Negasi Kebahagiaan; Sofi, Panji, dan Sebuah Kebahagiaan Tanpa Kemanusiaan

Negasi Kebahagiaan. Sumber gambar: pixabay.com

Berpindah dari kisah Jalu dan Bu Sari pada cerpen sebelumnya, Bella Fazrine membawa kita pada sebuah cerpen jebakan berjudul Negasi Kebahagiaan. Ada satu lagi cerpen jebakan lagi yang perlu diwaspadai, judulnya Bunga Ngarot yang Menjadi Layu.

Negasi Kebahagiaan dibuka dengan kebiasaan aneh dari ibu Sofi mengingat suaminya yang telah pergi dengan membuatkan bergelas-gelas kopi yang tak pernah diminumnya. Juga menggunting-gunting baju sang suami. Kopi adalah perlambang dari keromantisan keduanya. Menggunting-guntingi adalah sebuah ekspresi kemarahan yang tidak mampu terucapkan oleh kata-kata.

Malam itu sedalam dasar sumur, dengan sumber air dari mata Ibu yang seperti tak akan lelah. Berisik, tapi juga hening. Aku memungut tiap koyakan pakaian Ayah yang Ibu gunting tak beraturan. Berserak. Dilempar ke atas dipan, dihempaskan ke sudut dinding, dibuang ke tempat cucian piring, namun yang paling banyak; di dalam kamar.

Aku melangkah mundur, memberi Ibu jalan. Di dapur, Ibu kembali menyiapkan satu gelas kopi lagi sambil bersenandung kecil. Kemudian ia menghidu aromanya yang pekat lalu tersenyum dan berjalan ke luar rumah. Ditaruh gelas kopi yang masih mengepulkan asap itu di atas dipan. Dipan yang lebih sering digunakan untuk Ayah dan Ibu duduk berdua ketimbang digunakan untuk tidur-tiduran.

Sofi tidak sedikit pun berusaha menghentikan “keasyikan” ibunya setiap hari itu dan menganggapnya sebagai suatu hal yang bisa diterima akal sehat. Apakah ibu Sofi gila setelah ditinggal sang suami? Saya rasa tidak. Dia tetaplah sosok ibu yang waras dan menyayangi Sofi, menegurnya kala terlalu lama menarik becak yang dulu digunakan ayah Sofi.

“Sof, orang pasar bilang, kamu bawa becak Ayah seharian. Nggak kuliah kamu? Jangan buat Ayah kecewa di sana.”

Datar. Untuk kalimat seperti barusan, bahkan suara Ibu terdengar datar. Kemudian, Ibu mengedarkan tatap yang lagi-lagi hening, kosong. Kali ini aku ingin menaruh secuil saja perasaan pada hati Ibu. Agar tidak hening, tidak kosong.

Menarik becak bukanlah perkara mudah, apalagi untuk seorang perempuan. Namun demi menyambung hidup, itu dilakukannya sambil tetap kuliah. Bersama seorang bocah bersama Panji. Kedekatan Sofi dan Panji dipusatkan sejak gejala krisis moneter tampak ke permukaan. Orang-orang kay mulai memborong bahan pokok sementara harga barang terus naik. Hendak memastikan mereka tidak akan terjebak dalam perangkap kelaparan.

9 Januari 1998

Panji terengah-engah dari kejauhan. Setengah berlari aku menghampiri dan membantunya membawakan tiga kantong plastik besar yang ia genggam di tangan kiri. Usia Panji baru memasuki empat belas pada akhir tahun kemarin. Terpaut delapan tahun denganku.

Hari ini teramat ramai. Kudengar, mulai hari ini akan banyak aksi pembelian sembako secara besar-besaran oleh mereka yang berkemampuan ekonomi menengah ke atas. Harga sembako diramalkan akan melonjak sebentar lagi. Aku meringis menyaksikan becakku yang penuh oleh tumpukan gula dan kedelai. Ini memang pekerjaanku. Awalnya banyak yang meragukanku, meskipun postur tubuhku berisi dan atletis.

Becak ayah Sofi adalah salah satu yang sering dimuati barang-barang timbunan orang kaya. Sofi yang mengayuh pedal, dan Panji mengangkati barang-barang belanjaan dari Pasar. Begitu jam kuliah. Sofi akan menyimpan becaknya dan mengubah dirinya menjadi seorang mahasiswi.

Dari subuh aku sudah berada di pasar, setiap hari. Tas berisi perlengkapan kuliah dan pakaian ganti sudah kubawa. Biasanya, setelah dari pasar, aku akan titipkan becakku di ruko fotokopi.

Lalu siapakah Panji? Anak ini terbilang misterius dan pemikirannya selalu berseberangan dengan Sofi. Apakah dia hanya seorang bocah dengan ayah lumpuh dan bergantung pada ibunya. Mereka bertemu tidak lama setelah kepergian ayah Sofi.

“Kalau aku bekerja di pasar, tak ada yang mengurus Emak.”

“Kamu masih punya Bapak, Nji.”

“Bapak lumpuh.”

“Kalau begitu, ganti saja perkataanmu. Kalau kamu bekerja di pasar, tak ada yang mengurus Bapak. Lalu aku akan bilang, kamu masih punya Emak, Nji.”

Keduanya sering mengobrol tentang kebahagiaan. Bagi saya memang pada bagian ini terasa janggal. Mereka keluar dari karakter dua generasi muda dari kalangan kelas bawah yang membanting tulang demi bayaran tak seberapa, menjadi dua filsuf yang membahas kebahagiaan dan ketidakbahagiaan. Dan pada akhirnya definisi kebahagiaan adalah milik masing-masing individu. Kebahagiaan itu ada atau tidak, tergantung persepsi kita akan definisi kebahagiaan. Keduanya sering kali berputar-putar membahas itu tanpa pernah ada ujungnya. Setelah kembali ke dunia nyata, perkara kebahagiaan tidak lagi menarik bagi keduanya.

“Hanya orang-orang yang tidak berperasaan yang bisa bahagia pada dunia sekarang,” lengkapku.

“…Kemanusiaan adalah kebahagiaan. Kebahagiaan yang tak hanya wujud dari manusia yang berperasaan, namun juga manusia yang hening, yang kosong.”

Jawaban atas kepergian ayah Sofi dijawab secara perlahan. Bahwa krisis moneter berdampak dua kali lebih besar pada kalangan bawah. Mendapatkan makanan dengan harga standar saja masih harus mengutang, bagaimana jika harga melambung tinggi. Jika ada jalan pintas, mengapa tidak melewati jalan itu? Hidup Sofi dan ibunya adalah getir yang mewakili jutaan kalangan miskin di negara kita. Bagaimana agar perut ini tidak kelaparan, meski artinya harus meninggalkan kebahagiaan yang kita miliki untuk sebuah penderitaan dalam topeng kebahagiaan yang lebih besar.

Pakaian yang digunting-gunting, bergelas-gelas kopi penuh kenangan, becak yang menjadi jembatan untuk mendatangkan rezeki dari langit, Sofi yang pesimis dengan kebahagiaan hidup, hanyalah beberapa dari sekian cara untuk mengatakan bahwa kebahagiaan tanpa kemanusiaan hanyalah kekosongan belaka.

“…kemanusiaan terus mengalami penolakan bahkan ketika belum sempat disadari kehadirannya. Hingga dunia setua dan sedamai sekarang.”

 

Jogja, 12 April 2017