Orang Yahudi; Membela Bangsanya dengan Alasan yang Kuat

Orang Yahudi; Membela Bangsanya dengan Alasan yang Kuat
Orang Yahudi. Sumber gambar: pinterest.com

Ini adalah sambungan dari tulisan sebelumnya, Negara Israel; Negara yang Mengundang Kebencian Umat Islam. Sekarang akan dibahas tentang orang Yahudi.

Rasanya, membaca begitu banyak artikel tentang Israel, tentang Yahudi, tentang bangsa yang begitu hebatnya sampai disebut-sebut dalam kitab suci agama saya, tidak pernah cukup sampai di titik, saya harus bertanya pada orang Yahudi sendiri. Buat apa kalau hanya tahu dari satu sutu pandang saja? Beberapa memang artikel yang sifatnya netral, tapi itu ditulis oleh seorang muslim.

Mbak Nina yang kemudian memberikan saya jawaban-jawaban dan begitu banyak pertanyaan yang kirimkan lewat pesan pribadi. Dia seorang keturunan Yahudi berdarah Indonesia dan bermukim di luar negeri. Kepada dia, saya tidak bertanya dengan tujuan merendahkan Yahudi, karena saya tidak tahu apa untungnya itu. Saya, dalam hal ini, benar-benar ingin tahu banyak hal. Saya pun membenci perdebatan antaragama, karena itu sama saja membenturkan dua batu karang yang sama-sama kokoh. Dia sosok yang sangat terbuka, punya wawasan luas, dan tidak arogan. Arogan? Ya, arogan yang menurut saya memuakkan. Tapi, saya yakin, ketika Anda membaca tulisan saya ini, Anda akan bisa merasakan “arogan” ala orang Yahudi dan itu menurut saya sah-sah saja.

Karena pertanyaan-pertanyaan saya untuk Mbak Nina cukup panjang, dan terlebih jawaban yang dia berikan juga sama bahkan lebih panjang, maka artikel ini akan saya bagi dua. Ini bagian pertama, pertanyaan-pertanyaan saya lebih banyak mengarah pada Negara Israel dan para penduduknya. Oh ya, tidak semua pertanyaan saya memang dijawab oleh Mbak Nina, karena pertama, mungkin kendala bahasa (tidak begitu lancar berbahasa Indonesia termasuk memahaminya), kedua, menurut dia tidak begitu penting, ketiga, tidak mengetahui jawabannya. Apa pun yang telah dia tuliskan, sangat saya hargai dan dia membuat saya tidak perlu merasa takut, ya, karena tidak ada yang perlu ditakutkan dari bangsa Yahudi atau bangsa mana pun, setipis apa pun iman di dalam hati. Setuju ya?

Baik, saya mulai.

Kita tahu bahwa di mata PBB, Israel sudah punya merupakan sebuah negara berdaulat, yang awalnya tiada menjadi ada. Lucu dong kalau negara Israel penduduk mayoritasnya muslim. Keturunan bangsa Yahudi di dunia ini memang tidak begitu banyak, dan lagi mereka terpencar ke mana-mana. Oke, mereka berusaha untuk dikumpulkan, tapi bagaimana caranya? Pakai penanda apa?

Jawabannya adalah gen. Para ilmuwan sudah melakukan penelitian dan dikatakan bahwa di dalam gen orang Yahudi, ditemukan adanya unsur yang sangat spesifik, meskipun mereka berbeda ras. Jadi, bisa dikatakan, orang Yahudi yang dimaksudkan adalah mereka yang punya kesamaan gen, bukan agama. Orang yang masuk agama Yahudi, tidak mungkin serta-merta mengubah gennya kan?

Pertanyaan kedua saya adalah, apakah negara Israel ini sebenarnya hanya ditujukan untuk orang-orang Yahudi?

Anda bisa menebak jawabannya, mungkin, tapi apa berarti negara ini tertutup untuk umat non-Yahudi? Tidak juga. Israel ini anggaplah seperti Vatikan yang dimiliki umat Katholik, dan Makkah yang dimiliki umat Islam (nb: Makkah memang bukan negara). Intinya, orang Yahudi menganggap itu adalah tanah mereka, toh di sana ada muslim, ada Kristen, ada ateis, Hindu, Buddha, tidak dilarang.

Setelah negara Israel berdiri, maka berbondong-bondonglah orang datang ke sana. Ini pun saya tidak paham, kok mau ya mereka itu diminta pulang ke Israel jika memang sudah punya kehidupan yang settle? Tidak seekstrem itu sebenarnya. Israel ya negara, tidak ada bedanya sama Indonesia. Bahkan, bukan berarti asal Yahudi maka ia bisa tinggal. Tentu ada persyaratan menjadi warga negara. Orang-orang yang tidak memenuhi persyaratan pendidikan, finansial, dan sebagainya bisa jadi sulit masuk ke sana. Bener juga sih, daripada jadi gelandangan dan pengangguran di wilayah yang kurang lebih hanya sebesar Provinsi Yogyakarta itu.

