Obituari Rindu dan Pembebasan; Kisah si Tawanan yang Dibenci Selama Bertahun-tahun

Obituari Rindu dan Pembebasan; Kisah si Tawanan yang Dibenci Selama Bertahun-tahun
Obituari Rindu dan Pembebasan. Sumber gambar: pixabay.com

Kita lanjut lagi ke cerpen kelima berjudul Obituari Rindu dan Pembebasan karya Dhanica Rhaina. Sebuah cerita yang cukup misterius hingga sebaiknya saya rahasiakan pula identitas Jalu dari para pembaca. Dari sudut pandang Jalu, yang menganggap dirinya telah ditawan belasan tahun lama oleh Bu Sari. Sosok perempuan yang begitu membenci keberadaan Jalu dalam kehidupannya.

Bu Sari, menyimpanku di rumahnya. Tapi, bagi diriku sendiri, aku seperti tawanan untuknya. Aku tak pernah diizinkan keluar. Aku bahkan sudah lupa seperti apa rasanya dibelai. Hanya sesekali aku keluar dari tempatku saat ini. Itu pun saat ia menyentuhku, tangannya yang tua dan kasar, tak seperti pertama kali kami bertemu sembilan belas tahun yang lalu.

Tentu itu beralasan, tapi biarlah saya simpan jawabannya dan pembaca akan tahu begitu membaca keseluruhan cerpennya. Sebelum membahas lebih lanjut, saya perkenalkan dulu dengan beberapa tokoh yang menjadi penyambung alur kisah Obituari Rindu dan Pembebasan.

Tadi saya sudah menyebut Jalu yang hidupnya pada awalnya bahagia berada di tengah-tengah keluarga hangat Pak Wira. Dia menjadi narator sekaligus membawa kita memasuki beberapa pergantian suasana hingga masuk pada penutup yang memilukan.

Dulu aku tinggal di sebuah rumah sederhana tapi penuh dengan kehangatan, tawa anak-anak, serta belaian setiap pagi, dan juga malam hari menjelang waktu tidur.

Tokoh kedua adalah Bu Sari. Sosok perempuan digambarkan dingin dan begitu membenci keberadaan Jalu dalam hidupnya. Bu Sari tidak bisa menafikan bahwa kehadiran Jalu dalam kehidupannya tidak lebih dari sebuah bencana sekaligus pembawa kesedihan mendalam. Yang itu disimpannya sendiri.  Selama cerita ini bergulir, Bu Sari memilih bungkam ketimbang mengadukan kesedihannya pada orang lain. Usianya tak lagi muda kala pertama kali bertemu. Dia bertahan hidup bersama kenangan yang ada dalam pikirannya. Di sini pembaca mulai akan berpikir, kepada siapa akan mulai berpihak. Jalu ataukah Bu Sari.

Ah, andai kalian tahu perasaan dan kondisiku, pasti kalian akan sangat iba padaku. Tapi tenang saja, aku tidak selalu merasa tersiksa. Sebab, terkadang, saat Bu Sari pergi ke kamarnya, atau sedang duduk di teras rumah sembari membolak-balik album tua dan minum segelas teh herbal, aku membiarkan diriku masuk ke dalam kenangan sebelum aku bertemu dan ditawan olehnya. Kenangan itu membuatku bahagia. Sungguh!

Tokoh ketiga adalah Pak Wira. Seorang lelaki yang hangat. Seorang aparat penegak hukum yang menghormati perkara senioritas, meskipun tidak sedikit di luar sana orang yang berusaha mencari muka demi naik jabatan atau menjadi anak kesayangan atasannya. Dia bersabar menunggu giliran untuk memperlihatkan tanggung jawabnya mengayomi masyarakat dan meredam kekacauan. Dengan penuh keyakinan pada dirinya sendiri dan juga Jalu, Pak Wira menunggu waktu bergulir.

“Hari ini kita akan sedikit repot, Jalu. Jika saja kemampuanku layak dipertimbangkan, mungkin pagi ini kita sudah terbang ke Kendari atau mungkin juga ke Bali. Ah, sayangnya seniorku yang mendapatkan promosi. Tapi tidak apa, suatu hari nanti, kita pasti akan dipertimbangkan untuk menangani hal besar. Ya, suatu hari nanti!” katanya dengan mata berbinar dan suara penuh semangat.

Jalu sempat menyebut nama Fajar sebagai awal mula pertemuannya dengan Bu Sari. Tapi biarlah tidak saya buka terlalu banyak, selain dia adalah putra dari Bu Sari yang sangat dicintainya. Fajar, pemuda segar bugar yang seharusnya menjadi satu-satunya sumber kebahagiaan sang ibu. Menjadi tempat bersandar di kala usia senja telah datang.

Pertemuanku dengan Bu Sari berawal dari pertemuanku yang tanpa sengaja dengan Fajar. Putranya yang sangat ia cintai melebihi kebenciannya padaku tentunya. Sosok itu begitu pucat.

Padahal, sosok itu jika aku lihat dengan jelas, memiliki postur tubuh yang ideal. Kulitnya bersih, berahang tegas, berhidung mancung, beralis tebal, dan terlihat masih muda. Belum usai aku mengamatinya, aku sudah berpindah tempat ke tempat yang lebih sempit. Saat itulah, aku bertemu dengan Bu Sari.

Antara Jalu, Pak Wira, dan Bu Sari saling berkaitan walaupun antara Pak Sari dan Bu Wira tidak pernah saling kenal. Jalu adalah jembatan di antara keduanya. Sepanjang cerita ini, kita akan mendapatkan kesan dramatik yang kurang seimbang. Saya tidak menemukan ekspresi kehilangan dari sisi Pak Wira semenjak ditinggal Jalu. Di sisi yang lain, Bu Wira menjadikan Jalu sebagai tempat untuk menyalahkan keadaan, memuntahkan kemarahan dan kesedihan yang tidak mampu terkatakan oleh bibirnya. Bahkan untuk dituliskan. Sulit untuk dimaafkan.

 

Jogja, 11 April 2017

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response