Out in the Dark (2012); Cinta Pengacara Yahudi dan Mahasiswa Palestina

in Film/Film LGBT by
Out in the Dark (2012); Cinta Pengacara Yahudi dan Mahasiswa Palestina
Out in the Dark (2012). Sumber gambar: IMDB.

Out in the Dark meraih kemenangan di sejumlah festival film, antara lain Berlin Jewish Film Festival 2013, Festival Mix Brasil 2013, FilmOut San Diego, US 2013, Guadalajara International Film Festival 2013, Haifa International Film Festival 2012, Long Island Gay and Lesbian Film Festival 2013, dan Miami Gay and Lesbian Film Festival 2013.

Film berdurasi 96 menit yang disutradarai oleh Michael Mayer ini datangnya jauh dari negara yang sampai sekarang kita tidak punya hubungan diplomatik, Israel. Hubungan cinta yang terjalin di dua negara, Israel dan Palestina merupakan tema yang sangat banyak diangkat. Dua negara yang saling berkonflik sejak tahun 1967 alias semenjak dunia merestui berdirinya negara Israel di atas negara Palestina yang tidak berdaya. Di tengah kebencian yang sama-sama tumbuh, ada cinta yang bukan isapan jempol belaka. Ini memang terjadi di sana. Entah itu hubungan heteroseksual maupun homoseksual. Yang pernah saya tonton adalah A Borrowed Identity dan Omar.

Aneksasi Israel memuat interaksi antara orang Israel dan Palestina sangat tinggi, meskipun Israel memberikan aturan sangat ketat bagi orang Palestina masuk ke negara mereka. Hingga untuk masuk diam-diam, harus tahu strateginya. Di suatu malam, Nimer—seorang mahasiswa Palestina—datang ke sebuah bar gay dan berkenalan dengan seorang pemuda Israel bernama Roy. Nimer menyembunyikan orientasi seksualnya dari orang tuanya, sementara Roy sudah terbuka. Pertemuan mereka tidak terjadi apa-apa. Nimer harus kembali ke Ramallah yang jaraknya 10 kilometer dari Tel Aviv.

Di dalam klub itu, Nimer punya kenalan seorang waria Palestina bernama Mustafa. Pria inilah yang kemudian mencarikan tempat tinggal untuk Nimer yang akan mengambil kursus di Israel. Nimer tipe akademisi, sementara kakaknya anti-Israel dan menjadikan rumah mereka sebagai gudang senjata. Sering kali keduanya berdebat karena perbedaan pandangan keduanya.

Seiring dengan perjalanan waktu, Nimer dan Roy akhirnya menjadi sangat dekat. Tentu saja, Nimer menyembunyikan hubungan cintanya dari keluarga yang jelas tidak akan pernah merestui yang begituan. Kedua orang tua Roy menerima pilihan hidup anak satu-satunya mereka, tapi tidak dengan kenyataan bahwa pacar anaknya berasal dari negara musuh.

Masalah-masalah yang kemudian muncul dalam Out in the Dark antara lain adalah izin tinggal Nimer yang dicabut paksa, perlindungan hukum terhadap pasangan gay, soal agen rahasia Israel yang mencurigai kakak Nimer sebagai teroris, hingga tawaran menjadi mata-mata demi sebuah izin tinggal. Nimer harus melihat bagaimana seorang LGBT dihabisi dengan kejam. Hubungan cintanya memancing begitu banyak kesulitan. Tapi Roy pun tidak mau melepaskannya begitu saja.

Oh ya meskipun dalam cerita, Nimer adalah orang Palestina yang identik dengan Arab, pemerannya tentu saja tidak benar-benar orang Arab. Lagi pula bagi orang awam, memangnya bisa membedakan mana Israel mana Palestina, wong nenek moyangnya sama. Keluarga Nimer pun tidak digambarkan terlalu religius, hanya saja tidak menyukai Israel.

Ending film Out in the Dark memang sengaja membuat penonton untuk kembali pada realitas bahwa cinta mungkin menang dalam perjuangannya, tapi kemungkinan yang lain adalah kalah. Cinta dua negara yang saling bermusuhan saja berat, terlebih masih ditambah keduanya sesama jenis. Sulit mencari titik terang. Butuh pengorbanan yang teramat besar. Saya bersimpati pada Roy yang dia sudah mapan, punya pekerjaan, mencari pacar dari bangsanya sendiri pun sangat bisa, tapi ketika dia memilih Nimer, dia tidak menyia-nyiakan. Kesan gay yang mudah one night stand tidak ada di film ini. Roy dan Nimer sama-sama pria baik yang dilanda cinta.

Trailer Out in the Dark

Jogja, 29 November 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*