Negara Israel; Negara yang Mengundang Kebencian Umat Islam

Negara Israel; Negara yang Mengundang Kebencian Umat Islam
Negara Israel. Sumber gambar: pinterest.com

Ketika masa keriuhan Pilpres sudah berakhir, maka perhatian publik beralih pada konflik tanpa akhir antara Israel dan Palestina. Semua orang sepertinya begitu sensitif, berapi-api, marah, menyumpah-nyumpah, mendesak PBB supaya menegur Israel agar menghentikan serangan balasannya atas serangan dari pihak Palestina. Foto-foto dan gambar korban serangan membabi-buta Israel pun disiarkan di semua media.

Saya paham, ini tragis, serangan demi serangan-yang sebenarnya tidak membabi-buta karena persenjataan negara Israel begitu canggih dan punya kendali komputerisasi yang WOW dan mahal-dengan cepatnya menewaskan penduduk Palestina. Saya paham, banyak penduduk Palestina yang harus kehilangan anggota keluarganya. Yang saya nggak paham, karena kecaman orang mengarah entah ke siapa.

Mereka mengutuk Israel senegara-negaranya, men-generalisir kalau orang Israel semuanya kejam dan keluarlah ayat al-Qur’an yang mengatakan betapa jahatnya Bani Israil dan bagaimana mereka akan mendapat balasan.

Banyak pertanyaan yang kemudian berkecamuk dalam kepala saya tentang ini. Mulai dari, perlukah mengutuk semua orang Israel sementara yang menjatuhkan misil-misil itu adalah militernya? Apakah semua orang Israel setuju dengan ideologi pemerintah Israel yang jelas-jelas memakai Zionisme? Siapa yang dimaksud Bani Israil dalam al-Qur-an? Apa bedanya dengan Yahudi? Apakah penduduk Israel sama dengan Bani Israil yang ada di dalam al-Qur-an? Yang merupakan keturunan dari 12 putra Nabi Ya’qub, yang mengembara dan kembali ke Tanah yang Dijanjikan? Apakah ini perang sebatas agama? Lalu agama apa dengan apa? Mengapa AS membantu negara Israel? Mengapa negara-negara Arab tidak mau membantu Palestina? Mengapa Palestina tidak punya senjata sekeren Iron Dome? Dan saya tidak mau masuk menjadi orang yang langsung mengecam begitu saja. Tunggu dulu. Semua pasti ada penjelasannya.Saya tahu, ketika mencari informasi di internet, pasti akan ada banyak versi penjelasan, mau dari pihak yang pro-Palestina atau pro-Zionisme Israel. Ada yang bertujuan untuk mengiring opini supaya berpihak kepada salah satunya dengan berbagai pendekatan.

Dan banyak informasi yang saya dapatkan, artikel demi artikel, studi tentang perpolitikan Timur Tengah, sampai tulisan seorang keturunan Yahudi.

Saya berasumsi, umat Muslim begitu antinya dengan Yahudi (atau Israel, masih abu-abu, karena keduanya berbeda), karena bangsa (Yahudi bisa merujuk bangsa atau agama) ini familiar di dalam ayat-ayat al-Qur-an dengan sifat pembangkangnya dan memusuhi Islam.

Mengapa ada ada dua sebutan? Mengapa kadang Yahudi mengapa kadang Bani Israil? Bisa jadi Israel dan Israil sama karena dalam abjad Arab tidak dikenal huruf ‘e”, itu asumsi saya.

Sebuah tulisan berjudul Bani Israil, Yahudi, Ibrani, Zionis dan Israel akhirnya menjawab pertanyaan itu. Dan orang-orang Israel pendiri negeri Israel bahkan tidak sama dengan Yahudi yang pada awalnya menetap di Palestina. Para Zionis diduga merupakan keturunan Khazar, ya mereka menganut agama Yudaisme dan bukan berdarah Yahudi. Mereka adalah orang-orang berdarah Eropa. Mereka memilih menganut Yudaisme karena pada waktu itu Arab menguasai daerah mereka di wilayah Rusia dan juga Kristen. Karena ingin netral maka dipilihlah Yudaisme itu. Disebutlah mereka Yahudi. Cukup berliku memang sejarah bangsa dan penganut Yahudi ini. Bagi saya menarik, terlebih konflik sekarang di Palestina mengarah ke agama. Janggal bagi saya ketika membaca bahwa Palestina bukan negara Islam, Israel bukan negara Yahudi. Dalam arti, di Palestina ada nonmuslim, di Israel ada umat non-yahudi. Lha, ini perang antaragama macam apa? Dan dengan fakta bahwa Palestina menjadi tanah sakral bagi orang Kristen juga-artinya 3 agama samawi (langit)-mengapa Kristen tidak ikut di sini? Mengapa hanya Yahudi dan Islam saja yang sibuk bertukar roket semenjak negara Israel diakui PBB? Maka saya rasa, konflik agama masih abu-abu bentuknya.

