Mudik, Modom, Hepeng

Berhubung lagi di Medan, ada tiga hal terkait yang ingin saya bahas: mudik, modom, hepeng

mu·dik v 1 (berlayar, pergi) ke udik (hulu sungai, pedalaman): dr Palembang — sampai ke Sakayu; 2 cak pulang ke kampung halaman

 

Mudik adalah tradisi yang—bisa jadi—hanya dikenal oleh bangsa kita tercinta, meskipun yang namanya merantau ternyata juga dilakukan oleh bangsa-bangsa lain dunia. Pemudik sudah pasti dilakukan para perantau. Tapi, apa iya orang yang telah pergi jauh akan selalu berpikir untuk kembali ke kampung halamannya? Dua faktor yang mempengaruhi seseorang akan kembali ke kampung halaman atau tidak adalah kondisi di tanah rantau dan situasi di kampung halaman. Dua contoh konkretnya adalah perantau Amerika Serikat dan Israel.

modom hepeng

Penduduk Amerika Serikat asli bukanlah yang berkulit putih, berambut pirang dan berhidung mancung berasal dari tanah Eropa. Ribuan tahun sebelumnya, suku Indian jauh lebih dulu menempati benua tersebut hingga keberadaan mereka makin terpinggirkan oleh para perantau dari Inggris, Spanyol, Prancis, dan Belanda. Setelah ratusan tahun mendeklarasikan diri sebagai warga negara Amerika Serikat, sepertinya mereka tidak tertarik lagi kembali ke kampung halaman masing-masing.

Lain lagi dengan ke-keukeuhan bangsa Yahudi yang merasa perlu mudik ke kampung halaman, yang kebetulan sudah ditempati oleh bangsa Palestina, sama-sama memiliki hak untuk tinggal di sana. Aneksasi ala Israel menjadi perhatian dunia karena di satu sisi, Israel memiliki dasar yang kuat untuk merebut kembali wilayah yang diklaim sebagai warisan nenek moyang, sementara warga Palestina sudah sekian generasi menempati tanah itu. Mereka ogah diperlakukan sama dengan warga Indian yang akhirnya menjadi minoritas di Amerika Serikat.

Hawa peperangan terpicu semenjak keluarnya Deklarasi Balfour di tahun 1917. Menlu Britania Raya James Balfour mengeluarkan surat teruntuk pemimpin komunitas Yahudi Inggris Lord Rothschild seputar restu Inggris bagi pihak Yahudi untuk mendapatkan bagian tanah di Palestina. Ada syarat yang ditekankan pada perjanjian tersebut yang kita pastinya tahu sudah dilanggar oleh si pendatang baru, yaitu: tak ada hal-hal yang boleh dilakukan yang mungkin merugikan hak-hak dari komunitas-komunitas yang ada di sana.

Kenyataannya, penggalian terowongan di bawah Masjid Al-Aqsa adalah salah satu hal yang termasuk dalam pelanggaran besar terhadap komunitas muslim Palestina. Jelas-jelas masjid itu disebut-sebut dalam kitab suci umat Islam sebagai bagian dari peristiwa Isra’ Mi’raj. PBB seharusnya menjadi penengah, nyatanya tidak mampu memberikan solusi menang-menang. Pejabat yang duduk di posisi berkuasa dari sononya pro-Israel, ah lebih tepatnya pro-Zionis. Toh, keturunan Yahudi asli tidak semuanya sepakat dengan rencana mudik besar-besaran ini sebagai pengganti eksodus besar-besaran di masa lalu. Selain mereka sudah sangat lama hidup berpencar-pencar dan memulai kehidupan sendiri yang berbaur dengan bangsa lain, apa iya tidak risih ujuk-ujuk memboyong seluruh keluarga ke kampung halaman yang barangkali mereka sendiri pun asing?

Ini seperti yang saya rasakan ketika tiap menjelang lebaran membeli tiket pesawat Jogja-Medan. Saya tidak menyebutnya sebagai pulang kampung karena tidak ada keterkaitan emosional dengan kota itu. Saya lebih menyukai coto Makassar ketimbang ikan arsik yang dimasak bermodal dengan merica andaliman karena semenjak kecil, hampir setiap hari Minggu, ayah saya membelikan seporsi coto Makassar dengan kuah kental dan konon mampu memicu naiknya kadar kolesterol. Setiap kali menginjakkan kaki di Bandara Kualanamu, pasti saya minta dijemput karena sama sekali tidak tahu arah jalan pulang ke rumah. Ketika orang tua saya bicara dengan bahasa Mandailing, saya pun hanya bisa jadi kambing congek sambil manggut-manggut roaming, kecuali menyebut kata hepeng dan modom, dua hal yang sangat saya sukai, uang dan tidur. Merantau membuat saya memiliki kampung halaman yang berbeda dari orang tua sendiri.

 

Jogja, 15 Juli 2015

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com