Nyai Gowok (DIVA, 2014), Perempuan yang Memperkenalkan Seks

Nyai Gowok (DIVA, 2014), Perempuan yang Memperkenalkan Seks
Nyai Gowok (DIVA, 2014). Sumber gambar: divapress-online.com

Novel Nyai Gowok mengangkat tradisi nyantrik di masyarakat Temanggung era 1950-an, yaitu ketika seorang pemuda yang baru sunat diantarkan orang tuanya ke rumah seorang gowok untuk mempelajari cara bercinta dan memuaskan istrinya kelak. Tentu saja remaja yang disunat usianya sudah memasuki belasan, sehingga dirasa cukup bisa memahami dunia seksualitas itu sebenarnya. Lalu dalam benak saya, bagaimana dengan kaum perempuan? Bukankah mereka juga penting tahu bagaimana caranya melayani suami? Apa ada “pelatihan khusus” juga? Menarik jika memang ada dan sistemnya sama.

Kisah dibuka dengan kesibukan penduduk Randu Pitu menghadiri pasar malam gratisan, yang diadakan selama 7 hari 7 malam. Orang yang berbaik hati mengadakan hajatan besar-besaran adalah Ndoro Dono, karena putra keduanya, Bagus Sasongko, baru disunat. 3 hari sebelum disunat, hajatan itu dimulai dengan tujuan agar si Bagus mantap menjalani sunatannya. 4 hari berikutnya dianggap sebagai hari-hari untuk membuat si buat hati melupakan rasa sakit di bagian situnya.

Sebelum diantarkan untuk nyantrik, Bagus Sasongko harus melakukan ritual di depan makam Nyai Bayak Abang. Sosok ini, menurut cerita, membantu Pangeran Diponegeoro dalam peperangan. Sosoknya menyamar jadi laki-laki dan mengacaukan perhatian serdadu Belanda. Sosok ini mendapatkan porsi penceritaan cukup panjang, saya mencatat dari halaman 22-38. Bisa di-skip karena sama sekali tidak ada hubungannya dengan nyantrik yang akan dijalani oleh Bagus Sasongko.

Idealnya, seorang lelaki haruslah lelananging jagad (lelaki sejati), jangan ditafsirkan sebagai pria yang pemuas seks belaka. Sebaliknya, dia mampu menahan nafsunya dengan sangat baik. Lelaki sejati (hlm 40-43). Definisi lelaki sejati kembali dikuatkan menjelang bagian akhir novel ini, lihat saja di halaman 323: “Hargailah wanita, jangan sekali-kali memandang bahwa mereka hanya sekadar objek pemuas nafsu….”

Sebelum Bagus Sasongko bertemu dengan Nyai Gowok, sang kakak, Irawan sudah memberinya sedikit bocoran seperti apakah nyantrik itu. (hlm 10-11). Sementara Kang Bogang, memperlihatkan bagaimana proses kuda kawin, sosok ini pula identik dengan cerita-cerita saru yang disenangi para remaja akil baliq. Apalagi yang ia ceritakan kalau bukan seputar hubungan intimnya dengan sang istri yang berkulit gelap. Mitosnya, perempuan berkulit gelap memiliki titik sensitif di bagian paha. Ini tentu saja membuat Bagus makin penasaran.

Cerita kemudian berlanjut dengan bertemunya Nyai Gowok dengan Bagus Sasongko. Perempuan berdarah Cina ini mewariskan bakat neneknya yang seorang pioneer gowok, namanya Goo Wook Niang. Datang ke Indonesia, katanya bersama dengan Laksamana Cheng Ho, untuk memperkenalkan tradisi tersebut di tanah air. Benar tidaknya hal ini, masih perlu penelitian sejarah lebih lanjut, saya rasa.

Nyai Gowok tinggal di Desa Gowangan, sebuah desa terpencil, masih menjadi bagian Randu Pitu. Rumahnya digambarkan sangat asri dengan pancuran di belakang rumah. Kebutuhan sehari-harinya dibantu penyediaannya oleh Martinah. Dulu, Martinah pernah “diagendakan” untuk menjadi gowok, tapi hamil dengan salah satu muridnya. Nah, inilah menjadi poin pembeda antara gowok dan PSK (hlm. 261).

Meskipun Bagus Sasongko diserahkan kepada Nyai Gowok, tapi ternyata keperjakaannya malah direnggut perempuan lain. Kejadian itu tertulis di halaman 133. Sayangnya, sebagai novel kamasutra, adegan-adegan seksual terlalu ditutupi dengan berbagai perumpamaan bahkan singkat dan akhirnya hanya menjadi sebuah bagian yang sebatas informasi bahwa si A sudah bercinta dengan si B, lalu si A dengan si C. Jangan berharap pembaca akan “panas” seperti ketika membaca novel-novel erotis sekelas 50 Shades of Grey. Mengambil perumpamaan bercinta dengan mengupas mangga adalah sesuatu yang saya sendiri sulit memahaminya. Mungkin ada kekhawatiran akan terkena sensor oleh editor, tapi apakah menjadi alasan untuk menutupi totalitas dalam bercerita?

Itu salah satu poin yang saya catat dari novel setebal 332 halaman ini.

