Mildred Pierce (2011-); Serial TV Janda yang Mengejar Cinta dan Karier

Mildred Pierce (2011-); Serial TV Janda yang Mengejar Cinta dan Karier
Mildred Pierce (2011-). Sumber gambar: IMDB

Mildred Pierce. Melihat sejumlah teknik pengambilan gambarnya sontak mengingatkan saya akan film Carol. Keduanya besutan sutradara Todd Hayness. Jika Film Carol bersetting Amerika tahun 1950-an, Mildred Pierce bersetting Amerika 1930-an. Sebenarnya jika saya menonton Mildred Pierce lebih dahulu, maka anggapan senada tentu akan saya berikan pada Carol.

Coba saja perhatikan ketika pengambilan gambar dari depan mobil yang sedang melaju, lalu akan tampak bayangan pohon atau bangunan yang melintasi kaca mobil. Juga ucapan kata “likewise”. Jika Anda ingin mencari kesamaan lainnya, punya pasti akan menemukannya.

Mildred Pierce adalah miniseri 6 episode, alias 6 jam kurang lebih. Mildred adalah seorang perempuan yang akhirnya menjadi janda karena ditinggal begitu saja oleh sang suami. Sebenarnya tidak begitu saja. Seorang perempuan idaman lain termasuk pemicu perpisahan keduanya.

Menjadi janda dengan dua anak yang masih kecil, meletakkan Mildred pada posisi tidak nyaman. Dia butuh uang untuk menghidupi kedua putrinya. Mencari pekerjaan tidak gampang. Ia bukan seorang perempuan berpendidikan tinggi. Posisi yang bisa dimasukinya hanya seputaran sekretaris atau resepsionis. Keahliannya membuat kue tak bisa diandalkannya untuk menjadi penghasilan utama.

Mildred adalah seorang janda cantik. Wajar jika kumbang-kumbang pun mendekati dan ingin melindunginya. Mildred juga bukan tipe perempuan yang jual mahal. Dia memang membutuhkan laki-laki yang menjadi tulang punggung sehingga dia tetap menjadi ibu rumah tangga yang mengurus anak-anak.

Saya mengagumi perkembangan karakter Mildred menjadi seorang perempuan kuat dengan caranya sendiri. Kecerdasannya perlahan diperlihatkan dari caranya merancang bisnis sendiri. Sebab melayani orang lain baginya adalah aib, dan aib bagi putri sulungnya. Dia dibantu teman-teman dan juga pria yang jatuh cinta padanya tapi juga ada maunya.

Miniseri Mildred Pierce di akhir episodenya selalu diakhiri adegan yang menggantung. Membuat saya tidak sabar untuk memutar episode berikutnya. Di tengah-tengah keasyikan saya, sebuah perasaan dejavu pun datang. Sepertinya saya pernah menonton miniseri ini, tapi kenapa banyak betul adegan yang hilang dari ingatan saya. Saya hanya ingat dia punya kekasih yang selalu mengajaknya bercinta tapi rupanya lelaki ini 11-12 dengan pria sebelumnya. Mengejar hartanya.

Banyak kejadian yang membuat miniseri Mildred Pierce terasa emosional dan menggemaskan. Mantan suami yang selalu siap mendengar keluh-kesahnya tentang anak-anak mereka, anak yang mulai beranjak remaja dan bertingkah, rekan bisnis yang bisa menusuk dari belakang. Layaknya sebuah kehidupan sebenarnya, tidak ada orang yang hidup lempeng-lempeng saja. Dan tidak ada masalah yang bisa selesai jika dihindari. Mildred bertransformasi menjadi seorang perempuan yang mampu menguasai keadaan, mampu berbisnis, mampu berstrategi, mampu menjadi ibu yang bertanggung jawab.

Konflik Mildred dengan sang putri sulung, Veda, adalah satu konflik yang berkembang di dua episode terakhir. Boleh dibilang puncak panasnya masalah. Evan Rachel Wood melanjutkan peran Morgan Turner sebagai Veda yang berambisi jadi pianis tapi sebenarnya tak punya bakat di mata para musisi besar. Dia berguru pada seorang pianis tapi tak sekalipun dirinya diberikan kesempatan untuk memperlihatkan permainannya. Apa itu namanya kalau bukan tidak berbakat? Mildred teralu naif sehingga selalu saja membela anaknya yang tidak sadar-sadar juga. Semaunya sendiri. Padahal belajar musik bukan sesuatu yang main-main atau bisa diimprovisasi sesukanya.

Hingga beranjak dewasa, Veda masih juga tidak sadar diri. Tingkahnya selalu saja diredam oleh sang ibu yang terus memberinya semangat dan ikut kesal dengan guru piano yang memandang sebelah mata. Pada akhirnya, Mildred bisa melihat dengan jernih, orang yang dibelanya adalah duri dalam daging. Seseorang yang kita percaya adalah orang nomor satu yang akan menghancurkan kita. Dengan cara yang akan sangat menyakitkan.

Beberapa bagian dari miniseri ini memang ada yang terasa menjemukan. Terlebih di dua episode terakhir. Saya merasakan energi yang mulai berkurang. Tendensi yang melemah, seolah ending sudah berada di episode keempat. Bagian membosankan ini tetap saya tonton juga, ketimbang terlewatkan sesuatu yang mungkin saja menjadi petunjuk di episode berikutnya.

Sebuah ending bahagia memang klise. Lalu bagaimana dengan dua ending sekaligus, sad dan happy ending. Ya, kedua akhir itu menutup episode kelima. Satu membahagiakan Mildred Pierce, satunya menyedihkan. Itulah jalan yang terbaik agar penonton tidak dikecewakan oleh penutup indah yang mudah ditebak. Lagi pula ada berapa peluang memangnya akhir dari konflik kehidupan Mildred? Bisa dihitung, bukan? Pertama, dia menikah dengan pria pilihannya dan hidup bahagia. Kedua, kembali dengan mantan suami dan hidup bahagia. Ketiga, sementara tidak menikah dulu demi memperjuangkan karier dan masa depan anaknya yang tiba-tiba “berubah haluan”.

 

Jogja, 26 Mei 2016

Nisrina Lubis

Nisrina Lubis

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response