Menjahit Bibir Marie; Kisah si Relawan yang Menjadi Penyintas Tragedi 98

Menjahit Bibir Marie; Kisah si Relawan yang Menjadi Penyintas Tragedi 98
Menjahit Bibir Marie. Sumber gambar: pixabay.com

Cerpen kesepuluh dalam antologi Kampus Fiksi Emas 2017, berjudul Menjahit Bibir Marie. Ditulis oleh Dini Meditria menggunakan penceritaan dengan sudut pandang orang kedua secara konsisten, yang membuka kembali tabir kenangan memilukan 3 tahun sebelumnya. Menjahit Bibir Marie sedikit memiliki kesamaan dengan Bunga Ngarot yang Menjadi Layu, yaitu penyintas yang mengalami trauma hingga berusaha untuk melupakan dirinya sendiri. Hanya saja, gangguan jiwa yang dialami tokoh tidak sampai membuatnya membuat dunia sendiri yang jauh lebih indah ketimbang realitas.

Kamu mengeluh ketika Marie memintamu menemaninya bergabung sebagai tim relawan yang mengurusi cacatnya Jakarta saat itu, tiga tahun yang lalu.

“Tidak perlu khawatir, Pengecut! Aku bukan perempuan Tionghoa!” Marie merasa marah. Gadis itu masih menatapnya, tanpa berkedip. Orang-orang berderap di belakangnya, menyeringai, tertawa-tawa dengan segala macam hal gila yang telah memenuhi kepala mereka.

“Relawan apanya? Kau ini berpihak pada siapa? Berani-beraninya nolongin mereka-mereka?! BABI!” Laki-laki dengan sebongkah kayu menghantamkan senjatanya ke kepala Marie. Beberapa yang lain mulai melucuti pakaiannya dan kamu terisak semakin pedih.

Serupa pula dengan Bunga Ngarot yang Menjadi Layu, penyintas kali ini adalah seorang gadis yang berada di tempat dan waktu yang salah. Dia bukan seorang etnis Tionghoa sehingga perlu mencemaskan kehormatan dirinya direnggut paksa oleh para lelaki tak dikenal. Tapi tekadnya untuk melindungi seorang gadis di hadapan matanya, membuat dirinya turut menjadi korban. Intinya dia perempuan dan harus dirusak sedemikian rupa.

Setelah kejadian itu, dia berada dalam perawatan intensif medis. Dia memiliki dokter yang sabar menangani hingga dia bisa menerima dirinya apa-adanya. Marie telah kehilangan bibirnya. Padahal suara untuk memperjuangkan sesuatu keluar dari mulut. Bagaimana jika tak punya mulut lagi? Akhirnya, kebisuan itulah yang menjadi pilihannya.

Ritual pagi kamu awali dengan membasuh seluruh badanmu dengan air dari bak kecil di sudut kamar mandi, mengalirkan legit sabun seharum aroma bunga frangipani, dan memberus gigimu selama mungkin.

Kamu melakukannya sampai napasmu tak lagi punya bau, dan seluruh kenangan buruk tentang Marie meluruh bersama buih-buih pasta gigi yang kini mengalir ke dalam lubang wastafel.

Tokoh yang terus berbicara pada Marie adalah seorang gadis yang menyukai wewangian. Kalau melihat dari banyaknya wewangian yang ada di sekitarnya, saya menebak gadis ini pastilah datang dari kalangan menegah ke atas. Lipstik berwarna burgundi yang melekat di bibirnya saat memantau keadaan juga mengarah ke sana. Dia merawat dirinya sebaik mungkin sambil kenangan akan Marie terus bergulir dalam kepalanya. Di satu sisi ia ingin membuang kenangan buruk, tapi di sisi yang lain kenangan buruk itu terus datang dan datang lagi tanpa bisa dicegahnya.

Tak ada kehidupan yang menjanjikan di dalam kamarmu: hanya ada beberapa tangkai bunga lavendel untuk mengusir bau amis yang datang sesekali. Seseorang mengantarkan bunga-bunga itu tadi, pagi-pagi sekali. Menaruhnya di dalam guci kecil polos berwarna gading, juga menggantinya setiap satu kali dalam seminggu.

Kita akan diajak menduga-duga siapakah gerangan yang membawa bunga lavendel ke dalam kamar gadis itu. Tidak pernah menggantinya dengan bunga lain. Tanaman dari negara Prancis tersebut dikenal memiliki banyak manfaat, terlebih sebagai pengusir insomnia dan stres. Boleh jadi si dokter, Marie yang belum jelas identitasnya, dari orang yang datang sekadar bersimpati, atau sebenarnya tidak ada lavendel sama sekali. Ilusi belaka.

Tragedi 98 masih terasa gaungnya hingga saat ini. Masih banyak orang yang menuntut kasus itu kembali dibuka dan dicari siapa dalang sebenarnya. Di sisi lain, ada pihak yang merasa sebaiknya kasus itu dilupakan saja. Boleh jadi para penyintas tragedi 98 bernasib sama dengan penyintas-penyintas dalam tragedi kemanusiaan di negara lain, yang membawa luka itu sampai ke liang kubur. Suara-suara mereka tidak didengarkan. Kalau pun ada yang peduli, mereka pun juga tak dapat berbuat banyak.

Marie hanyalah satu dari sekian banyak yang kehilangan bibirnya, kehilangan suaranya, kehilangan semangat hidupnya. Berjuang untuk tidak hidup dalam keputusasaan, depresi, dan mimpi-mimpi buruk masa lalu.

Suatu saat, jahitan di bibir Marie dan bibir-bibir lainnya harus dilepas hingga suara-suara kebenaran kembali terdengar di angkasa.

 

Jogja, 17 April 2017

Nisrina Lubis

Nisrina Lubis

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response