Menulis Novel Itu Tujuannya untuk Dipublikasikan kepada Publik

Menulis Novel Itu Tujuannya untuk Dipublikasikan kepada Publik
Menulis Novel. Sumber gambar: pixabay.com

Sebagai seorang konsultan novel di sebuah penerbitan, bukan hal yang mustahil bagi saya membantu seseorang menyelesaikan sebuah karya fiksinya untuk kemudian dipublikasikan dalam bentuk buku sampai terpajang di toko-toko buku. Siapa saja bisa menulis novel dan memang itu bukan sesuatu yang rumit. Sangat salah jika ada yang mengatakan menulis novel itu sulit. Oke silakan mencibir kalau kamu adalah orang yang selama ini selalu gagal melakukan hal itu.

Orang-orang yang memilih saya menjadi konsultan untuk naskahnya hampir semuanya adalah penulis yang belum pernah menerbitkan novel. Kalaupun ada, publikasinya hanya kalangan terbatas atau indie. Mereka ada yang berlatar belakang pelajar, mahasiswa, ibu rumah tangga, sampai kalangan profesional. Bagi saya, apa pun latar belakang mereka tidaklah penting dan bukan sesuatu yang perlu dibesar-besarkan toh apa yang mereka tulis terkadang tidak ada hubungannya dengan itu.

Menulis novel itu mudah, jika kamu sudah tahu apa yang akan kamu tulis. Menulis novel itu sangat sulit jika kamu benar-benar tidak tahu apa yang harus ditulis, terlebih sama sekali tidak pernah menulis.

Novel adalah sebuah karya fiksi yang panjang. Ada banyak jalinan unsur intrinsik di dalamnya. Tema, tokoh, karakter, setting, alur, dan konflik tidak akan bisa berjalan sendiri-sendiri sampai ke bagian akhir. Untuk menjaga kualitas isi sebuah novel, si penulis harus membekali dirinya dengan riset yang kuat dan bisa dipertanggungjawabkan kepada publik. Jika kata “riset” terkesan terlalu ilmiah dan serius, saya ganti dengan “pengamatan”. Seorang penulis adalah pengamat, dan mengomentari apa yang telah diamatinya ke dalam tulisan. Seorang penulis tanpa disadari mengasah kemampuan photographic memory secara berkala. Juga mengamati apa yang dirasakan oleh pancaindra lainnya.

Tidak jarang pula saya menyarankan kepada penulis untuk memiliki referensi pustaka. Ada dua jenis referensi pustaka yang saya maksudkan. Pertama, referensi untuk menulis. Penulis pemula perlu memiliki acuan dalam merangkai kalimat demi kalimat sehingga bisa memilah mana yang penting dan mana yang tidak penting untuk ditulis. Mana kalimat yang terkesan terlalu datar dan mana yang bisa bermanuver.

Marga T. adalah salah satu penulis novel yang mampu melakukan manuver-manuver ekstrem dalam alur cerita. Fira Basuki memiliki ketajaman dalam mengantarkan cerita, Oscar Wilde unggul dalam detail-detail penceritaan, Paulo Coelho andal dalam memasukkan penokohan, dan masih banyak penulis-penulis terkenal lain yang dapat menjadi bahan belajar. Sebatas bahan belajar, bukan berarti menduplikasi. Hati-hati, plagiasi adalah sesuatu yang akan membuat citra seorang penulis hancur seketika.

Kedua, referensi untuk menambah jumlah informasi yang dibutuhkan untuk ditulis. Buku merupakan sumber referensi yang saya anggap lebih valid ketimbang internet, walaupun jurnal-jurnal ilmiah pun saat ini juga banyak yang dipublikasikan dalam bentuk PDF. Jika kamu ingin menulis novel berlatar museum, maka kumpulkan semua hal yang berhubungan dengan museum tersebut. Jika ingin menulis dengan tokoh penderita alzheimer, maka kumpulkan data sebanyak-banyaknya. Jika dirasa referensi pustaka belum memadai, coba cari sumber informasi lain, misalnya dengan datang ke lapangan atau berdiskusi dengan pakarnya maupun yang lama bergelut dalam bidang tersebut.

Proses pengamatan seperti inilah yang membuat proses penulis novel terkesan panjang dan sulit. Tapi jangan salah, penulisan cerita pendek pun juga tidak lepas dari adanya pengamatan yang benar-benar serius. Akan sangat berbeda hasilnya antara novel yang tidak didukung dengan pengamatan dan mana yang memang ditulis berdasarkan bekal yang memadai.

Mengenai lamanya proses penulisan, di luar pengataman yang sudah dibahas sebelumnya, tiap penulis akan berbeda-beda. Ada yang dalam hitungan minggu, ada pula yang berbulan-bulan. Ada baiknya penulis meluangkan waktunya setiap hari mengerjakan karyanya untuk menghindari risiko lupa dengan jalan cerita yang berjalan maupun kehilangan semangat untuk menyelesaikannya.

Menulis novel itu mudah, jika si penulis memiliki chemistry yang kuat dengan naskahnya. Dan menulis novel itu susah jika memang tidak berniat membuatnya.

Tidak ada kunci rahasia dalam menulis novel dan tiap-tiap orang akan punya caranya masing-masing. Jika kamu senang membaca buku maka mengapa tidak membuat buku sendiri?

 

Jogja, 2 Februari 2015

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response