Nina’s Heavenly Delights (2006); Film Tentang Putri Chef India di Skotlandia

Nina’s Heavenly Delights (2006); Film Tentang Putri Chef India di Skotlandia
Nina’s Heavenly Delights (2006). Sumber gambar: IMDB

Nina’s Heavenly Delights adalah film LGBT India kedua yang saya tonton setelah Fire. Jika Fire bersetting di India sehingga para aktrisnya mengenakan sari sebagai pakaian keseharian, Nina’s Heavenly Delights mengambil setting Skotlandia dan pakaiannya lebih banyak Western.

Nina (Shelley Conn) adalah putri seorang chef berdarah India . Semenjak kecil, ayahnya telah mengajari memasak dengan menggunakan perasaan. Kedekatan ayah dan anak tidak berlanjut mulus ketika Nina beranjak dewasa. Ada sebuah masalah yang membuat Nina pergi. Alasan itu akan terjawab nantinya.

Sepeninggal sang ayah, restoran kebanggaan keluarga terancam berpindah kepemilikan. Calon pemilik baru adalah Raj dan putranya Sanjay. Nina yang tahu betul bahwa restoran The Taj adalah kesayangan ayahnya, berniat untuk memperjuangkan agar jangan sampai hal buruk terjadi. Di sanalah kenangan antara dirinya dan ayahnya tersimpan. Hingga digambarkan, roh ayahnya masih ada di sana. Sebab, di lain sisi, ada sesuatu yang belum dia selesaikan di dunia.

Di tengah kekalutan memenangkan kompetisi masak demi mempertahankan kepemilikan restoran, ada teman semasa sekolah yang menjadi dekat dengannya. Lisa (Laura MacKinlay) juga teman adiknya, Kary, memberikan perhatian lebih. Sabar menemaninya meracik menu-menu rahasia sang ayah. Tidaklah mudah. Nina harus memulai dari awal kembali, mencari kunci dari masakan sang ayah yang dulu pernah diajarkan semasa kecil. Berkali-kali ia mencoba ini-itu, akhirnya hanya masuk tempat sampat.

Kompetitornya, Sanjay, punya rasa kepercayaan diri yang tinggi. Restorannya memiliki menu andalan juga. Sebagai saingan, jangan berpikir dia akan melakukan sabotase sehingga segalanya menjadi kacau. Selama kompetisi yang diliput sebuah stasiun swasta, dia bekerja dengan fair, bahkan sendirian sementara Nina berdua dengan Lisa.

Konflik ketiga di Nina’s Heavenly Delights adalah persoalan coming out. Lama-kelamaan, sang ibu mencium ada ketidakberesan dari tingkah laku anaknya saat berdekatan dengan Lisa. Sepintar-pintarnya menyembunyikan, akan ketahuan juga. Cara mereka saling menatap dan bersentuhan sangat berbeda ketika Nina baru-baru saja tiba untuk pemakaman sang ayah. Ada bagian yang sangat emosional ketika Nina memilih untuk tidak berbicara tentang hubungannya. Konflik itu mencapai puncaknya ketika Lisa meninggalkan Nina di tengah-tengah kompetisi. Siapa sih yang ingin terus-terusan bersembunyi hanya untuk mencintai dan memiliki?

Ending dari Nina’s Heavenly Delights boleh jadi tidak sedramatis Fire yang membuat penonton menahan napas saking takutnya terjadi sesuatu pada pemain utamanya. Film ini memberikan kerenyahan dalam porsi yang cukup. Kesulitan saya mengikuti cerita sepanjang film ini adalah karena bahasa Inggris mereka tidak seperti tokoh-tokoh di I Can’t Think Straight, yang benar-benar pelafalannya jelas sehingga tidak membutuhkan bantuan subtitle. Saya rasa, kekurangannya hanya di situ.

Trailer Nina’s Heavenly Delights:

 

Jogja, 30 Agustus 2016

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response