Perjalanan meimba ilmu ala Bagus Sasongko berlangsung selama hampir sebulan. Dalam waktu sesingkat itu, membuat seorang pria remaja berpikiran dewasa memang mustahil. Seandainya Budi Sardjono berani lebih mengeksplorasi seksualitas dan mengurangi penceritaan-penceritaan yang menghabiskan halaman, horizon harapan pembaca mungkin akan terpenuhi. Teknik-teknik yang terlalu didominasi narasi (telling) pun menjadi poin minus. Pembaca dipaksa untuk mengikuti jalan ceritanya, bukan terikat dengan cerita. Berbeda halnya jika memakai cara penceritaan “showing”.

Hubungan antara Martinah dan Bagus terasa hampa, padahal mereka sudah menghabiskan malam hingga tiga kali orgasme. Wow! Pagi harinya, mereka bersikap seolah tidak terjadi apa pun dan Nyai Gowok yang saya yakin tahu kalau keduanya sudah bercinta, tidak berkomentar apa pun. Why? Bagus masih berusia 15 tahun dan sudah kehilangan keperjakaannya lho. Masak nggak ada reaksi yang gimana gitu? Mungkin malu, atau apalah.

Usia tepatnya Bagus tidak disebutkan secara gamblang. Hanya Lurah Juwiring yang pernah menyebutkan jika kira-kira usia Bagus adalah 15 tahun. Saya pada awalnya malah mengira usia Bagus jauh lebih muda 2-3 tahun, dengan pembawaannya yang pendiam dan keluguannya sangat alamiah. Dia bukan tipe anak yang tahu soal seks sementara teman-temannya mulai ke arah sana. Bahkan setelah ia sudah mengalami mimpi basah. Tapi rupanya saya harus kembali menata ulang imajinasi saya.

Nyai Gowok kemudian membawa Bagus ke Yogyakarta. Saya tidak tahu untuk urusan apa. Mungkin melanjutkan pelajaran. Selama perjalanan, ada beberapa peristiwa yang terjadi. Diawali dengan munculnya sosok Lurah Juwiring yang tergila-gila pada Nyai Gowok. Bukan sekali dua kali memang para pejabat menginginkan Gowok menjadi istri simpanan. Gowok menolak sosok itu. Sang Lurah tak begitu saja menyerah. Ia mengikuti kereta yang ditumpangi Gowok dan Bagus dengan mobil sedannya. Saat benar-benar buntu, akhirnya ia bermain santet. Santet yang diwariskan oleh Sunan Kalijaga di saat muda dulu. Mantra itu membuat Gowok berbalik jadi “horny” sama si Lurah. Mimpi-mimpinya dipenuhi dengan adegan seks bersama si Lurah, tapi dituntaskan oleh Bagus. Sadar berada di bawah pengaruh santet, Nyai Gowok pun mendatangi seorang abdi dalam keraton untuk minta penawarnya. Diberilah mantra Dandanggula sebagai penawar yang super manjur.

Ada yang menjadi pertanyaan di benak saya mengenai perjalanan Gowok dan Sasongko ke Yogyakarta. Di halaman 145, Ndoro Dono datang dan tiba-tiba mengatakan kalau ia tahu putranya akan dibawa ke Yogyakarta. Mungkin saya yang tidak menyimak, atau buku yang saya pegang ada halaman hilang, saya tidak ingat kapan dan Gowok mengatakan hal itu pada orang lain. Dan pada bagian ini juga saya heran, mengapa Ndoro Dono jadi genit sama Gowok? Di bagian awal novel, saya merasakan sisi karismatik sang Ndoro.

Ndoro Dono juga sempat mencium Gowok hingga membuat perempuan itu merah padam mukanya. Tapi paragraf terakhir membuat dahi saya berkerut:

Wajahnya merah padam. Ia hanya mengangguk-angguk. Meski hatinya merasa tidak tenang, ia tidak marah. Ia anggap ciuman itu dari bapaknya. (hlm. 154).

Untuk apa kalimat wajahnya merah padam? Bukankah merah padam terasosiasi dengan marah? Terlebih jika itu dianggap hanya ciuman dari bapak ke anak? Anak macam apa yang mukanya merah padam dicium bapaknya? Maafkan jika logika saya sempit. Tapi itulah yang saya pahami.

Klimaks dari novel ini adalah Bagus mulai tahu bagaimana caranya memulai percintaan yang mampu memuaskan perempuan. Ada 3 prinsip yang diajarkan oleh Gowok, berasal dari Rahasya Sanggama. Kitab dari Bali, bahwa lelaki bisa memuaskan perempuan dengan 3 cara, tangan, lidah, dan tentu kemaluannya. Menarik, tentunya akan semakin menarik jika mengambil filosofi dari tanah leluhur Gowo sendiri kan? Bukankah Cina punya filosofi seks yang juga menarik untuk dikaji?

Nah, membaca novel ini memang hanya butuh kurang dari 8 jam, tetapi membuat catatan di beberapa bagian mau tidak mau membuat saya meluangkan lebih banyak waktu lagi. Sebenarnya saya hanya harus mencatat perihal tokoh dan penokohan di novel ini sebagai bahan diskusi, tapi tidak masalah jika akhirnya saya membuat catatan tersendiri. Hitung-hitung melatih teori resepsi saya. Hm, teori zaman kuliah….

Saya beri rating 2, sebenarnya 3 jika muatan seksualitasnya lebih banyak.

 

Yogyakarta, 1 Juni 2014

Leave a Response