Naskah Rapi; Idealnya Sebuah Karya Ketika Ditawarkan ke Penerbit

Naskah Rapi; Idealnya Sebuah Karya Ketika Ditawarkan ke Penerbit
Naskah Rapi. Sumber gambar: pixabay.com

Naskah rapi boleh dibilang menjadi most wanted para editor. Kita bicara tentang fisik naskah, di luar persoalan naskah ideal yang memiliki tema bagus, detail kuat, penokohan yang punya ciri khas, dan tentunya pesan moral. Bahasan ini seputar packaging. Kulitnya.

Setiap bulan menghadapi puluhan naskah tentu membuat saya terbiasa melihat begitu beragamnya tingkat kerapian yang dimiliki penulis. Ada yang sangat rapi, agak rapi, berantakan. Nah, kita nggak perlu bahas naskah yang berantakan karena dari tahap evaluasi akan langsung dapat lampu merah.

Naskah rapi itu seperti apa sih? Okeyy akan saya ulas secara mendalam di sini. Kerapian sebuah naskah pada dasarnya dipengaruhi oleh pengalaman si penulis dalam menulis dan juga membaca. Penulis yang punya referensi baca yang bagus (dengan kata lain membaca buku-buku novel dari penerbit besar yang punya standar tersendiri) tentu akan tahu bagaimana menulis dialog. Saya contokan beberapa hal yang standar di DIVA. Ini untuk dialog.

Contoh salah:

‘ ‘Halo, apa kabar,? Maaf jika aku datang malam-malam begini’ ‘.

Contoh benar:

“Halo, apa kabar? Maaf jika aku datang malam-malam begini.”

Contoh salah:

“Hoy Ta,! Kemarilah, Sebentar lagi akan hujan,” seru Didi padaku.

Contoh benar:

“Hoy ,Ta! Kemarilah! Sebentar lagi akan hujan!” seru Didi kepadaku.

Contoh salah:

Wanita itu terdiam kemudian membuka pintu mobil, “Aneh.” Katanya pelan. Ia mengedarkan pandangan lalu dilihatnya seorang pemuda berbaju merah. Pemuda itu buru-buru pergi.

Contoh benar:

Wanita itu terdiam kemudian membuka pintu mobil. “Aneh,” katanya pelan. Ia mengedarkan pandangan lalu dilihatnya seorang pemuda berbaju merah. Pemuda itu buru-buru pergi.

Lalu dialog antara dua tokoh atau lebih

Contoh salah:

Aku berbisik padanya. “Lihat, itu orang yang kemarin. Bajunya juga yang kemarin.” Udin mengangguk-angguk. Dia mengenali pria pendek berkepala botak itu.”. “Kita laporkan saja ke polisi.” Usulnya spontan. Aku menggeleng. Terlalu cepat jika langsung melibatkan polisi. “Kita ikuti saja dulu ke mana dia pergi. “Aku kan menghubungi Jihan.”

Contoh benar:

Aku berbisik padanya, “Lihat, itu orang yang kemarin. Bajunya juga sama dengan yang kemarin.”
Udin mengangguk-angguk. Dia mengenali pria pendek berkepala botak itu. “Kita laporkan saja ke polisi,” usulnya spontan.

Aku menggeleng. “Terlalu cepat jika langsung melibatkan polisi. “Kita ikuti saja dulu ke mana dia pergi. Aku akan menghubungi Jihan.”

Itu contoh-contoh dalam dialog. Ini yang paling mudah terdeteksi saat proses evaluasi. Sementara untuk keluwesan bahasa dalam setiap kalimat baru bisa terdeteksi ketika proses editing berjalan. Karena faktor kebiasaan, saya pun memakai sistem random. Jika di bab-bab awal penyajian naskah rapi, saya akan cari tahu di bab pertengahan dan menjelang akhir. Di bab pertengahan merupakan bagian vital naskah. Seorang penulis yang sudah kehabisan ide di setengah perjalanan, akan memperlihatkan begitu banyak kesalahan yang tidak ia lakukan pada bab-bab awal. Jika di bab tengah ternyata masih rapi, saya akan pindah ke beberapa bab menjelang akhir. Saya sama sekali tidak memperhatikan ending, tapi murni kerapian naskah.

Untuk apa kerapian naskah sebenarnya?

Pertama, memudahkan kerja editor yang pada dasarnya hanya sebagai pengawal naskah, bukan penulis kedua.

Kedua, naskah rapi dampaknya kepada nama baik si penulis. Dengan naskah yang rapi, saya rasa penerbit juga tidak akan ragu untuk menjalin kerja sama di naskah-naskah berikutnya. Saya menerapkan sistem ini. Tapi, bukan berarti saya dengan serta-merta selalu memberi lampu hijau kepada penulis yang sudah banyak memberikan kontribusi naskah.

Saya juga seorang editor, saya sering juga dengan sengaja memegang naskah para penulis langganan, untuk tahu apakah kualitas tulisannya masih masih prima atau tidak. Jika tidak, saya tentu akan mengadakan pembicaraan khusus terkait hal ini. Saya objektif, jika memang naskahnya sudah mulai menurun kualitasnya, bisa saja saya tolak. Demi kebaikan si penulis itu sendiri. Hal ini tidak berlaku untuk naskah yang sejak awal sudah saya kawal proses penulisannya. Ini beda kasus.

So, saya sih berharap, para penulis bisa lebih concern soal estetika naskah dan tidak enggan untuk belajar ilmu editing dasar. Banyak sumber yang bisa dijadikan referensi. Dan tim saya di teenlit tentunya juga sedikit banyak bisa membantu.

 

Jogja, di malam hari, 24 Juni 2013

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response