Negara Israel dibentuk jelas hendak menyatukan 12 suku Bani Israil yang tersebar ke mana-mana. Namun, banyak keturunan Yahudi yang tetap stay di tempat bermukimnya, dan agama mereka sudah bukan yudaisme lagi, bisa jadi ada yang masuk Islam atau agama lainnya. Mereka ini sudah punya dunia yang berbeda. Saya yakin, belum semunya berdatangan ke Israel. Dan mereka yang sudah resmi kembali, itu dari seluruh dunia.

Persenjataan kedua negara Israel memang tidak imbang. Pemerintah tentunya sudah memperkirakan, penduduk Israel akan sering mendapat serangan dari negara tetangga, maka mereka pun membuat inovasi-inovasi yang membuat saya terkagum-kagum. Luas wilayah Israel itu tidak ada apa-apanya dibanding Indonesia, tetapi untuk melindunginya saja butuh peralatan sedemikian mutakhir. Pengoperasiannya sudah menggunakan komputer, ada kelebihan dan kelemahannya. Yang namanya sistem berbasis komputer, musuh utamanya adalah hacker, yang bisa mengacaukan program dari kejauhan. Yang tidak kalah membuat saya bersiul kagum adalah IDF (Israeli Defense Power) yang tidak segan-segan merekrut kaum perempuan untuk ikut pelatihan militer dan memanggul senjata. Mereka tidak terlihat macho dengan badan kekar dan rambut dipotong pendek, tapi saya rasa, dengan penguasaan senjata dan juga bertarung dengan krav maga-seni bela diri yang amat populer di Israel yang kalah dilihat sekilas lebih mengandalkan pada pukulan cepat-membuat orang berpikir ulang sebelum mengisengi mereka. Para perempuan personel IDF ini juga ada yang pernah memamerkan foto-foto seksi mereka di facebook hingga mendapat teguran dari atasan mereka.

Selanjutnya, tentang sikap negara-negar tetangga yang sama-sama Arab yang kesannya tidak banyak membantu, sebut saja Arab Saudi, Suriah, Mesir. Banyak juga yang mempertanyakan Iran. Ah, penduduk mayoritas Iran bulanlah orang Arab, tapi Parsi. Mereka pengikut sekte syiah di mana dianggap berseberangan dengan sunni. Tapi bukan itu alasan mengapa Iran yang terkenal dengan keberanian menentang Amerika, tidak mau membantu. Tentu banyak pertimbangan. Soal ikut-ikutan perang, kalau yang jaraknya tidak begitu jauh, mungkin sanggup-sanggup saja. Tapi Jarak antara Iran dan Israel sangatlah jauh. Butuh biaya sangat besar untuk mengerahkan pasukan dan senjata. Dan pertimbangan pertahanan dalam negeri juga menjadi hal yang tidak bisa dikesampingkan. Iran punya senjata, tapi mereka bukan produsen senjata, nuklir mereka baru untuk tahap perlindungan diri sendiri. Dan lagi, belum tentu jika Iran memberikan bantuan “serangan” maka negara-negara tetangga akan mendukung, mengingat Amerika mendirikan beberapa titik militer. Banyak kepentingan yang harus dilindungi di sana sehingga Iran tidak gegabah melayangkan senjata ke Israel.

Sampai di sini, saya secara pribadi berada di posisi yang tidak menggebu-gebu membela Israel, atau membela Palestina. Lagi-lagi, ini bukan semata-mata perkara rebutan tanah suci.

Kawasan Palestina adalah kawasan yang sangat penting, kawasan yang strategis dari sisi politik, budaya, ekonomi; kawasan yang memiliki keistimewaan yang tiada duanya. Menguasai Palestina artinya menguasai semua jalur utama politik dan ekonomi dunia. Penguasaan atas Palestina berarti menguasai seluruh kawasan (Timur Tengah) dan kawasan Islami. Menguasai Palestina berarti menguasai brigde-head[1] di jantung dunia untuk menguasai semua bangsa. Dan tentu saja, penguasaan Palestina adalah cita-cita historis sebagian kekuatan-kekuatan Barat. (Ahmadinejad)

Masih ada lanjutannya di sini.

 

Jogja, 13 Juli 214

Leave a Response