Moonlight (2016); Film Tentang si Anak Pencandu Narkoba

Moonlight (2016); Film Tentang si Anak Pencandu Narkoba 1
Moonlight (2016). Sumber gambar: moviepostershop.com

Moonlight, Hidden Figures, dan Fences merupakan 3 film yang mewakili kaum Afro-Amerika di ajang Academy Awards 2017. Ketiganya menawarkan 3 masa berbeda. Moonlight tentang pria dengan ibu yang kecanduan narkoba. Hidden Figures diangkat dari kisah para ilmuwan perempuan kulit hitam di NASA tahun 1060-an. Fences tentang konflik keluarga kelas menengah di tahun 1950-an. Dua judul terakhir sudah pernah saya ulas pada postingan sebelumnya. Sekarang saatnya untuk Moonlight.

Membicarakan tentang kaum gay kulit hitam, akan identik dengan kekerasan yang tidak kalah menyedihkan dengan kaum gay kulit putih. Masih teringat dalam ingatan saya, di serial Empire season 1, memperlihatkan sikap anti-LGBT yang tidak tanggung-tanggung. Sikap tentangan keras datangnya dari dalam keluarga.

Moonlight menyoroti kekerasan pada gay kulit hitam di lingkungan sekolah. Chiron alias Little alias Black menjadi salah satu representasi korban bullying hingga pemukulan yang tidak terhindarkan. Tidak dijabarkan secara detail mengapa teman-teman Chiron sampai tahu seputar orientasi seksualnya. Chiron bertingkah laku seperti anak-anak lain. Tidak feminin. Dia pun tidak bermain dengan teman-teman lawan jenis. Namun, Chiron selalu menjadi target.

Suatu kali dia bersembunyi di dalam sebuah rumah kosong. Seorang pria lalu datang dan membawanya pulang. Juan adalah seorang pengedar narkoba, pada dasarnya seorang pria baik. Tapi, ketika seseorang sudah bergelut dengan hal kotor, pandangan orang lain akan menjadi buruk. Juan adalah seorang pria kulit hitam asal Kuba. Tinggal bersama kekasihnya yang bernama Teresa. Oh ya, pemeran Juan dan Teresa juga melakoni peran kecil di Hidden Figures.

Setelah menginap di rumah Juan, Chiron diantarkan pulang. Ibunya tidak suka melihat Juan. Curiganya pun tumbuh pada sosok pria tinggi tegap tersebut. Juan tidak lagi muncul pada 2 bagian cerita selanjutnya. Bagian 1 berjudul Little.

Sumber gambar: moviepostershop.com

Bagian 2, diberi judul Chiron. Bocah tadi sudah tumbuh menjadi remaja. Memasuki masa puber. Bullying masih menghantui dirinya. Semakin lama semakin tajam. Chiron tak memberi perlawanan. Hanya saja, ketika ibunya tidak bisa dijadikan tempat mengadu karena makin tak beres, dia memilih Teresa. Teresa memahami Chiron dan selalu bisa membesarkan hati. Di masa remaja pula, Chiron mengalami orgasme dengan seorang teman di sekolahnya. Temannya seorang biseksual, tapi pada bagian 3, pada akhirnya kecenderungan itu akan lebih terlihat.

Menjadi bagian penutup, Bagian 3 diberi judul Black. Nama panggilan itu berasal dari Kevin. Jangan mengira Kevin adalah remaja berkulit putih. Mereka sama-sama hitam. Bagi Kevin, nickname menjadi sebuah kekhususan dalam pertemanan. Awalnya Chiron keberatan dipanggil begitu, namun ketika mereka bertemu kembali setelah sekian waktu kemudian, Black menjadi sangat bermakna.

Kevin dan Chiron sama-sama dewasa dengan nasib masing-masing. Sama-sama menjalani hukuman. Kevin melanjutkan profesi Juan sebagai bandar narkoba, Chiron menjalin hubungan dengan perempuan lain.

Untuk ukuran film LGBT, Moonlight menurut saya spesial. Kisah cinta dari kalangan Afro-Amerika tidak banyak diangkat. Kalaupun ada, endingnya selalu penuh dengan kesedihan. Moonlight tidak menawarkan kepalsuan di dalamnya. Musik-musik klasik yang dijadikan pendamping setiap adegan dramatis membuat terhenyak beberapa jenak. Romantis tapi pedih.

Trailer Moonlight (2016):

Jogja, 5 Februari 2017

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response