keluar dari penjara dan tidak bisa diterima masyarakat karena setiap orang yang masuk penjara itu pasti karena tindakan kriminal? Kita bahkan nggak akan pernah tahu mungkin kartu kredit si orang itu nunggak karena dia mungkin harus membayar sesuatu yang lebih darurat. Atau seseorang masuk penjara karena salah tangkap. Ada begitu banyak kemungkinan tapi kita sering mengesampingkan alasan itu.

Gue sering (atau selalu) mengamati orang-orang yang sangat enggan memahami kondisi orang lain dan memenangkan persepsinya sendiri. Oke, mungkin karena orang itu punya kedudukan lebih tinggi, usia yang lebih tua, harta yang lebih banyak blablabla. Dia akan menolak semua pembelaan diri yang bisa jadi itu benar, tapi di mata dia salah. Kebenaran akhirnya menjadi milik yang superior. Menyebalkan memang, tapi bukankah alam itu selalu memberlakukan yang kuat memakan yang lemah? Okelah, jika gue yang berada di posisi itu, prinsip gue cuma satu, manusia itu omong kosong bisa objektif menilai sesuatu, tapi Tuhan kan bisa banget. So, benar salah itu bukan hal penting. Ketika apa yang gue lakukan dianggap salah, apa gue harus meluruskan itu dengan segala cara? Gue merasa itu hanya buang-buang waktu. Buang-buang energi pula karena berbicara sambil menahan marah itu butuh kekuatan luar biasa. Dan diam menjadi pilihan untuk hemat energi.

By the way, berbicara soal orientasi seksual, gue dengan ucapan-ucapan gue yang sering melenceng dari jalur atau apa pun yang gue pernah tulis, membuat orang akhirnya bertanya juga: are you a …? Hmm am I …? Buat gue, menjawab pertanyaan agama gue apa, itu jelas jauh lebih mudah. Batasannya jelas, gue masih menjalankan rukun Islam, berarti gue masih jadi pemeluk agama itu. Apa orientasi seksual juga segamblang itu? Gue yakin, nggak setiap orang paham dengan orientasinya masing-masing. Dan orientasi seksual itu bukan sesuatu yang dibaca meski oleh seorang Deddy Corbuzier sekalipun. Si om botak itu bisa jadi tahu gue pernah pacaran sama siapa aja dengan membaca pikiran gue, tapi belum berarti dia bisa tahu orientasi seks gue. Itu rahasia gue deh. Buat gue, itu hal sepele. Seriously, what I am now, nggak akan mengubah gue yang dulu.

 

My room, Yogyakarta, 4 Desember 2012

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response