Mommy (2014); Film Tentang Seorang Ibu dan Anak ADHD

Mommy (2014); Film Tentang Seorang Ibu Dan Anak ADHD
Mommy (2014). Sumber gambar: IMDB

Mommy mengantarkan Xavier Dolan (It’s Only the End of the World) mendapatkan nominasi Palme d’Or tahun 2014 sebagai otak di balik sinema bertema hubungan antara anak bermasalah dan ibunya. Jika pernah menonton We Need to Talk About Kevin, kurang lebih film ini menawarkan rasa yang sama. Bagaimana perasaan seorang ibu memiliki anak dengan emosi yang bisa meledak kapan saja, bisa melakukan apa pun yang membahayakan orang lain.

Chemistry antara Steve, si anak ADHD dengan ibunya, Die, terbangun tanpa cela semenjak Film Mommy bergulir. Perlahan, karakter keduanya dipaparkan lewat gestur maupun ucapan-ucapan yang meluncur dari mulut.

Steve remaja yang mulutnya tak bisa lepas dari umpatan, bahkan kepada ibunya pun kata-katanya tidak terkendali. Sementara ibunya tipikal perempuan yang jauh dari sifat lembut. Cocoklah mereka berdua. Sama-sama sesukanya sendiri. Meski demikian, Dia sangat menyayangi putranya. Hanya Steve yang dia punya dan akan dia perjuangkan sampai akhir hayat.

Mereka punya tetangga. Sebuah keluarga yang baru pindah dari Quebec. Oh ya, film ini buatan Kanada dengan berbahasa utama Prancis. Saya tidak tahu apakah ada perbedaan bahasa Prancis asli dari Prancis dengan Prancis di Kanada. Yang pasti, soal sikap sinis mereka terhadap bangsa lain, itu tidak bisa ditutup-tutupi. Sikap rasis pada bangsa kulit hitam. Dan skeptis terhadap bangsa Amerika yang rakus ingin menguasai segala-galanya.

Tetangga Steve adalah seorang perempuan yang mengalami gangguan bicara, alias agak gagap. Bukan gangguan sejak lahir, melainkan beberapa tahun belakangan, tanpa ada penjelasan lebih detail. Tidak begitu penting juga sebenarnya. Kayla masuk dalam keluarga itu. Berkenalan dengan dua orang berkarakter berbeda. Tapi di tengah-tengah Die dan Steve, dia mampu berbicara lancar. Dia pun menyayangi Steve, mengajarinya, memberinya semangat untuk belajar agar bisa masuk universitas yang diinginkannya.

Keunikan dalam film ini adalah layar yang berbentuk persegi. Ya, tidak lebar. Saya pikir gara-gara menonton film bajakan sehingga layarnya tidak penuh. Lagi-lagi sang sutradara punya alasan tersendiri. Memilih layar persegi konon akan lebih baik dalam fokus gambar. Unik pula ketika tangan Steve bergerak seolah membuka layar menjadi penuh. Lalu kembali lagi ke persegi hingga akhir.

Mommy mendapatkan standing ovation selama 9 menit saking hebatnya hasil garapan Xavier Dolan di karyanya berdurasi 2 jam 19 menit ini. Ada banyak hal-hal tak terduga, ada banyak folisofi hidup yang diselipkan secara halus di sana. Bahwa masyarakat kelas menengah pun juga punya harga diri. Mereka punya cinta. Mereka punya keinginan-keinginan.

Sosok Die bekerja mati-matian demi Steve, menjadi pembantu rumah tangga. Meski di negara itu ada semacam undang-undang (tapi sebenarnya hanya fiktif belaka) yang menyebutkan bahwa orang tua yang tidak sanggup lagi merawat anaknya, bisa menyerahkan perawatannya kepada pemerintah, Die bersikeras menjaga Steve dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Steve, bagaimanapun juga bisa bersikap sangat manis dan protektif terhadapnya. Die memang tidak mampu terus-menerus membelikan obat untuk mengendalikan emosi putranya. Untuk hidup sehari-hari saja sudah sulit. Ketika Steve dituntut atas perbuatannya di sekolah, Die berusaha bernego dengan pengacara yang sebenarnya ada maunya.

Die bukan tipe perempuan yang senang mengeluh. Rokok selalu terselip di bibirnya. Kehidupan memang tidak berjalan lempeng. Maka diterimanya apa pun hidup yang ada di depannya. Suaminya telah pergi. Die tidak menjadi perempuan kegatelan yang mencari laki-laki lain untuk menjadi sandaran hidup. Padahal dia punya wajah yang cukup menawan di usianya yang sudah di atas 40-an. Tapi lagi-lagi, inilah kekuatan hati seorang ibu yang bertanggung jawab. Sampai akhirnya dia memutuskan untuk menyerah. Tapi jangan berharap Xavier Dolan benar-benar menutup cerita ini dengan eksplisit. Yah, biarkanlah orang yang menebak-nebak sendiri.

Trailer Mommy:

 

Jogja, 27 Mei 2016

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response