Novel Sastra di Mata Para Pembaca Sastra Masa Kini

Wacana tentang karya sastra bukan barang baru lagi. Saya sebagai alumnus kampus sastra-yang mata kuliah, tugas kuliah, bacaan di waktu senggang selalu bersinggungan dengan karya sastra-menjadikan karya sastra (terutama prosa) sebagai teman sehari-hari. Sampai sekarang, di mana saya bekerja di sebuah penerbitan, berada di sebuah divisi yang lagi-lagi tidak jauh-jauh menghadapi karya sastra.

Apa definisi karya sastra? Apakah karya-karya Sir Conan Doyle bukan karya sastra dan Hemingway adalah karya sastra? Apakah karya Fira Basuki bukan karya sastra karena berunsur bahasa populer? Lalu akan muncul pertanyaan lanjutan, di mana batasan populer tidaknya? Apakah dari bahasa tokoh-tokohnya yang puitis, mendayu-dayu, penuh metafora? Dari bahasa narasi? Dari nama penulisnya?

Semakin membingungkan saja. Dulu, para dosen tidak pernah mengajarkan kami para mahasiswanya untuk menyanjung karya sastra serius lebih mulia ketimbang karya-karya yang ditulis lebih mendekati anak muda. Kami hanya diajarkan bagaimana mengkaji sebuah karya sastra dengan teori-teori yang sudah dirumuskan sebelumnya.

Semua karya sastra menjadi sama derajatnya di mata saya, yang membedakan adalah kualitasnya setelah dikaji dengan metodologi pengkajian sastra. Bukankah semua karya sastra prosa pasti mempunyai tema, tokoh, penokohan, alur, latar, dan pesan yang ingin disampaikan kepada pembaca? Apakah Fira Basuki pernah menghilangkan salah satu unsur tersebut di salah satu karyanya? Apakah Djenar Maesa Ayu pernah menulis novel tanpa tokoh? Lalu bagaimana cerita berjalan jika tanpa tokoh?

Gaya bahasa masing-masing penulis memang berbeda-beda. Shakespeare bertahan dengan karya-karya puitis, Nawal Sa’dawi dengan bahasa tegas dan bermuatan kritik sosial. Seno Gumira Ajidarma pun begitu. Punya kekhasan masing-masing. Sekarang saya sedang membaca sebuah novel karya JM Coetzee yang diterjemahkan dengan judul Aib. Dia adalah seorang sastrawan dari Afrika Selatan, menuliskan karya dengan bahasa yang sangat membumi dan novel ini memenangkan Nobel Sastra. Bacalah buku-buku yang berhasil merenggut penghargaan tertinggi di dunia sastra, apa iya ditulis dengan bahasa rumit dan melangit? Bagaimana bisa penulis menyampaikan kritik sosialnya melalui media novel jika bermasalah dalam media penyampainya, yaitu bahasa? Jika “lu” dan “gue” diharamkan penggunaannya dalam sebuah prosa yang memang menyoroti tentang kehidupan masyarakat Betawi, karena dianggap kurang berkelas, sehingga diganti aku-kamu dan malah terasa kaku seperti akting para pemain FTV yang setiap hari selalu menampilkan wajah baru, itu barulah sastra, barangkali opini itu sudah menyimpang jauh dari akarnya.

Dan saya rasa, semenjak awal pertama kali teori sastra diciptakan hingga terus berkembang hingga sekarang, posisinya selalu berada di bawah karya sastra. Karya dahulu, barulah teori mengikuti. Ketika karya sastra berkembang, teori akan ikut berkembang. Hanya teori tidak akan menjadi hukum (bersifat permanen). Penulis adalah Tuhan untuk karyanya. Dia bisa melakukan apa pun dengan karyanya sementara para kritikus tidak berhenti melakukan eksperimen atas semua hal-hal baru yang bermunculan. Aturannya seperti itu. Dan akan seperti itu.

Karya sastra muncul sebagai perwujudan rasa, observasi, kepedulian, bahkan ketidaksetujuan, dan sebagainya dalam sudut pandang si penulis akan sesuatu yang terjadi. Ada pesan yang ingin disampaikan secara eksplisit maupun implisit. Jika pesan itu tersampaikan dengan baik, maka itulah sebenar-benarnya karya sastra.

Yogyakarta, 25 September 2014

Nisrina Lubis

Nisrina Lubis

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response