Napak Tilas; Mencari sang Ayah di Tengah-Tengah Kerusuhan

Napak Tilas. Sumber gambar: pixabay.com

Napak Tilas karya Yenita Anggraini menghadirkan cerita kilas balik seorang tokoh “Aku” mencari sang ayah dalam kerusuhan ’98. Kita sedari awal dipandu untuk menanti-nanti momen pertemuan antara si Aku, dengan sang ayah yang hanya berprofesi sebagai seorang tukang bajaj. Dalam sebuah peristiwa, ada kalanya orang yang begitu kita kenal, berubah menjadi orang asing. Tidak hanya ayah si Aku, boleh jadi banyak lagi ayah-ayah lainnya yang berubah menjadi orang asing dan tak mampu mengendalikan hawa nafsunya.

“Hari ini kita akan pergi ke suatu waktu. Hari di mana ratusan nisan tak bernama masih berwujud manusia yang hidup dan memiliki asa. Hari di mana mungkin saja ayahmu menjelma menjadi hewan atau pahlawan, kita tidak tahu. Ayah yang tidak lagi bisa kamu temukan dalam puing-puing sisa kebakaran, Ayah yang katanya ikut berlari-lari saat teriakan sekelompok orang tak dikenal menyemangatinya untuk menjarah toko milik Koh Aseng, yang anaknya adalah temanmu saat kecil.”

Kisah napak tilas ini mengingatkan saya akan cerita Christmas Carol karya Charles Dickens. Seorang pria tua bernama Ebenezer Scrooge yang dibawa berkeliling melihat dirinya di masa lalu oleh Malaikat Maut sebab besok harinya dia akan mati, tepat di hari Natal. Dia melihat betapa dirinya tidak disukai orang-orang karena sikapnya sendiri dan berjanji untuk menjadi lebih baik jika diberi kesempatan kedua untuk hidup.

Kembali ke cerpen yang sedang saya bahas. Si Aku dibawa memasuki dimensi masa lalu, tepatnya sebuah kerusuhan teramat pedih untuk diingat. Siapa pun yang berada di jalan bisa menjadi korbannya. Terlebih yang menjadi target, etnis Cina. Tidak peduli apakah orang yang akan mereka serang memiliki ikatan yang hangat dengan mereka ataukah benar-benar asing. Orang-orang telah dibutakan dengan keinginan membalaskan dendam atas kondisi ekonomi yang carut-marut. Kalangan kelas bawah kelabakan dengan perubahan yang sedemikian hebatnya.

Napak tilas pertama yang dilihatnya adalah seorang sopir bajaj yang berusaha melindungi penumpang—yang kemungkinan etnis Cina—dari kebuasan di jalanan. Si sopir bajaj rupanya bukan sosok ayah yang dicari si Aku.

Ayah si Aku bukan pula penjarah toko yang mati tragis dengan tubuh setengah terbakar. Di tangannya ada sekaleng susu. Mati dengan hina dan membawa serta dosa akibat mencuri. Sungguh memilukan. Boleh jadi, banyak ayah dari anak-anak lain yang masih hidup dengan memikul dosa serupa hingga akhir hayat.

Kerusuhan itu tidak akan terjadi tanpa ada kaitan dengan pihak penguasa. Rakyat yang menggila dan penguasa yang mulai didera kekhawatiran kursi yang tidak akan lama lagi bisa dipertahankan. Penguasa dalam cerpen ini diibaratkan dengan sebuah kerajaan.

Permaisuri selalu berfoto dengan menggenggam kunci. Kunci-kunci itu bisa membuka pintu-pintu tempat penyimpanan senjata dan harta berharga. Kenapa? Karena ia dianggap simbol pemegang rahasia keluarga. Diamnya adalah emas. Pertikaian dalam keluarga, perebutan tahta dan harta, adalah hal-hal yang harus disimpannya rapat-rapat. Keluarganya akan baik jika itu yang ia tampilkan di muka rakyat. Kelembutannya harus menutupi kerisauan dalam hatinya. Senyumnya harus menjadi penenang bagi rakyat maupun anggota keluarga. Ia harus menunjukkan bahwa ia, rajanya, pangeran, dan putrinya baik-baik saja.

Negara kita tidak menganut sistem kerajaan, namun apa yang bergulir selama bertahun-tahun silam tidak jauh berbeda dengan pemerintahan mutlak di tangan seorang raja. Anak-anaknya kelak akan meneruskan pemerintahan itu. Sebelum waktunya tiba, sang raja akan terus berkuasa hingga rambutnya semua telah memutih dan jalannya perlu dibantu dengan tongkat. Tapi seiring dengan berjalannya waktu, rakyat menyadari ada yang salah dengan pemerintahan dan harus diluruskan sesuai dengan ideologi murni bangsa. Dan proses untuk sampai ke sana harus dijalani dengan pertumpahan darah yang kelak akan tercatat dalam sejarah.

Pencarian ayah si Aku masih terus berlanjut meski Aku merasa lelah teramat sangat. Apa yang dilihatnya adalah film terburuk yang pernah ada di dunia ini. Manusia tidak sepatutnya diperlihatkan rentetan adegan manusia seperti terhipnotis untuk merusak apa pun yang berada di dekat mereka. Atas nama perut yang kelaparan. Aku berharap, sang ayah bisa segera ditemukan, agar dirinya bisa berhenti diperlihatkan sebuah kerusakan besar-besaran. Pemerkosaan besar-besaran, penjarahan besar-besaran, pembunuhan besar-besaran.

Hingga, perjalanan napak tilas itu akhirnya berakhir. Sang ayah si Aku telah ditemukan. Di suatu tempat yang tidak dikenalinya. Menunggu kiriman-kiriman untuk dia tangani dengan caranya. Agar kiriman-kiriman itu tidak diketahui siapa pun. Agar dunia tidak perlu tahu. Agar dosa-dosa manusia tidak perlu terendus malaikat. Seandainya itu mungkin.

 

Jogja, 14 April 2017