Dengan adanya aturan menjadi warganegara, itu kemudian menjadi penegasan bahwa pemerintah bukan memanggil mereka datang dan menanggung biaya hidup mereka Mereka dipilih. Mereka benar-benar memulai kehidupan yang baru di sana, bekerja, menghidupi keluarga dan sebagainya. Seorang imigran Israel bisa saja mendapatkan bantuan dari pemerintah, sifatnya hanya sementara dan tidak berlebih-lebihan.

Saya mengajukan pertanyaan yang cukup sensitif, memasuki ranah agama, ketika membuat pertanyaan ini, yang hanya sebaris, saya berpikir cukup lama, layakkah saya ajukan karena takut akan menyinggung dia. Alhamdulillah, Mbak Nina menjawab dengan diplomatis. Saya pun lega.

Saya bertanya begini: Apa yang sebenarnya orang Yahudi¬†cari di dalam Masdijil Aqsha? Bagi saya, itu masjid bersejarah, kiblat pertama umat Islam, Isra’ Mi’raj pun di sana. Dan Israel merongrong masjid itu.

Yahudi berpegang pada kitab Taurat (kitab yang diturunkan pertama kali pada Nabi Musa), yang menyebutkan bahwa di bagian bawah masjid adalah sebuah area yang disebutkan dalam Taurat. Milik Yahudi. Di sini, saya menahan diri untuk bertanya, karena saya tahu, saya akan tergoda untuk mendebat, itu saya hindari karena bukan tujuan saya untuk memancing perdebatan. Saya bertanya baik-baik untuk menghilangkan pertanyaan, bukan membuat masalah. Namun memang, meskipun ada penguat di dalam Taurat, tidak semua Yahudi sepakat bahwa itu berarti harus merusak tempat ibadah umat lain.

Berlanjut ke pertanyaan selanjutnya, soal daerah yang dikuasai Israel. Bagaimana pun juga, Israel itu negara kecil, penduduknya tidak sedikit. Maka apa yang bisa dilakukan ketika penduduk semakin bertambah? Memperluas wilayah adalah solusi. Para penduduknya butuh tempat tinggal dong. Meski pendapatan yang menjanjikan, kalau tempat tingalnya tidak layak, siapa yang mau bekerja di sana? Pemerintah sudah memperhitungkan semuanya, dan tentu ada harus dikorbankan.

Berkaitan dengan beberapa pertanyan sebelumnya, mengapa ada keturunan Yahudi yang kembali ke Israel dan ada yang tidak (Mbak Nina ini salah satunya yang menetap di luar Israel). Jawaban dia membuat saya tertegun. Bahwasannya Messiah datang dalam posisi Yahudi menempati tanah Israel sesuai dengan apa yang tertulis dalam Taurat. Bangsa Israel siap menyambut Messiah, yang dalam agama Islam diartikan sebagai Nabi Isa.

Pertanyaan saya yang berikutnya, terdengar cukup konyol, saya pun tidak percaya bisa mengajukannya. Semoga Mbak Nina tidak terpingkal-pingkal membacanya. Saya menanyakan ini karena tidak paham dengan konsep keturunan Yahudi. Mungkinkah mereka ini punya kesamaan? Nenek moyang Yahudi ada sejak ribuan tahun lalu. Keturunan Yahudi yang datang ke Israel apakah harus melewati pemeriksaan khusus? Saya membayangkan mereka harus melakukan tes DNA terlebih dahulu. Betapa repotnya.

Lagi-lagi Mbak Nina menyatakan, Israel bukan negara Yahudi, bahkan sekuler. Anggaplah mungkin seperti Turki. Israel bukan seperti Vatikan yang didominasi Katholik. Mbak Nina juga menyebut Makkah, karena sama-sama didominasi agama tertentu tapi Makkah bukan negara sih. Atau Thailand yang dikuasai Buddha, Hindu di India. Selain perkara gen, Mbak Nina pun mengatakan, sesama orang Yahudi itu bisa saling mengenali. Ada semacam insting. Ini menarik buat buat saya. Betapa hebatnya mereka hingga bisa sampai segitunya. Kita mungkin tidak akan punya kemampuan seperti itu. Rahasianya apa ya?

Saya rasa, setiap bangsa tentu dianugerahi kelebihan masing-masing oleh Tuhan, sebagai bangsa yang disebut sebagai kekasih Tuhan, rasanya wajar-wajar saja, hampir semua nabi diutus dari keturunan Bani Israil. Interaksi saya dengan Mbak Nina masih berlanjut di bagian kedua.

Ingin tahu tentang budaha Yahudi, ada di sini.

 

Yogyakarta, 14 Juli 2014

Leave a Response