Migrasi Keluarga Sakinah; Kisah Pelarian Satu Keluarga Kucing Kampung di Tengah Tragedi Ibu Kota

Migrasi Keluarga Sakinah; Kisah Pelarian Satu Keluarga Kucing Kampung di Tengah Tragedi Ibu Kota
Migrasi Keluarga Sakinah. Sumber gambar: pixabay.com

Cerpen kesembilan. Artinya, sudah sembilan hari saya bermaraton membahas cerpen-cerpen dalam antologi Kampus Fiksi Emas 2017. Saya akui memang membutuhkan energi lebih, bahkan jauh lebih besar dari energi yang saya keluarkan saat bersepeda mendaki hingga ratusan meter elevasi. Beberapa postingan belakangan, saya tulis bukan lagi di hari sebelumnya, tapi di hari seharusnya tayang dan mendekati sore. Di atas semua itu, saya tetap akan menyelesaikannya sampai akhir.

Karya Ghyna Amanda berjudul Migrasi Keluarga Sakinah. Sebuah fabel alias cerita bertokoh binatang, lebih spesifik, kucing. Sakinah merupakan seekor kucing kampung yang memiliki anak-anak ras campuran dari pejantan yang menghamilinya. Apa bedanya kucing ras dengan manusia ras alias dari bangsa lain? Dikaitkan dengan adanya tragedi yang membuat keluarga Sakinah harus berpindah tempat tinggal, jika kucing ras—sebut saja kucing persia, kucing angora, kucing bengal, terkecuali kucing garong apalagi kucing om-om kaya—mendapatkan perlakuan istimewa bahkan dihargai mahal. Biaya perawatan mereka mengalahkan gaji bulanan saya yang memang tidak seberapa, melebihi harga sepeda saya yang teramat cupu itu. Sementara, manusia dengan ras berbeda, menjadi bulan-bulanan kemarahan semenjak adanya provokasi yang membabi buta. Mereka dikejar, diperkosa, dibunuh, dibakar, dibuang, dirampok, dijarah, dianggap tidak ada harganya.

Kontras. Semua itu berkaitan dengan orang-orang berjas. Yang muda, merujuk pada mahasiswa. Adalah efek domino yang dimulai dari ketidakpuasan terhadap pemerintah di mata kalangan aktivis mahasiswa, feedback dari pemerintah yang berusaha meredam, namun yang ada: api semakin rakus melahap kertas.

“Sebaiknya kalian cepat pindah,” ucap tetangganya lagi, lalu dengan hati-hati menunjuk koran yang dijadikan pembungkus tulang ikan di tangannya. “Ibu kota sedang bergejolak. Kau tidak tahu?”

“Ya, tapi kurasa mereka akan mengacaukannya lagi.”

“Mereka siapa?”

“Orang-orang itu, yang pakai jas!”

“Yang sudah tua?”

“Yang masih muda!”

“Mereka mau menggulingkan kekuasaan, tepatnya.” Kawannya itu kembali bercerita. “Beberapa orang dibunuh, lalu orang-orang muda berjas itu marah dan situasi mulai memanas. Rumah dari keluarga yang kamu tempati itu, mungkin akan diarah juga.”

Keluarga Sakinah memang tidak ada keterlibatannya dengan tragedi 98, tapi sesama kucing pun turut dilanda khawatir dengan keadaan ibu kota yang memanas.

Mereka tidak berada di tengah kota, melainkan di perumahan yang rindang dengan pepohonan. Bahkan tidak ada markas-markas orang bersenjata di sini, lalu apa yang membuat rombongan itu datang?

Dampaknya seperti pemanasan global yang ditimbulkan dari lubang di atmosfer bumi. Tidak tertanggulangi. Kucing-kucing memilih untuk mencari tempat aman. Tapi, di manakah tempat yang benar-benar aman ketika manusia yang telah hilang kendali masih berkeliaran mencari mangsanya?

Dari atap rumah yang satu, ke atap rumah yang lain Sakinah memandu anak-anaknya menemukan tempat aman. Bertemu dengan seorang gadis yang berada di tempat dan waktu yang salah. Dikeroyok beberapa pria yang lebih buas dari si raja hutan.

Sakinah adalah salah satu kucing yang menjaga jarak dari manusia. Sebagai salah satu usahanya untuk memproteksi keempat anak-anaknya yang berusia sebulan.

 

Sudah satu bulan lamanya keluarga Sakinah tinggal di atap rumah itu. Pada pertengahan musim penghujan lalu, Ibu Sakinah melahirkan di sana tanpa diketahui oleh siapa pun.

Seperti siang hari itu, Ibu Sakinah tahu bahwa anak-anaknya pasti membuat kegaduhan bagi penghuni rumah yang atapnya mereka tempati, hingga pada akhirnya ia harus pasang badan agar orang-orang itu tidak mengambil anak-anaknya.

Kucing adalah hewan yang konon begitu lucu di mata pencinta kucing, dan begitu nikmat di mata pemakan kucing. Manusia bisa menjadi sumber makanan, maka baik-baiklah dengan manusia.

“Kau akan menyesal. Sesekali kau perlu bersahabat dengan mereka.” Setelah mengatakan itu, tukang sayur memberikan bungkus berisi tulang untuk Ibu Sakinah dan tetangganya yang lebih dahulu menjilati jari.

Jika ingin makanan selain tikus dengan ribuan penyakit di tubuhnya, kucing bisa mendapatkan makanan lebih enak, seperti tulang ikan maupun tulang ayam. Kucing peliharaan teman saya malah doyan tempe. Tidak hanya manusia, kucing juga ada yang vegetarian. Luar biasa sekali.

Perjalanan mencari hunian baru dengan DP 0%, maksud saya rumah yang melindungi dari hujan dan aman dari jangkauan manusia yang kerasukan entah apa itu, tidaklah mudah. Mereka melihat mayat-mayat yang terbakar, toko-toko yang dirusak. Mereka lalu bertemu dengan anak etnis Cina yang hidup dengan daging curian. Dia bertahan hidup meski hanya sebatang kara. Tidak tahu di mana orang tuanya, masih hidup atau tidak.

Cerpen ini ditutup dengan ending yang tidak memberikan twist seperti pada cerpen sebelumnya, Mimpi Lelaki Tua, namun kelebihannya adalah tuturan alamiah kisah perjalanan penuh kesedihan yang keluarga Sakinah alami hingga mendapatkan tempat tinggal baru, mau tidak mau membuat kita termangu sesaat. Urusan manusia tidak hanya melibatkan manusia semata, tapi juga makhluk-makhluk hidup lainnya. Kucing, anjing, binatang ternak, tumbuhan, dan lain-lainnya. Lalu mengapa manusia begitu egois demi sebuah kekuasaan?

 

Jogja, 16 April 2017

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response