Nglangeran; Gunung Purba Tempat Trekking Favorit di Jogja

Nglangeran; Gunung Purba Tempat Trekking Favorit di Jogja
Nglangeran. Sumber gambar: wikipedia.com

Nglangeran atau gunung purba letaknya di Gunungkidul. Kami bersepuluh naik motor dan menempuh perjalanan sekitar 45 menit. Titik keberangkatan kami memang Jalan Wonosari, jadinya tidak terlalu jauh. Kami berangkat jam 07.30. Matahari sudah cukup terik tapi kami nggak peduli. The show must go on. Terik lebih baik ketimbang hujan untuk kasus ini. Sebagian besar teman-teman di rombongan gue sebenarnya sudah pernah datang ke tempat ini beberapa bulan lalu. Tapi karena kurang terorganisir, mereka hanya sampai pos 3 (sementara ada 5 pos jika mau sampai ke puncak). Kali ini, salah satu preparation yang harus dilakukan adalah sarapan. Karena dulu, mereka kelaparan ketika sampai dan itu pengaruh banget sama jarak yang mereka tempuh.

Kami konvoi melewati kilometer demi kilometer Jalan Wonosari yang cukup padat (mengingat ini weekend dan nggak cuma kami yang pingin piknik ke spot-spot wisata di Gunung Kidul. Perjalanan memang tidak ada yang berkesan karena gue sendiri udah beberapa kali lewat jalan ini. Cuma memang kami terbagi dua ketika sampai di perempatan GCD FM. Dua motor (termasuk gue nih) mengambil belokan ke kiri di mana sepertinya merupakan jalan alternatif yang cenderung lebih sepi ketimbang jalan utama. Konon katanya, rute ini lebih singkat dan memang sisa rombongan sampai lebih belakangan.

Untuk masuk ke objek wisata, tiket masuknya cuma Rp5.000 dan parkir motor Rp2.000. Murah dan rasanya kalau dipasang tarif mahal, semakin jarang orang yang datang kemari. Nglangeran ini mungkin memang belum sepopuler pantai-pantai di Gunung Kidul. Ya, ini hanya gunung. Dan bagi orang yang nggak niat banget, nggak bakal ke sini. Dan kalau lapar pun, di sini nggak ada semacam warung makan yang berjejer. Bawa bekallah dari rumah, air itu yang utama karena jarak trekking yang cukup panjang plus teriknya matahari itu adalah dua penyebab dehidrasi. Tapi inget, kalau ke sini (atau juga tempat wisata lainnya) jangan buang sampah sembarangan. Di tempat ini tersedia tempat-tempat sampah. Meski begitu, masih ada juga sampah yang bertebaran.

Di Nglangeran banyak titik yang bisa dipakai untuk foto-foto. Sebenarnya ini hanya semacam alasan untuk berhenti dan beristirahat karena jalan sekitar dua ratus meteran hahaha wajar orang kantoran yang kerja sehari-harinya duduk manis sambil maenin keyboard komputer. Oh ya, kalau Anda datang ke Nglangeran, pastikan Anda memakai sepatu, minimal sepatu kets dan maksimal sepatu gunung. Kalau setelah hujan, tanah menjadi lembek dan licin. Gue teringat medan yang harus gue lewati ketika ke Segara Anakan. Kurang lebih mirip tapi trek di Nglangeran bervariasi.

Ada jalan tanah, ada yang bersemen, ada celah sempit, ada jembatan dari batang pohon, dan bebatuan. Hati-hati dengan langkah Anda karena gue yang udah pake sepatu gunung pun bisa kepeleset ketika rute turun dan itu pas di batu lagi. Gila itu rasanya sakit banget. Gue pake celana jins dan memang sedikit meredam perih, paling besok memar (hahaha). Tapi gue nggak pake nangis lho, gue nggak nunggu ditolongin karena memang teman-teman gue udah cukup jauh di depan dan ada yang cukup jauh di belakang. Tapi yang di depan tahu kalau gue jatuh. Cukup sebatas itu.

Seperti yang tadi gue bilang, di Nglangeran ada 5 pos peristirahatan, walaupun kami bisa berhenti lebih banyak dari itu. Pos pertama itu mungkin 1 kilo pertama (atau bisa kurang) jarak dengan pos 2 cukup dekat. Demikian pula dengan pos 3, dan pos 4. Pos 4 terletak di puncak gunung ini.

Rasanya puas banget bisa sampai ke puncak Nglangeran. Apa yang langsung terlintas di kepala adalah berfoto bak habis menaklukkan negara jajahan baru. Ada 2 puncak yang kami injak. Di puncak pertama, kami bisa melihat lanskap hijau dengan tebing-tebing terjal dengan tower-tower menjulang lalu ada semacam dam di kejauhan. Awalnya kami mengira itu Telaga Ungu yang konon katanya hanya bisa dilihat oleh orang-orang berhati lurus. Gue udah ge-er, ternyata bukan hahaha (naseeebbbb!!!)

Di puncak yang kedua pemandangannya hampir sama, yang membedakan adalah posisinya yang lebih tinggi. Dan di sini, kami membuat video Harlem Shake dengan sekian kali take sampai kami kehabisan gaya mau ngapain lagi. Dan itu kami lakukan ketika jam tangan gue menunjukkan pukul 12.00. Kebayang deh panasnya kayak gimana. Tapi saking keasyikannya gue nggak peduli kalau sunblock itu hanya bertahan sekian menit menangkal sinar UV (nggak tiap hari ini kan panas-panasan).

Tantangan berikutnya setelah kami sampai ke puncak Nglangeran adalah turun. Yah, kelihatannya memang lebih mudah, tapi bayangin gimana harus menahan berat badan sambil jalan, palau pegangan sama dahan-dahan biar nggak kepeleset. Dan dengan sepatu yang alasnya sangat tebal, cukup menyiksa kaki juga. Tapi gue nggak berani berjalan dengan kaki telanjang dengan tanah yang sebagian bersemen dan sebagian tidak. Di Segara Anakan gue berani (meski itu karena satu-satunya solusi).

Untuk rute turun ada 2, melewati rute saat pergi tadi atau ke pos 5 yang baru setengah jadi lalu melewati celah sempit yang panjang dan gelap. Rute kedua ini mengasyikkan juga dan bikin deg-degan, takut nyangkut trus gue bernasib sama dengan yang di film 127 Hours (deuhhhh!!!)

Total waktu trekking kurang lebih 2 jam. Untuk orang-orang yang sudah terbiasa melalui trek ini tentunya bisa lebih cepat karena tahu shortcut yang orang awam nggak tahu dan ragu-ragu melewatinya. Seperti misalnya ada trek menuju Mata Air Comberan, ternyata itu adalah tebing yang sangat ekstrem dan untuk melaluinya kami harus berjalan ala Spiderman. Sebagian dari kami memilih untuk nggak melewati rute itu demi keamanan diri sendiri.

So far, trekking Nglangeran menantang dan berkesan. Silakan mencoba jika memang Anda pencinta trekking yang tidak biasa dan punya energi berlebih.

Yogyakarta, 13 April 2013, 20.48 WIB

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response