Penampilan Payung Teduh di Eathernity Fest 2015

Penampilan Payung Teduh di Eathernity Fest 2015
Penampilan Payung Teduh. Sumber gambar: Wikipedia

Menawarkan nuansa klasik dengan lirik-lirik manis, hidangan musik Payung Teduh, band dengan empat personel Is, Comi, Cito, dan Ivan membuat malam yang cukup sesak dengan ratusan penonton di Gedung PKKH UGM semalam tadi menjadi seakan habis turun hujan, mellow dan sendu. Itu adalah salah satu performance band asal Jakarta sebagai puncak acara Eathernity Fest 2015 Bengkel Kesenian Geografi UGM. Sebelum ke puncak pertunjukan, saya pun menikmati permainan solo Frau, kalau yang ini saya sudah cukup lama mendengar kiprahnya bermain dari satu gig ke gig lain, wawancara dari satu radio ke radio lain.

Eathernity Fest 2015 merupakan acara tahunan yang selalu mengundang sejumlah musisi dengan konsep lesehan dan panggung standar, terbilang kecil tapi pemakaian instrumen yang cukup banyak sehingga saya cukup jenuh menunggu adanya jeda waktu untuk membongkar pasang instrumen dan checksound. Saya rasa penonton lainnya pun merasakan hal yang sama. Band pembukanya ada Elephant Walker, The Vulf, Carita de Anger, memakai instrumen yang sudah ada, tapi sepertinya masih utuh cek-cek alat lagi. Entah apakah mereka sempat checksound apa tidak. Memainkan musik rock di dalam ruangan semioutdoor sepertinya bukan ide yang bagus, tapi akhirnya telinga saya dipaksa untuk mendengarkan permainan mereka. Bukan permainan mereka jelek, tapi sebagai musisi, seharusnya mereka tahu musik dan instrumen apa saja yang mereka pilih malam itu. Bermain semiakustik justru akan semakin tampak keren dan enak di telinga. Sorry to say, sound-nya terbilang tidak maksimal dan mic yang settingannya nggak pas. Saya dan kawan saya tidak bisa mendengar apa yang orang-orang di panggung katakan. Hanya suara gumaman-gumaman tidak jelas. Yah, dengan tiket 55.000 mau mengharapkan segalanya sematang konser musik pro memang mustahil.

Selanjutnya adalah Geovoice n the Sweetstring. Ini sepertinya performance andalan dari fakultas penyelenggara. Hanya menyanyikan 2 lagu padahal mereka punya keunikan. Sayang sekali. Dan saya rasa mereka akan terlihat makin keren jika memiliki seragam, tidak dengan selera berpakaian masing-masing. Seperti orkerstra yang memperlihatkan kekompakan, tidak hanya dalam harmoninasi suara, tapi juga tampilan para musisinya. Ada 3 violinis di band ini, tapi karena tidak terplugin dengan sound, mungkin hanya mereka dan Tuhan yang bisa mendengarnya. Padahal saya sangat suka dengan suara violin. Untuk suara vokalisnya, saya rasa setelan mik tidak begitu maksimal sehingga artikulasinya nggak jelas dan beradu keras dengan musik. Mungkin jika menggunakan standing mic, output akan lebih stabil atau wireless mic.

Setelah sederetan band, ada band Tik! Tok!, trio asal Jogja yang mulai tahu mengatur output sound agar tidak merusak telinga dan enak untuk didengarkan. Suara sang vokalis utama yang aduhai empuknya memang langsung membuat para penonton cowok dan cewek penyuka sesama langsung bergairah. Ajityo, Dita, dan Danang muncul di saat pertunjukan mulai terasa melelahkan. Setengah jam memang tidak cukup, tapi kalau ditambah, jam berapa acara ini akan selesai? Kami sudah mengantre panjang sejak pukul 6 sore dan regulasi yang cukup rumit di depan pintu masuk, larangan ketat membawa makanan (dengan alasan di dalam sudah ada yang berjualan makanan, dengan pilihan yang sangat sedikit dan terpaksa beli juga ketimbang kelaparan), dan 3 MC yang sering mati gaya dan sesekali mengeluarkan pisuhan padahal kalau tidak salah acara ini diliput oleh salah satu stasiun swasta lokal. Komplet bukan?

Menjelang pukul 9, kemunculan Frau dengan Oskar (ini nama piano digitalnya) mengisi panggung. Tidak pas di tengah-tengah panggung. Entah kenapa dia malah diposisikan agak ke kiri dan di bawah. Saya pikir dia akan membawa grand piano, dan saya baru tahu kalau memang biasanya memakai digital piano sat pertunjukan. Lagi-lagi karena problem panggung, setiap kali Frau berinteraksi dengan penonton, yang terdengar hanya gumaman, tapi ketika menyanyi, artikulasinya sangat bagus, meskipun ada kalanya suaranya tenggelam dengan suara penonton yang sing along.

Soal penonton sing along makin parah ketika Payung Teduh mulai memainkan lagu pertama. Jadi semacam berada di tempat karaoke massal di mana vokalisnya diam pun tidak masalah. Terus terang, saya bukan seorang pencinta Payung Teduh. Ya saya tahu band ini setipe dengan band masa kini yang memainkan musik-musik rasa tahun 60-an yang biasanya jadi pengiring adegan romantis dalam film. Dan hey, Payung Teduh ini juga terlibat dalam soundtrack Filosofi Kopi.  Untungnya penonton yang terlalu antusias sing along akhirnya mereda karena capek sendiri. Baru di saat itulah saya bisa menikmati suara sang vokalis dan lirik lagunya yang memang membuat suasana sejuk seperti hujan habis turun, payung-payung dilipat, dan pasangan sejoli berangkulan. Yang terakhir tadi adalah pemandangan di depan saya. Asyik betul. Cahaya yang remang membuat saya gagal mengabadikan kemesraan mereka dari belakang. Ya sudahlah.

 

Jogja, 8 Juni 2015

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response